PANGAN: Kelompok pangan menjadi penyumbang terbesar sekaligus paling dominan secara spasial. (RORO/KP)
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Tekanan inflasi di Kalimantan Timur pada triwulan IV 2025 tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga merata di seluruh kabupaten/kota. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar sekaligus paling dominan secara spasial.
Kelompok tersebut mencatat inflasi 4,72 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dengan andil 1,40 persen. Tak hanya dominan secara agregat, kelompok itu juga mengalami tekanan harga di seluruh wilayah Kaltim. Komoditas seperti beras dan aneka cabai menjadi pemicu utama kenaikan harga di berbagai daerah.
Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan, peningkatan permintaan saat periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru turut memperkuat tekanan inflasi. “Dari sisi pasokan, terdapat gangguan cuaca yang menurunkan produksi komoditas pangan di daerah sentra produksi seperti aneka cabai dan hortikultura,” tambahnya.
Baca Juga: Emas dan Ikan Layang Jadi Pemicu Inflasi Kaltim, BI Soroti Ketergantungan Pasokan Luar Daerah
Selain kelompok pangan, tekanan inflasi juga datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Mencatat inflasi 12,55 persen (yoy) dengan andil 0,82 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya 9,16 persen (yoy). “Kenaikan ini terjadi di hampir seluruh kabupaten/kota IHK di Kaltim,” terang Jajang.
Dia menambahkan, tingginya inflasi pada kelompok tersebut salah satunya dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan yang terjadi secara merata di seluruh daerah.
Dengan kondisi tersebut, Bank Indonesia menilai pengendalian inflasi tidak bisa hanya berfokus pada satu wilayah, melainkan perlu dilakukan secara terintegrasi di seluruh kabupaten/kota. Stabilitas pasokan dan kelancaran distribusi menjadi kunci utama untuk meredam tekanan harga yang semakin meluas. (riz)
Editor : Muhammad Rizki