Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

BI Buka Sinyal Kuat Turunkan Suku Bunga 2026, Pelonggaran Moneter Mulai Terlihat

Raden Roro Mira Budi Asih • Minggu, 30 November 2025 | 08:12 WIB

BI membuka ruang pelonggaran suku bunga pada 2026. Ada empat lini kebijakan disiapkan agar memastikan transmisi pelonggaran berjalan efektif.
BI membuka ruang pelonggaran suku bunga pada 2026. Ada empat lini kebijakan disiapkan agar memastikan transmisi pelonggaran berjalan efektif.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA
– Harapan akan arah kebijakan moneter yang lebih longgar mulai mencuat. Bank Indonesia memberi sinyal perubahan sikap kebijakan yang diperkirakan terasa pada 2026, seiring stabilnya kondisi ekonomi nasional.

Perlahan, ruang untuk pelonggaran mulai terbuka. Indikasinya terlihat dari terkendalinya inflasi dan menguatnya stabilitas yang menjadi dasar BI menyiapkan strategi baru.

Baca Juga: REMBUK ETAM: Akademisi Unmul Nilai Pemotongan TKD Tak Adil bagi Kaltim, Minta Perhitungan Fiskal Diubah

Di pertengahan paparan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) yang berlangsung hybrid di Kantor Perwakilan BI Kaltim, Jumat (28/11/2025), Gubernur BI Perry Warjiyo menekankan bahwa kebijakan 2026 akan diarahkan pada keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan.

“Dengan terkendalinya inflasi, kami akan mencermati ruang penurunan suku bunga BI lebih lanjut,” ujarnya.

Perry menjelaskan empat lini kebijakan yang telah disusun untuk memastikan pelonggaran berjalan efektif. Mulai dari stabilisasi nilai tukar, intervensi non-deliverable forward (NDF), hingga penambahan likuiditas moneter yang tetap pro-market.

Ia menegaskan stabilisasi rupiah menjadi fokus utama di tengah risiko eksternal yang masih tinggi. BI akan melakukan intervensi melalui pasar spot, NDF, serta pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.

“Nilai tukar akan selalu dijaga agar tetap stabil sesuai fundamental,” ucapnya.

Selain suku bunga, BI memperkuat kebijakan makroprudensial longgar untuk mempercepat penyaluran kredit. Insentif likuiditas dinaikkan menjadi Rp423 triliun mulai Desember, khusus untuk sektor prioritas pemerintah.

Bank yang lebih cepat menurunkan suku bunga kredit juga akan memperoleh insentif tambahan.

Perry menambahkan, pendalaman pasar uang menjadi fondasi penting bagi efektivitas kebijakan 2026. Melalui Blueprint Pasar Uang 2030, BI menargetkan transaksi harian mencapai Rp81 triliun.

Baca Juga: REMBUK ETAM: Pemangkasan TKD Ungkap Kelemahan Formula Lama, Akademisi Desak Reformasi Fiskal untuk Kaltim

“Kita bangun pasar yang efisien untuk mendukung pembiayaan perekonomian nasional,” jelasnya.

Dengan rangkaian kebijakan tersebut, BI optimistis pelonggaran moneter mampu mendorong pertumbuhan kredit, investasi, dan konsumsi.

Perry menyebut arah kebijakan 2026 sebagai “pro-stability and pro-growth”, dua prinsip yang menurutnya tidak dapat dipisahkan. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#pasar uang #kredit #bank indonesia #moneter #suku bunga #Stabilitas Rupiah #2026 #perry warjiyo #inflasi