Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kenapa Daya Beli Melemah Tapi Tempat Ngopi Tetap Ramai? Ini Penjelasan Konsultan Bisnis

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:33 WIB
EMOSI: Ramainya tempat nongkrong atau ngopi bukan indikator bahwa daya beli masyarakat sedang meroket. Melainkan kompensasi emosional untuk membeli kebahagiaan kecil.
EMOSI: Ramainya tempat nongkrong atau ngopi bukan indikator bahwa daya beli masyarakat sedang meroket. Melainkan kompensasi emosional untuk membeli kebahagiaan kecil.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Situasi makroekonomi di sepanjang 2026 menghadirkan anomali perilaku pasar dan pergeseran psikologis konsumen yang sangat mencolok di tengah masyarakat. 

Konsultan bisnis dari Ruang Bisnis, Yusuf Hadi Muslim, mengungkapkan adanya perubahan cara pandang yang masif, terutama pada masyarakat kelas bawah dalam menyikapi ketidakpastian finansial yang melanda kehidupan harian mereka.

Target-target besar hidup yang dahulu dikejar, kini mulai bergeser ke arah ekspektasi yang jauh lebih sederhana dan instan. "Ada pergeseran psikologi konsumen yang mendalam di lapangan. Kenaikan harga-harga kebutuhan saat ini sayangnya tidak diimbangi dengan ketenangan yang ada di masyarakat bawah. Hal itu berdampak pada nilai tabungan mereka yang tidak bertambah,” bebernya.

Dia menyebut jika dulu orang memiliki keinginan setelah lulus sekolah lalu kerja dan menabung untuk memiliki rumah. Sekarang terpaksa menggeser target tersebut karena saking cemasnya dengan ketidakpastian masa depan.

Baca Juga: Jangan Sampai Boncos, Ini Siasat Efisiensi untuk Pelaku F&B Samarinda di Semester Kedua 2026

Pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga Kaltim naik di triwulan I 2026 yakni 5,96 persen secara tahunan. Namun realitas mikro di lapangan berbanding terbalik. Potret ketimpangan data ekonomi saat ini sangat mencerminkan fenomena K-Shaped Economy, sebuah istilah grafis yang menggambarkan dua arah ekonomi yang bertolak belakang seperti huruf K.

Di satu sisi, lengan huruf K bagian atas menunjukkan aktivitas konsumsi kelas atas yang tetap tinggi. Namun di sisi lain, lengan huruf K bagian bawah bergerak jatuh, di mana masyarakat bawah harus berjuang keras hanya untuk bertahan hidup dari hari ke hari.

Lebih mengerikannya lagi, Yusuf membeberkan sebuah survei kecil yang dilakukannya langsung pada ekosistem sektor informal di tingkat pedagang kaki lima untuk menelusuri dari mana asal kenaikan angka konsumsi masyarakat. Hasilnya cukup mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan karena melibatkan penetrasi platform digital finansial ke sektor paling bawah.

Baca Juga: Pilih Jualan Ayam Goreng atau Kafe Estetik? Ini Bocoran Segmen Kuliner yang Paling Tahan Banting Menurut Konsultan

"Ini survei kecil menarik di teman-teman kaki lima. Mereka yang sudah sukses mengembangkan usahanya dan punya karyawan di atas 10 orang, ternyata 60 persen karyawannya itu tercatat punya aplikasi paylater. Bahkan untuk urusan bayar makanan harian yang nilainya Rp20 ribu saja, mereka belinya pakai fitur bayar belakangan itu,” sebut pria yang menjadi konsultan bisnis sejak 2016 tersebut.

Sehingga jika data menunjukkan konsumsi naik, harus telusuri dulu naiknya dari mana. Yusuf menyebut kemudahan teknologi memicu fenomena utang online tersembunyi yang tidak tercatat dalam data tabungan riil masyarakat.

Kondisi sisa tabungan yang tipis bahkan cenderung tidak ada itulah yang kemudian menjawab teka-teki mengapa kedai kopi (coffee shop) dan kafe-kafe estetis selalu tampak padat oleh kerumunan anak muda hingga kelompok ibu-ibu. Menurut pendiri komunitas usaha Sinergi Receh itu, ramainya tempat nongkrong bukanlah indikator bahwa daya beli masyarakat sedang meroket, melainkan sebuah bentuk kompensasi emosional atas impian aset masa depan yang kian mustahil terjangkau.

"Masyarakat kita sudah tidak punya target terlalu tinggi dan terlalu jauh karena saking mustahilnya mencapai angka itu dari segi tabungan nyata mereka. Uang mereka jelas tidak sampai untuk beli rumah atau mobil, jadi mereka melarikan uangnya untuk membeli kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang ada di depan mata.

Mereka menemukan kepuasan sosial, pertemanan, dan kenyamanan emosionalnya di coffee shop. Pengalaman dan kepuasan emosi yang didapatkan dari segelas kopi itulah yang dibeli, karena hanya di level itulah batas kemampuan finansial mereka saat ini," pungkas pria yang mengelola berbagai unit bisnis di Jakarta, Bandung, Samarinda, Bogor, Jogja, Balikpapan dan Makassar tersebut. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Yusuf Hadi Muslim #coffee shop ramai #perilaku konsumen 2026 #ekonomi masyarakat #daya beli masyarakat