Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Cuaca Ekstrem Picu Gangguan Pasokan Pangan, Pemerintah Diminta Waspada Jelang Nataru

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 3 Desember 2025 | 19:18 WIB
TERDAMPAK CUACA: Inflasi Balikpapan dan PPU didorong oleh kenaikan harga berbagai komoditas hortikultura.
TERDAMPAK CUACA: Inflasi Balikpapan dan PPU didorong oleh kenaikan harga berbagai komoditas hortikultura.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Dampak cuaca ekstrem kembali terasa pada pergerakan harga pangan di Kalimantan Timur. Curah hujan tinggi sejak Oktober dan diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir 2025 mulai menekan produksi sayur-sayuran di sejumlah sentra, termasuk Jawa dan Sulawesi.

Kondisi ini langsung tercermin dalam inflasi Balikpapan dan PPU, yang didorong oleh kenaikan harga berbagai komoditas hortikultura. Di Balikpapan, kenaikan harga kacang panjang dan tomat menjadi penyumbang inflasi utama bersama tiket pesawat dan emas perhiasan.

"Kacang panjang naik karena produksi lokal terganggu akibat hujan berlebih, sementara pasokan tomat dari luar daerah berkurang karena kondisi cuaca tidak mendukung. Di PPU, komoditas buncis, sawi hijau, dan kacang panjang juga mengalami peningkatan harga dengan pola yang sama," beber Kepala Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi.

Bank Indonesia memandang risiko cuaca sebagai faktor dominan dalam pembentukan harga pangan ke depan. Dirinya menyebutkan bahwa tantangan cuaca harus segera diantisipasi untuk mencegah lonjakan harga di periode Natal dan Tahun Baru.

“Musim hujan sudah masuk fase puncak dan ini bisa menghambat produksi sekaligus distribusi komoditas penting. Ketika pasokan berkurang sementara permintaan naik, risiko peningkatan harga akan semakin besar,” ujar Robi.

Ia menambahkan bahwa wilayah yang rawan banjir seperti Balikpapan dan PPU perlu mempersiapkan langkah mitigasi lebih awal. Banjir di daerah sentra produksi di luar Kalimantan juga menjadi ancaman yang harus diantisipasi melalui kerja sama antardaerah untuk menjamin pasokan tetap terjaga.

Selain itu, BI menyoroti pentingnya operasi pasar, stabilisasi stok beras, serta penguatan jaringan kios penyeimbang. Upaya pemanfaatan lahan pekarangan dan penguatan suplai SPPG (MBG) juga dinilai strategis untuk menjaga ketersediaan komoditas hortikultura.

Tidak hanya itu, peningkatan optimisme konsumen sebagaimana tercermin dalam Indeks Keyakinan Konsumen Balikpapan yang mencapai 123,8 pada November, juga berpotensi meningkatkan permintaan selama libur Nataru. Kombinasi lonjakan permintaan dan ketidakpastian pasokan membuat pengendalian inflasi perlu dilakukan secara lebih agresif.

Robi mengingatkan bahwa stabilitas harga pangan menjadi prioritas utama di tengah situasi cuaca yang tidak menentu. “Penguatan kerja sama distribusi dan penjaminan pasokan harus dilakukan segera. Cuaca ekstrem tidak boleh menjadi alasan keterlambatan pasokan,” tegasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#tomat #cuaca ekstrem #komoditas #penajam paser utara #kacang panjang #hortikultura #inflasi #balikpapan #pasokan pangan