Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

BI Dorong Kaltim Lepas Ketergantungan Ekstraktif, Quality Tourism Jadi Arah Baru

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 18 Februari 2026 | 12:48 WIB
Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim - Bayuadi Herdiyanto
Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim - Bayuadi Herdiyanto

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Ketergantungan Kalimantan Timur terhadap sektor ekstraktif dinilai masih terlalu besar.

Bank Indonesia memandang transformasi ekonomi menjadi agenda mendesak agar pertumbuhan daerah lebih berkualitas dan berkelanjutan.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim Bayuadi Herdiyanto mengungkapkan, struktur ekonomi Kaltim masih sangat ditopang sektor berbasis sumber daya alam. “Pada triwulan IV 2025 kami mencatat sektor ekstraktif memiliki pangsa 34,18 persen,” ujarnya.

Menurutnya, dominasi tersebut membuat ekonomi rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global. Karena itu, diperlukan langkah konkret untuk memperkuat sektor non-ekstraktif.

“Untuk itu kita perlu adanya tim transformasi ekonomi Kaltim, utamanya pengembangan industri pengolahan berbasis sumber daya lokal, pertanian menggunakan digital farming, ekonomi digital melalui penguatan UKM,” jelas Bayuadi.

Dia menyebut, indeks digital di 10 kabupaten/kota di Kaltim sebenarnya sudah tergolong tinggi. Bahkan daerah seperti Mahakam Ulu mulai bergerak. Tantangan yang masih dihadapi adalah infrastruktur jaringan.

Selain penguatan sektor produksi, peluang juga terbuka di sektor jasa dan pariwisata. Kehadiran IKN dinilai akan meningkatkan arus kunjungan dan membuka pasar baru.

“UMKM unggulan wastra dan kriya, sektor nontambang itu diharapkan bisa jadi pengganti. Yakni sektor wisata, arahnya ke quality tourism,” ungkapnya.

Dia mencontohkan potensi wisata budaya di Mahakam Ulu yang mulai berbenah. “Pas ke Mahulu beberapa waktu lalu, ada beberapa tulisan bahasa Jepang, Cina dan Inggris, karena banyak turis yang datang utamanya saat festival adat seperti Hudoq,” ujarnya.

Pihaknya juga mendorong penguatan koordinasi lintas pihak melalui forum percepatan ekonomi daerah. “Pembentukan forum konsultasi daerah percepatan ekonomi Kaltim bentuk komitmen dalam mendukung percepatan transformasi, menjadi wadah koordinasi antara pemda, pusat, pengusaha hingga akademisi,” jelasnya.

Dalam jangka panjang, Bayuadi optimistis Kaltim bisa keluar dari jebakan ketergantungan komoditas. “Proyeksi ekonomi ke depan, kami optimistis dengan pertumbuhan Kaltim berkualitas dan berkelanjutan, berbagai upaya yang telah dilakukan misal transformasi ekonomi melepas ketergantungan sektor ekstraktif,” pungkasnya.

Dengan dorongan digitalisasi, penguatan UMKM, serta diversifikasi sektor ekonomi, transformasi Kaltim kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan agenda yang harus dijalankan secara konkret dan terukur. (*)

Editor : Dwi Restu A
#Ketergantungan #quality tourism #kaltim