KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Tidak semua petani menikmati tingkat keuntungan yang sama di Kalimantan Timur. Data pada 2025 menunjukkan disparitas yang cukup lebar antar subsektor pertanian.
Subsektor tanaman perkebunan rakyat menjadi yang paling unggul dengan nilai NTP mencapai 205,72. Angka tersebut jauh di atas rata-rata provinsi yang berada di level 146,48.
Disebutkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai, kondisi itu menunjukkan dominasi subsektor tersebut dalam memberikan keuntungan bagi petani. Sebaliknya, subsektor perikanan menjadi yang paling rendah dengan nilai NTP 102,11. Meski masih di atas 100, margin keuntungannya jauh lebih tipis dibanding subsektor lain.
Tanaman hortikultura mencatat NTP sebesar 118,23, sementara peternakan berada di angka 107,17. Adapun tanaman pangan berada di level 102,18, bahkan mengalami penurunan sebesar 0,74 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Semua subsektor memiliki nilai NTP di atas 100,” terang Mas’ud, yang berarti secara umum petani masih berada dalam posisi menguntungkan. Peningkatan NTP pada 2025 didorong oleh empat subsektor, yakni hortikultura, perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan.
Di antaranya, perkebunan rakyat mencatat kenaikan tertinggi yakni 10,05 persen. Perbedaan capaian itu memperlihatkan karakteristik masing-masing subsektor, baik dari sisi harga komoditas maupun struktur biaya produksinya.
Dengan demikian, meski secara agregat kondisi petani membaik, ketimpangan antar subsektor tetap menjadi isu yang perlu diperhatikan dalam perumusan kebijakan pertanian ke depan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo