KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kondisi meja dapur warga Balikpapan per 28 April 2026 terpantau relatif tenang untuk komoditas utama. Meski demikian, pedasnya harga cabai rawit masih menjadi catatan merah di tengah stabilitas harga bahan pokok.
Berdasarkan pantauan, sejumlah komoditas strategis belum beranjak dari harga sebelumnya. Beras premium masih bertahan di angka Rp 17.000 per kilogram, disusul gula kemasan Rp 20.200, dan minyak goreng premium di kisaran Rp 22.600 per liter.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Balikpapan, Haemusri, menilai stabilitas pada sektor utama ini menjadi indikator bahwa tekanan inflasi makro masih cukup terkendali. Namun, ia mewanti-wanti agar publik tidak hanya terpaku pada angka rata-rata.
“Secara agregat memang terlihat stabil, tetapi kami tidak hanya melihat rata-rata. Komoditas seperti cabai dan ikan tetap kami pantau ketat karena pergerakannya lebih cepat dan dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” ujar Haemusri.
Baca Juga: Penggali Makam di Balikpapan Temukan Proyektil Aktif, Ini yang Dilakukan Tim Jibom
Jika beras dan minyak goreng anteng, tidak demikian dengan kelompok hortikultura. Harga cabai rawit terpantau masih tinggi di angka Rp 68.800 per kilogram, sementara cabai merah besar bertengger di kisaran Rp 45.200 per kilogram. Angka ini dinilai cukup menekan pengeluaran konsumsi rumah tangga.
Di sisi lain, kabar baik datang dari sektor sayuran dan perikanan. Harga sawi tercatat melandai hingga -4,76 persen. Penurunan paling signifikan terjadi pada ikan tongkol yang anjlok hingga 8,08 persen. Menurut Haemusri, fluktuasi ini lumrah terjadi pada komoditas segar yang sangat bergantung pada pasokan harian dan kondisi cuaca di daerah pengirim.
Sebagai kota yang sangat bergantung pada pasokan luar daerah, Balikpapan memang rentan terhadap volatilitas harga mendadak. Sedikit saja gangguan pada jalur distribusi atau penurunan produksi di daerah asal, maka harga di pasar lokal akan langsung bereaksi.
“Karakteristik komoditas segar memang mudah berubah. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa stabilitas harga tidak selalu berarti merata di semua jenis barang,” imbuhnya.
Untuk itu, Pemkot Balikpapan terus memperkuat sistem pemantauan harian dan koordinasi jalur distribusi. Intervensi pasar pun sudah disiapkan sebagai "senjata" cadangan jika terjadi lonjakan harga yang tak wajar di kemudian hari. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo