Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Setelah Balikpapan, BYD Bidik Samarinda, Optimistis Pasar Kaltim Cepat Menerima Mobil Listrik

Raden Roro Mira Budi Asih • Senin, 20 April 2026 | 16:50 WIB
EDUKASI: Pemasaran kendaraan listrik lebih mudah ketika pasarnya sudah teredukasi. Kini market share sudah mencapai 10 persen.
EDUKASI: Pemasaran kendaraan listrik lebih mudah ketika pasarnya sudah teredukasi. Kini market share sudah mencapai 10 persen.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Produsen kendaraan listrik BYD melalui jaringan dealer Haka Auto terus memperluas pasar di Kalimantan Timur. Setelah lebih dulu hadir di Balikpapan, perusahaan tersebut bersiap membuka cabang di Samarinda pada pertengahan tahun ini. “Untuk di Samarinda kita akan buka di bulan Juli,” ungkap Branch Manager BYD Balikpapan, Ibadur Rohman.

Ekspansi itu menjadi cabang kedua di Kaltim setelah Balikpapan yang mulai beroperasi sejak akhir 2024. Dalam waktu relatif singkat, performa pasar di kota tersebut dinilai cukup positif. “Untuk di Balikpapan, penjualan kami itu sekarang market share-nya sudah 10 persen,” ungkapnya.

Optimisme juga muncul terhadap pasar Samarinda dan Kaltim secara umum. Dia menilai karakter masyarakat cukup terbuka terhadap teknologi baru, termasuk kendaraan listrik. Menurutnya, salah satu faktor penerimaan pasar adalah segmen konsumen yang dinilai adaptif terhadap perkembangan teknologi. “Salah satu segmen kami adalah segmen yang well educated person,” ucapnya.

Baca Juga: Pasar Otomotif Mulai Pulih, Daihatsu Samarinda Andalkan Gran Max dan Sigra untuk Pacu Penjualan

Dari sisi produk, BYD mengandalkan model unggulan di kelas city car dan SUV listrik. Salah satu yang menjadi andalan adalah lini Atto 1 yang disebut telah mencatatkan penjualan tinggi secara nasional. “Atto 1 sudah menjadi mobil terlaris di Indonesia di bulan Januari dan Februari,” lanjutnya.

Strategi harga juga menjadi daya tarik utama. Dengan banderol mulai sekitar Rp200 jutaan, produk BYD diklaim menawarkan fitur lebih tinggi dibanding kendaraan konvensional di kelas harga serupa. Selain harga, efisiensi biaya operasional menjadi faktor pendorong minat masyarakat terhadap kendaraan listrik.

Dia mencontohkan perbandingan biaya energi antara listrik dan bahan bakar minyak. “Satu kWh itu harganya Rp1.760, kalau satu liter bensin sudah Rp10 ribuan, selisihnya sudah 70 persen sampai 80 persen,” katanya.

Baca Juga: Jelang ‎Aksi 21 April, Pemkab Kutim Sebut Belum Ada Pergerakan Massa dari Kutim

Dari sisi pajak, kendaraan listrik juga dinilai jauh lebih ringan. “Pajak tahunan kami itu hanya kisaran Rp100-144 ribu, sama kayak motor,” tambahnya. Biaya perawatan pun disebut lebih rendah karena jumlah komponen kendaraan listrik jauh lebih sedikit dibanding mobil konvensional. “Kalau mobil konvensional itu ada 13.000 item, kalau BYD itu enggak sampai 100 item,” ujarnya.

Terkait infrastruktur, dia menilai kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan stasiun pengisian masih dipengaruhi pola pikir lama. “Kalau masih berpikir cari SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum), berarti mindset kita masih kayak pakai mobil bensin,” katanya.

Dia menegaskan bahwa konsep utama kendaraan listrik adalah pengisian daya di rumah, seperti penggunaan ponsel. Meski demikian, infrastruktur pendukung di wilayah Kalimantan disebut terus berkembang. “Sekarang di Kaltim dan Kaltara itu sudah ada 172 titik SPKLU,” ungkapnya.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, BYD optimistis kendaraan listrik akan semakin diterima, terutama di kalangan masyarakat urban. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#BYD Samarinda #Mobil Listrik Kaltim #Harga BYD Atto 1 #Pajak Mobil Listrik #SPKLU Kalimantan Timur