KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Penguatan branding dan legalitas usaha menjadi pekerjaan rumah utama pesantren di Kalimantan Timur dalam mengembangkan unit bisnis. Tanpa dua hal tersebut, produk pesantren dinilai sulit menembus pasar yang lebih luas.
Ketua Umum Forum Ekonomi Pesantren Indonesia (FEPI) Badrus Syamsi, menilai banyak pesantren sebenarnya memiliki potensi usaha yang baik. Namun, masih terkendala pada pengenalan produk dan identitas bisnis yang belum kuat.
“Bagaimana orang mau beli produknya kalau tidak dikenal? Branding itu penting. Harus ada corporate identity yang melekat, sehingga orang langsung tahu bahwa itu adalah produk pesantren,” ujarnya.
Baca Juga: Kemandirian Pangan dari Balik Pesantren: Ikhtiar Santri Kaltim Menopang Ekonomi Syariah
Dia mencontohkan pentingnya identitas visual dalam bisnis modern. Menurutnya, brand yang kuat akan memudahkan produk dikenali bahkan tanpa membaca nama secara lengkap. “Ketika kita lihat warna tertentu saja sudah tahu itu minimarket yang terkenal, itu karena branding-nya kuat. Pesantren juga harus ke arah sana,” jelas Ketua Umum Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (Hebitren) Kaltim tersebut.
Selain branding, persoalan legalitas usaha juga menjadi hambatan besar. Banyak pesantren belum memiliki badan usaha resmi seperti CV atau PT, sehingga tidak bisa menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk bekerja sama dengan pemerintah maupun perusahaan.
“Kalau mau ekspansi keluar, pasti ditanya legalitasnya. Bisa keluarkan faktur pajak atau tidak. Ini yang banyak belum dimiliki pesantren,” ungkapnya. Padahal, menurut Badrus, peluang pasar sebenarnya terbuka lebar. Produk pesantren dinilai mampu bersaing, baik dari sisi kualitas maupun harga, jika didukung dengan sistem manajemen yang baik.
Dia menekankan pentingnya pendampingan dalam aspek manajemen bisnis, termasuk pencatatan keuangan dan pemisahan aset usaha dengan lembaga pendidikan. “Sering kali harta pesantren, yayasan, dan unit bisnis masih bercampur. Ini yang membuat usaha sulit berkembang,” katanya.
Badrus berharap ke depan pesantren tidak hanya fokus membangun usaha, tetapi juga memperkuat fondasi bisnisnya. Mulai dari legalitas, manajemen, hingga branding agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. (riz)
Editor : Muhammad Rizki