Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Lapangan Salawati di Papua Barat Tambah Pasokan Minyak Nasional, Angkanya Segini

Ulil Mu'Awanah • Selasa, 24 Februari 2026 | 20:22 WIB

 

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Upaya peningkatan produksi minyak nasional kembali menunjukkan hasil positif.

SKK Migas bersama PT Pertamina EP Asset 4 Region 4 Zona 14 Papua Barat berhasil menemukan potensi minyak baru melalui pengeboran sumur pengembangan SLW-E006 di Lapangan Salawati, Cluster E, Papua Barat.

Keberhasilan ini menjadi sinyal optimisme bagi industri hulu migas nasional dalam mengejar target lifting minyak yang telah ditetapkan pemerintah pada APBN 2026.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan, sumur pengembangan tersebut mencatatkan hasil uji produksi sementara sebesar 350 barel minyak per hari atau barrel oil per day (BOPD).

Produksi awal ini diharapkan mampu memperkuat kontribusi produksi nasional sekaligus menjadi tambahan pasokan energi domestik.

“Capaian ini menjadi tambahan amunisi untuk mengejar target lifting minyak nasional dalam APBN 2026 sebesar 610 ribu barel per hari. Kami berharap sumur-sumur berikutnya dapat memberikan hasil yang sama bahkan lebih besar,” beber Djoko, Selasa (24/2).

Pengeboran sumur SLW-E006 dilakukan dengan metode pengeboran miring terarah atau directional/J-type menggunakan Rig PDSI #11.2 berkapasitas 1.000 HP.

Sumur dibor hingga mencapai kedalaman akhir 2.165 meter measured depth (mMD) atau setara 2.101 meter true vertical depth (mTVD) guna menembus lapisan reservoir kais carbonate yang menjadi target utama produksi.

Seluruh rangkaian pekerjaan, mulai dari pengeboran hingga uji produksi, berhasil diselesaikan dalam waktu relatif singkat, yakni 43 hari. Keberhasilan menemukan minyak secara resmi diumumkan sejak 16 Februari 2026, menandai efisiensi operasional yang dinilai cukup signifikan di tengah tantangan industri migas yang semakin kompleks.

Dari sisi teknologi, proyek ini juga menerapkan sejumlah inovasi pengeboran. Salah satunya penggunaan metode Casing While Drilling (CWD), yakni teknik pemasangan casing yang dilakukan bersamaan dengan proses pengeboran pada level 13-3/8 inci.

Metode ini terbukti memberikan nilai tambah pada keberhasilan pengeboran di trayek 17-1/2 inci karena mampu meningkatkan stabilitas lubang bor sekaligus menekan risiko non-productive time.

Selain itu, strategi teknis juga diterapkan pada area rumble zone di trayek 12-1/4 inci melalui pengaplikasian wellbore strengthening. Pendekatan ini berhasil meminimalkan gangguan operasional yang berpotensi memperpanjang waktu pengeboran, sehingga proyek dapat berjalan sesuai rencana.

Dari sisi investasi, estimasi biaya pengeboran sumur mencapai 9,77 juta dolar atau sekitar 94 persen dari total Authorization for Expenditure (AFE) yang telah disetujui. Berdasarkan perhitungan lapangan, efisiensi biaya ini menunjukkan pengelolaan proyek yang cukup optimal tanpa mengurangi aspek keselamatan dan kualitas operasi.

Secara operasional, keberhasilan SLW-E006 menjadi sumur kedua yang sukses dari total empat sumur dalam program pengeboran Lapangan Salawati yang dimulai sejak akhir tahun lalu. SKK Migas berharap keberhasilan ini dapat menjadi momentum percepatan produksi nasional, terutama di wilayah Indonesia Timur yang dinilai masih memiliki potensi migas besar.

"Dengan tambahan produksi baru ini, pemerintah optimistis sektor hulu migas tetap menjadi salah satu penopang penting ekonomi nasional, sekaligus menjaga ketahanan energi di tengah dinamika kebutuhan energi global yang terus meningkat," tandasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#minyak #pasokan minyak #sumur #skk migas #migas #pertamina #papua barat