KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang masih tinggi membuat pemerintah mempercepat langkah untuk memperkuat pasokan dari dalam negeri.
Di antaranya memacu berbagai proyek hulu migas yang mampu menghasilkan gas C3 dan C4, komponen utama LPG agar bisa segera menambah suplai nasional dan memperkuat ketahanan energi.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menjelaskan, sejumlah proyek strategis tengah berjalan, termasuk pembangunan fasilitas baru di Offshore North West Java (ONWJ). Proyek ini digadang-gadang menjadi salah satu penopang utama pasokan LPG nasional.
“Saat ini sedang konstruksi di gas dari ONWJ, itu untuk memproduksi LPG 170.000 kilogram per hari,” sebut Djoko, Rabu (19/11). Menurutnya, kapasitas tersebut akan memberikan dampak signifikan bagi pengurangan impor LPG dalam beberapa tahun ke depan.
Djoko menegaskan bahwa SKK Migas telah meminta seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk memaksimalkan potensi gas yang mengandung propana (C3) dan butana (C4), sehingga bisa diolah menjadi LPG. “Nanti seluruh sumur gas yang mengandung C3, C4 kita dorong untuk diproduksi LPG, karena LPG sangat dibutuhkan oleh masyarakat banyak,” tegasnya.
Sejumlah proyek yang kini menjadi prioritas pengembangan antara lain lapangan Jambi Merang dan ONWJ. Selain itu, KKKS skala kecil turut memberikan kontribusi tambahan yang tidak bisa diabaikan. EMP Imbang Tata Alam kini memproduksi 4.600 kilogram LPG per hari, disusul Medco Rimau sebesar 4.000 kilogram per hari.
Jika digabungkan dengan KKKS kecil lainnya, total tambahan suplai telah mencapai 34.300 kilogram per hari. Dari sisi produksi Natural Gas Liquid (NGL), beberapa operator juga menunjukkan kontribusi yang signifikan. PetroChina tercatat memproduksi 15.300 barel per hari, Saka Energi sebesar 780 barel per hari.
Sementara sinergi antara Pertamina Hulu Mahakam, Pertamina Hulu Kalimantan Timur, Pertamina Hulu Sanga Sanga, dan ENI melalui fasilitas PT Badak LNG menghasilkan sekitar 3.800 barel per hari. Kontributor lainnya adalah Pertamina EP dengan produksi 800 barel per hari, serta Petrogas Papua dan Jade Stone yang menyuplai hingga 2.000 barel per hari.
Djoko juga menyoroti upaya peningkatan produksi kondensat, termasuk yang dihasilkan dari fasilitas DSLNG. “Kemudian ada lagi kita upayakan produksi kondensat yang dari DSLNG hilir, kita berubah menjadi hulu dalam proses. Ini sebesar 279, jadi sehingga total produksi minyak dan kondensat 582, NGL 23.000, dan kondensat DSLNG 279 rata-rata sampai dengan 10 November mencapai 606.020 barel,” ungkapnya.
Dengan dorongan terhadap seluruh potensi produksi LPG domestik tersebut, SKK Migas optimistis Indonesia dapat memperkuat kemandirian energi dan mengurangi tekanan impor yang selama ini membebani fiskal. “Semakin banyak produksi LPG dari dalam negeri, semakin kuat kemandirian energi kita dan semakin kecil ketergantungan terhadap impor,” kata Djoko. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo