Harga Rumah di Kaltim Disebut Sulit Turun, Ini Alasannya

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 20:11 WIB
Pengamat ekonomi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Darmawati. 
Pengamat ekonomi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Darmawati. 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pasar properti belum menunjukkan tanda-tanda pulih sepenuhnya walaupun kebutuhan masyarakat akan hunian masih tinggi. Terlihat dari transaksi jual beli rumah yang bergerak lambat.

Salah satu penyebabnya adalah belum pulihnya daya beli masyarakat, sementara harga rumah masih sulit turun akibat tingginya biaya pembangunan.

Pengamat ekonomi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Darmawati, mengatakan ada sejumlah faktor yang membuat sektor properti belum kembali bergairah.

Baca Juga: Banyak Rumah dan Ruko di Kaltim Dijual, Ekonom Sebut Daya Beli Melemah

“Pertama, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan membeli aset bernilai besar seperti rumah karena mempertimbangkan kondisi ekonomi dan kestabilan pendapatan,” ujarnya kepada Kaltim Post, Sabtu (25/7).

Selain daya beli, biaya pembiayaan melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang masih relatif tinggi juga menjadi pertimbangan masyarakat untuk menunda pembelian rumah.

“Kedua, biaya pembiayaan melalui KPR yang masih relatif tinggi membuat sebagian calon pembeli memilih menunda transaksi. Akibatnya, minat membeli menurun meskipun kebutuhan akan hunian tetap ada,” katanya.

Baca Juga: Tatap Musim Baru, Persiba Balikpapan Resmi Rekrut Sudirman Sebagai Pelatih Kepala

Di sisi lain, pengembang juga menghadapi tantangan tersendiri. Kenaikan harga bahan bangunan, biaya tenaga kerja, hingga harga lahan membuat harga jual rumah sulit diturunkan meski permintaan sedang melemah.

“Ketiga, kenaikan harga rumah dipengaruhi oleh meningkatnya biaya pembangunan, seperti harga bahan bangunan, biaya tenaga kerja dan harga lahan. Kondisi ini membuat pengembang sulit menurunkan harga jual, sehingga terjadi kesenjangan antara harga yang ditawarkan dengan kemampuan beli masyarakat,” jelasnya.

Menurut Darmawati, fenomena semakin banyaknya rumah maupun ruko yang dipasarkan juga tidak selalu mencerminkan memburuknya kondisi pasar. Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi adanya penyesuaian strategi oleh pemilik aset.

“Sementara itu, banyaknya rumah dan ruko yang dijual juga bisa menjadi indikator bahwa sebagian pemilik sedang melakukan penyesuaian aset, baik karena kebutuhan likuiditas, perubahan strategi investasi, maupun menurunnya aktivitas usaha di beberapa sektor,” ungkapnya.

Ia menilai pemulihan sektor properti membutuhkan dukungan berbagai pihak. Sinergi antara pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha diperlukan agar pasar kembali bergerak dan mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Ke depan, saya melihat pemulihan sektor properti memerlukan sinergi antara pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha. Insentif seperti kemudahan KPR, relaksasi pajak, serta kebijakan yang mendorong peningkatan daya beli masyarakat dapat membantu menggerakkan kembali pasar properti,” terangnya. 

Baca Juga: Edukasi Investasi Emas Sejak Dini, Pegadaian Hadirkan Bazar Finansial di Balikpapan

Dengan demikian, bukan hanya harga yang stabil, tetapi juga volume transaksi dapat kembali meningkat sehingga sektor properti mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. (*) 

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
harga rumah di Kaltim perumahan di Kaltim properti di Kaltim rumah dan ruko di Kaltim dijual properti lesu