KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Membangun usaha tanpa bekal pendidikan bisnis bukan perkara mudah. Namun, tantangan itulah yang dijalani Yunika Sawitri dan sang suami, Mohamad Diponegoro saat mengembangkan Hi Mom & Baby di Samarinda.
Semua proses dirintis sambil belajar, mulai dari mengelola stok, memasarkan produk, mengatur karyawan, hingga menata visual toko agar punya ciri khas sendiri.
Yunika mengakui, dirinya tidak memiliki dasar manajemen usaha. Saat memutuskan serius menekuni bisnis, dia hanya berbekal pengalaman kecil berjualan sejak sekolah dan kepekaan membaca kebutuhan pasar. “Masih autodidak semuanya. Sampai sekarang pun belajar terus. Kalau ada salah ya salah, kalau ada betul ya diperbaiki,” kata perempuan yang dipanggil Ika itu.
Perjalanan usahanya mulai serius sejak 2020. Dari usaha berbasis rumah, Ika perlahan mengembangkan bisnis sambil tetap bekerja di rumah sakit. Saat pandemi datang, dia sempat melihat usaha mengalami pasang surut. Namun, kondisi itu juga memaksanya berpikir lebih kreatif.
Baca Juga: Dari Dongeng Sebelum Tidur hingga Reward, Ini Strategi Psikolog Bangun Literasi Anak
Di masa Covid-19, selain tetap menjual produk ibu dan anak, dia juga masuk ke penjualan masker dan hand sanitizer. Keputusan itu bukan semata mengejar cuan, tetapi membaca kebutuhan saat itu. “Pas zaman Covid-19 itu kita juga sempat mikir mutar otak juga. Tapi walaupun jualan masker, kita tetap jualan baju anak-anak. Jangan sampai identitas kami hilang,” ujar sang suami, Diponegoro atau Dipo.
Yang menarik, mereka memilih tidak mengambil margin berlebihan saat menjual barang langka di masa pandemi. Tetap menjaga harga agar wajar di tengah situasi sulit. “Kita enggak mau ngambil untungnya kayak gimana-gimana. Misalkan harga beli Rp50 ribu, kita jual Rp55 ribu saja,” lanjut Dipo.
Dari rumah, operasional usaha kemudian berkembang. Gudang makin penuh, kunjungan pelanggan meningkat, dan area parkir rumah mulai tidak memadai. Kondisi itu mendorong Ika membuka toko pertama di kawasan Jalan Letjend Suprapto pada 2021, sebelum akhirnya pindah ke lokasi yang lebih luas di Jalan Ahmad Yani pada 2023.
Pindah ke toko fisik menjadi fase penting. Di sana, Ika tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun pengalaman belanja. Dia ingin pelanggan merasa nyaman sejak datang, melihat penataan barang yang rapi, suasana bersih, serta toko yang estetik.
Baca Juga: Gadget Bikin Anak Anteng, Tapi Diam-Diam Gerus Minat Baca, Ini Kata Psikolog
Pendekatan tersebut justru membentuk identitas Hi Mom & Baby. Tokonya dikenal punya tampilan yang rapi dan nyaman, sementara produknya dikurasi agar tetap sesuai kualitas dan harga bersaing. Dalam pengelolaan bisnis pun, Ika belajar sendiri, termasuk soal manajemen karyawan yang kini jumlahnya sudah sekitar 20 orang.
“Tantangannya lebih ke bagaimana kita mikir ke depannya. Kalau kerja di rumah sakit kan selesai kerja pulang, tapi kalau di sini pulang pun kepikiran,” ungkapnya. Kini dia fokus membangun usaha, memutuskan resign dari tempatnya bekerja di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda.
Di tengah proses belajar itulah, toko mulai mendapat kepercayaan dari brand besar. Ika menyebut sedikitnya sudah ada dua brand nasional yang masuk untuk bekerja sama, yakni brand pakaian anak dan brand bumbu khusus MPASI.
Menurut dia, kerja sama itu tidak datang begitu saja, melainkan karena traffic toko, perputaran barang, dan citra usaha yang terus dijaga. “Ada beberapa brand yang mau masuk, tapi memang harus dikurasi juga,” tegasnya.
Dia menilai kolaborasi dengan brand akan menjadi salah satu fokus pengembangan ke depan. Meski begitu, seleksi tetap menjadi prinsip utama. Baginya, yang terpenting bukan sekadar banyak brand masuk, tetapi bagaimana menjaga pengalaman pelanggan tetap baik.
Dari luar, pertumbuhan usahanya mungkin terlihat mulus. Namun di balik itu, ada proses panjang belajar sambil berjalan. Dari logo, strategi promosi, manajemen usaha, sampai desain toko, semuanya dirakit sendiri pasangan tersebut.
Bukan lewat sekolah bisnis, melainkan lewat keberanian mencoba dan konsisten memperbaiki. "Ada juga yang tawaran untuk buka cabang di luar kota. Tapi nanti dulu, kan ada pertimbangannya juga," pungkas Ika. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo