KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sektor perkebunan masih menjadi tumpuan utama perekonomian Kalimantan Timur (Kaltim). Khususnya kelapa sawit yang terus mendominasi dengan luasan mencapai 1,47 juta hektare pada 2024. Dari luas tersebut, produksi Tandan Buah Segar (TBS) tercatat sebesar 18,67 juta ton.
Dalam laporan terbaru per akhir September ini, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Yusniar Juliana, menuturkan bahwa hasil produksi TBS tahun lalu memang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan capaian 2023.
Pada 2023, luas tanaman kelapa sawit mencapai 1,33 juta hektare dengan produksi sebanyak 20,71 juta ton TBS. Mengalami peningkatan produksi dibanding tahun sebelumnya.
Meski terjadi penurunan, sentra sawit di Kaltim masih terfokus di Kutai Timur. Daerah itu menguasai lebih dari 40 persen luasan sawit, tepatnya 41,57 persen dari total perkebunan sawit di Bumi Etam. "Disusul Kutai Kartanegara yang mencatat kontribusi 18,46 persen, serta Berau dengan 14,92 persen," jelas Yusniar.
Sementara itu, Paser menempati posisi keempat dengan pangsa 14,80 persen, kemudian Kutai Barat 6,60 persen, dan Penajam Paser Utara 3,14 persen. Peta persebaran tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh produksi sawit Kaltim masih bertumpu pada wilayah Kutai Timur dan sekitarnya.
Selain sawit, BPS Kaltim mencatat sejumlah komoditas perkebunan lain juga menjadi penopang. Di antaranya karet dengan luas 115,817 hektar dan produksi 73,580 ton. "Kopi dengan luas 1,345 hektare menghasilkan 170 ton. Sementara kakao seluas 7,630 hektare mencatat produksi 2,543 ton, dan lada seluas 7,729 hektar dengan produksi 5,080 ton," rincinya, Selasa (30/9).
Menurut Yusniar, sektor perkebunan tetap berperan strategis bagi ketahanan ekonomi Kaltim. Perubahan tren produksi hanya terjadi pada sawit yang sedikit turun, sedangkan komoditas lain relatif stabil.
"Luas tanaman perkebunan lainnya pada tahun 2024 tidak mengalami perubahan dan terjadi penurunan produksi, kecuali kopi dan kakao yang mengalami peningkatan luas dan produksi dibandingkan tahun sebelumnya,” paparnya.
Dengan kondisi tersebut, ditekankan pentingnya strategi peningkatan produktivitas. Peremajaan sawit rakyat (PSR) serta hilirisasi dinilai menjadi kunci untuk menjaga daya saing komoditas unggulan Kaltim di pasar global. (*)
Editor : Duito Susanto