KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ketergantungan Kalimantan Timur terhadap pasokan sapi dari luar daerah masih tinggi pada Iduladha 1447 Hijriah. Kondisi tersebut dinilai menjadi pekerjaan rumah besar bagi pengembangan peternakan lokal.
Pengamat Peternakan Universitas Mulawarman Ari Wibowo mengatakan sebagian besar sapi kurban yang beredar di Kaltim masih berasal dari luar daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tengah hingga Gorontalo.
Menurut Ari, peternak di Kaltim umumnya hanya melakukan penggemukan sapi selama empat hingga enam bulan sebelum dijual saat Iduladha. Dia menilai Kaltim sebenarnya memiliki peluang besar meningkatkan populasi ternak lokal melalui integrasi sapi dan perkebunan sawit.
Baca Juga: DKP3 Pastikan Hewan Kurban di Balikpapan Bebas Penyakit Infeksius
“Kalau sawit di Kalimantan Timur 1,5 juta hektare, satu hektare satu ekor akhirnya populasi kita bisa mencapai 1,5 juta ekor,” ujarnya. Ari menyebut selama ini Kaltim mengeluarkan biaya besar untuk mendatangkan sapi dari luar daerah.
“Rata-rata Kaltim itu importasi sapi untuk penggemukan 50.000 ekor. Kalau satu ekor itu 10 juta artinya kita mengeluarkan duit setengah triliun,” katanya. Dia juga menyoroti persaingan antara peternak lokal dan pedagang besar yang dinilai kurang seimbang.
“Pedagang besar pasti dia mencari margin sekecil apa pun,” tuturnya. Oleh sebab itu, pihaknya mendorong sistem penjualan berbasis timbangan agar harga lebih adil bagi peternak lokal.
Baca Juga: Cegah “Domisili Dadakan” Saat SPMB, Disdukcapil Samarinda Siap Perketat Verifikasi Kependudukan
Sementara itu, Plt Kepala DPKH Kaltim Fadli Sufiani mengatakan pemerintah juga terus mendorong pengembangan peternak lokal melalui program Pengembangan Desa Korporasi Ternak (PDKT).
“Dari kelompok ternak, petani kita, ada juga program PDKT pengembangan desa korporasi ternak,” katanya. Menurutnya, program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kontribusi sapi lokal terhadap kebutuhan hewan kurban di Kaltim. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo