Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Langkah Hijau dari UMKM Bumi Etam, Emianty: Menjahit Nilai Jadikan Plastik Bekas dan Karton Susu Lebih Bermakna

Raden Roro Mira Budi Asih • Kamis, 30 Oktober 2025 | 23:06 WIB
MEMULAI: Emianty tak akan pernah tahu jika tak memulai untuk mencoba. Dari sekadar mengolah sampah plastik pribadi, menjadikannya lebih bermakna dan memiliki nilai ekonomi.
MEMULAI: Emianty tak akan pernah tahu jika tak memulai untuk mencoba. Dari sekadar mengolah sampah plastik pribadi, menjadikannya lebih bermakna dan memiliki nilai ekonomi.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Di workshop persis belakang rumahnya, Emianty memanaskan setrika di atas meja kecil. Di tangannya bukan kain, melainkan lembaran plastik bekas warna biru, oranye, ungu hingga hijau yang dia tata. Kemudian bagian atas dan bawah plastik dilapisi kertas oven.

Sebentar lagi, semua itu akan berubah rupa jadi sesuatu yang baru. Gantungan kunci, dompet kartu, atau kantung kecil ramah lingkungan. Terdengar bunyi renyah plastik yang ditekan di bawah panas setrika, kemudian lahir karya unik khas Moy Handmade.

“Hidup itu enggak semudah tutorial. Semua harus dicoba sendiri, trial dan error,” ujar perempuan yang karib disapa Emi itu sambil tersenyum, mengingat masa-masa awal eksperimennya dua tahun lalu.

Dia tak sekadar menjahit kain. Emi menjahit ulang cara pandang terhadap limbah. Melalui Moy Handmade, dia berusaha menanamkan nilai baru, bahwa sesuatu yang dianggap sampah bisa disulap menjadi produk bernilai tinggi. Asal mau belajar dan berproses.

Awalnya, hanya ingin mencari pembeda. Dia mengaku, setelah bertahun-tahun menjalankan usaha berbasis jahit, pasar di Samarinda terasa jenuh. “Kalau mau bikin barang mahal pun, yang beli itu-itu saja. Jadi saya mikir, apa ya yang bisa beda, tapi tetap bisa dijangkau?” katanya, Senin (27/10).

Inspirasi datang dari Pinterest, gudangnya ide kreatif. Di sana dia melihat banyak perajin luar negeri yang memanfaatkan plastik bekas menjadi bahan baru. “Saya pikir, kayaknya gampang deh, di sekitar kita kan plastik (bekas) banyak,” tutur ibu dua anak tersebut.

Namun praktiknya tak segampang kelihatannya. Emi harus mencoba berulang kali sampai menemukan suhu setrika yang pas, bahan pelapis yang tepat, hingga teknik menekan yang membuat plastik tidak kusut. “Awalnya malah gosong. Ada yang malah menggumpal. Tapi lama-lama ketemu juga caranya,” ujarnya sambil terus menekan setrika.

Hasilnya adalah lembaran plastik yang halus, lentur, dan kokoh. Nyaris tak terlihat lagi sebagai limbah. Dari sanalah muncul aneka produk kreatif. Harga yang ditawarkan mulai Rp35 ribu-Rp80 ribu.

Bermula dari Kelas, Berlanjut Jadi Usaha

Ketertarikan Emi pada bahan bekas bermula dari kelas art and craft yang dia ajar di salah satu sekolah swasta di Samarinda. “Saya mikir, masa anak-anak cuma diajar bikin kertas digulung terus. Harus ada hal baru,” kenangnya. Dari situlah dia mengajak murid-muridnya bereksperimen dengan bahan sekitar.

“Ternyata dari situ seru juga. Anak-anak suka, mereka belajar pakai yang ada di rumah tanpa keluar uang,” terang perempuan kelahiran 1977 itu. Tak disangka, ide yang lahir dari ruang kelas itu berlanjut menjadi bisnis serius.

Awalnya, produk dari plastik itu hanya dijadikan suvenir gratis untuk pembeli produk utamanya seperti dompet dan tas. “Orang-orang malah heran, terus tanya, serius ini dari kresek? Lama-lama pada bilang bagus dan mau beli,” cerita Emi saat ditemui di Cabin 54, nama workshop tempatnya menghabiskan waktu berkreasi dan menjahit, di Jalan AW Syahranie Samarinda.

Dia sempat menjual lewat marketplace dan mendapat sambutan positif. “Lumayan. Ternyata pasarnya ada, walau masih segmented,” celetuk Emi. Dia kini kembali ke meja kerjanya, mengambil cutting mat dan bersiap membuat gantungan kunci dari plastik.

Bagi Emi, produk dari limbah bukan sekadar soal jualan. Tapi tentang kesadaran. “Saya mulai dari rumah sendiri, pakai sampah plastik sendiri. Bahkan teman-teman saya itu kalau punya plastik warna-warni, yang diingat langsung saya!” tuturnya lalu tertawa kecil. Kesadaran kecil itu juga disebarkan ke anak-anaknya hingga murid-muridnya.

Dia menyadari bahwa kampanye lingkungan tak akan berhasil kalau tidak dimulai dari kebiasaan pribadi. “Saya lebih menghargai orang biasa yang benar-benar hidupnya ramah lingkungan, daripada yang cuma kampanye di media sosial,” sambungnya.

Komunitas sebagai Rumah Ide

Perjalanan kreatif Emi juga tak lepas dari peran komunitas. Dia tergabung di dua kelompok, pertama Puan Senja (Perempuan Senang Jahit). Sesuai namanya, komunitas bagi penggemar jahit, mulai yang hanya hobi hingga untuk ekonomi. Lalu Mosfia, wadah kolaborasi tiga brand lokal (termasuk dirinya) yang rutin mengembangkan produk bersama.

Lewat komunitas itu, Emi tak hanya menemukan rekan seperjuangan, tapi juga semangat berinovasi. “Kalau kita satu booth pun, orang tetap bisa lihat perbedaan produk kita. Sama-sama jahit, tapi tiap orang punya karakter. Itu yang bikin seru,” jelasnya.

Di komunitas, dia juga belajar tentang strategi pasar, pemilihan bahan, dan cara mengemas produk agar tampak bernilai. “Kalau saya sendiri enggak suka lihat hasilnya, bagaimana saya mau kasih harga tinggi? Nilainya harus ada dulu, baru berani jual walau itu limbah sekalipun. Jadi harus tetap kelihatan punya nilai, enggak sekadar daur ulang sampah,” katanya tegas.

Menurut Emi, pasar produk ramah lingkungan di Samarinda memang belum besar, tapi potensinya nyata. Diakui, respons konsumen sangat tergantung pada lokasi pameran dan jenis acara. “Kalau temanya sustainable, pengunjungnya antusias banget. Tapi kalau bukan, ya susah. Orang masih mikir, ah, dari plastik bekas,” imbuhnya.

Meski begitu, Emi tetap optimistis. Dia percaya edukasi dan konsistensi akan membentuk pasar secara perlahan. “Pasar itu harus dipancing. Kalau cuma kasih satu-dua pilihan, orang enggak tertarik. Tapi kalau lihat banyak warna, banyak bentuk, mereka mulai penasaran,” ujarnya.

Dia juga menggunakan limbah karton susu. Sebagai pelapis atau bagian dalam produknya agar lebih kokoh. Masih berkaitan dengan keberlanjutan, Emi juga mengerjakan ecoprint sejak 2016 lalu. Banyak produk natural dye yang juga dia produksi seperti syal, jilbab, baju anak, hingga kaus kaki. Ada kelas ecoprint juga yang ditawarkan.

Kini, Emi sedang mempersiapkan produk baru untuk pameran Desember mendatang. Bersama komunitas Mosfia, dia akan membawa koleksi baru bertema “Summer Flower”, lengkap dengan workshop ecoprint. “Saya mau jual produk dan kelas. Biar orang bisa belajar sekaligus beli,” katanya penuh semangat. Lalu permisi sebentar mengambil teko kecil berisi kopi, dua gelas, dan satu boks camilan.

Meski produk Moy Handmade masih berskala rumahan, semangat yang dibawa Emi mencerminkan wajah baru ekonomi hijau. Mengolah limbah jadi sumber daya, membangun pasar berkelanjutan, dan menularkan nilai lingkungan lewat komunitas dan pendidikan.

Dalam caranya yang sederhana, mulai menyetrika lembaran plastik, menjahit sisa kain, menggunakan bunga dan daun sebagai pewarna alam, hingga mengajar anak-anak, Emi sedang merajut sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar produk. Dia sedang menjahit masa depan yang lebih hijau.

“Saya enggak maksa orang beli. Tapi saya akan terus bikin produk yang bagus, sampai mereka sendiri yang pengin beli. Ya tentu saja karena bagus, dan ada nilai keberlanjutan di dalamnya,” pungkasnya di akhir perbincangan sambil menawarkan donat labu.

Itulah filosofi kecil dari seorang penjahit perempuan di Kota Tepian, yang membuktikan bahwa perubahan besar bisa lahir dari tangan-tangan yang tekun bekerja, bahkan dari setumpuk plastik bekas yang hampir terlupakan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Ekonomi Hijau #sampah #kaltim #umkm