Kisah Pasukan Pemadam PT TAP Grup Jaga Kelay dari Kemarau Ekstrem, Padamkan Api Hingga Tengah Malam

Nugroho Pandu Cahyo • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 19:35 WIB
MUDAHKAN PETUGAS: PT Yudha Wahana Abadi membangun 17 embung di 16 afdeling kebun. Sedikitnya satu embung berkapasitas 800 meter kubik air yang sanggup memenuhi kebutuhan 500 hektare kebun jika terjadi kebakaran. NUGROHO PANDU CAHYO/KP
MUDAHKAN PETUGAS: PT Yudha Wahana Abadi membangun 17 embung di 16 afdeling kebun. Sedikitnya satu embung berkapasitas 800 meter kubik air yang sanggup memenuhi kebutuhan 500 hektare kebun jika terjadi kebakaran. NUGROHO PANDU CAHYO/KP

KALTIMPOST.ID, KELAY - Di tengah ancaman cuaca kering yang masih membayangi Berau, ketangguhan para penjaga api dari perusahaan Triputra Agro Persada (TAP) Grup di Kecamatan Kelay, menjadi benteng terakhir yang siap menjaga keasrian hutan dari kepulan abu bencana. Kesadaran warga untuk tidak membakar sembarangan diharapkan terus terjaga agar langit Kaltim tetap biru tanpa selimut asap.

Udara kering menyengat tenggorokan saat jarum jam menyentuh pukul dua dini hari di pedalaman Kelay, Kabupaten Berau. Di tengah pekatnya malam, puluhan pasang mata masih terjaga mengamati pendar merah yang perlahan merambat di semak belukar kering.

Suara deru pompa air memecah kesunyian rimba, disusul semprotan air yang beradu dengan bara panas sisa pembukaan lahan yang ditinggalkan begitu saja. Bagi para personel regu pemadam api dari anak usaha TAP Grup, malam panjang seperti ini telah menjadi santapan harian selama hampir dua bulan belakangan.

Baca Juga: Karhutla IKN: Jeriken BBM dan Pondok Misterius Ditemukan di Tahura Bukit Soeharto

Kondisi kemarau panjang tanpa rintik hujan sejak Agustus lalu membuat semak belukar di kawasan Berau menjadi sangat rapuh. Sedikit saja gesekan atau puntung rokok yang terbuang serampangan, kobaran api bisa meluas dalam hitungan menit terdorong embusan angin kencang.

Di wilayah ini, tiga entitas TAP Group, yakni PT Yudha Wahana Abadi (YWA), PT Anugerah Agung Prima Abadi, dan PT General Aura Semari, harus melipatgandakan kewaspadaan mereka tidak hanya di dalam konsesi, melainkan hingga radius beberapa kilometer di luar batas hak guna usaha (HGU).

Estate Manager PT Yudha Wahana Abadi, Sarmin, menuturkan, perjuangan memadamkan api kerap kali berpacu dengan malam. Ancaman kebakaran terjadi berulang kali sepanjang Agustus, seperti insiden besar pada 12 Agustus yang melahap sekitar 10 hektare lahan, disusul tanggal 21 dan 27 Agustus di mana tim harus berjibaku menyemprotkan air hingga pukul tiga subuh.

Bahkan pada penutup bulan, tanggal 31 Agustus, timnya kembali bergulat di lumpur dan asap hingga pukul dua pagi. "Api kadang-kadang muncul mendadak di kebun masyarakat yang berbatasan dengan wilayah luar konsesi. Tim patroli kami siagakan penuh hingga tiga giliran kerja selama 24 jam," ungkap Sarmin saat ditemui pekan lalu. 

Baca Juga: Karhutla di Kasai Masih Berkobar, Bupati Berau Sri Juniarsih Minta Dukungan Water Bombing

Menurutnya, pemantauan dilakukan secara berlapis, memadukan pantauan citra satelit, patroli udara dengan drone, hingga mata telanjang petugas lapangan. Jika titik panas terpantau dalam jarak lima kilometer dari HGU dan jalurnya memungkinkan ditembus, regu pemadam langsung meluncur tanpa menunggu lama.

Kendala di lapangan sering kali menguras kesabaran. Sarmin menceritakan, sebagian besar kebakaran bermula dari api kecil di lahan terlantar yang sengaja dibakar untuk membuka kebun, namun sang pemilik justru tidak berada di lokasi.

"Begitu tim kami yang beranggotakan puluhan orang tiba membawa peralatan, sering kali warga yang tadinya ada malah menghilang. Lahan terbakar ini awalnya cuma bara kecil, tapi merambat cepat. Lebih pusing lagi kalau muncul empat titik bersamaan, kami harus membagi kekuatan dengan cermat," imbuhnya.

Menghadapi risiko kemarau paling ekstrem tahun ini, kesiapan infrastruktur air menjadi tumpuan utama. Senior Estate Manager PT Yudha Wahana Abadi menjelaskan, perusahaan telah membangun benteng pertahanan berupa 1 mobil pemadam kebakaran, 7 unit truk tangki penyuplai, 57 unit pompa, serta 46 gulung selang sepanjang 30 meter.

Sebanyak 15 menara pantau setinggi 15 hingga 20 meter juga didirikan pada titik-titik tertinggi di tiap area 600 hektare untuk memastikan pandangan 360 derajat tanpa terhalang tajuk pohon. Pasokan air dijamin lewat 17 embung buatan yang tersebar di 16 afdeling kebun. Setiap afdeling seluas sekitar 500 hektare memiliki sedikitnya satu embung berkapasitas minimal 800 meter kubik air yang sanggup memenuhi pengisian tangki berulang kali.

Kesiapan fisik ini ditopang oleh 120 personel terlatih yang terbagi ke dalam delapan regu inti dan 30 regu pendukung. Seluruh personel digembleng langsung oleh instruktur Manggala Agni melalui pelatihan fisik dan ujian tertulis secara berkala.

PANTAU API: Jurnalis Kaltim Post, Nugroho Pandu Cahyo ikut memantau kondisi kebun PT Yudha Wahana Abadi dari menara pantau, Kamis (3/9). Di sini petugas bisa melihat 360 derajat dengan jangkauan hingga 600 hektare.
PANTAU API: Jurnalis Kaltim Post, Nugroho Pandu Cahyo ikut memantau kondisi kebun PT Yudha Wahana Abadi dari menara pantau, Kamis (3/9). Di sini petugas bisa melihat 360 derajat dengan jangkauan hingga 600 hektare.

"Kebakaran hutan bukan persoalan satu pihak saja, tetapi tanggung jawab bersama. Edukasi ke warga sekitar terus kami gencarkan agar tidak lagi membuka lahan dengan cara dibakar," ujar Senior Estate Manager tersebut, merujuk pada regulasi Inpres 11/2015 dan aturan pengelolaan lahan tanpa bakar.

Kehadiran tim pemadam ini menjadi sandaran bagi warga di tapal batas. Herman, warga Desa Merapun, Kecamatan Kelay, bersyukur atas gerak cepat regu perusahaan saat si jago merah mendekati permukiman dan kebun warga. Ia menceritakan kejadian terbaru saat semak terlantar seluas tiga hektare terbakar dan berpotensi merembet luas.

"Warga sini kalau melihat api malam-malam langsung panik. Untungnya ketika kami hubungi, pihak perusahaan cepat datang bawa mobil tangki. Siang malam mereka mau turun membantu, sehingga dalam waktu setengah jam apinya bisa diamankan," kata Herman.

Kerja keras terpadu ini juga mendapat apresiasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau. Catatan BPBD menunjukkan terdapat sekitar 800 titik panas di Kecamatan Kelay dengan sebaran tertinggi berada di sekitar Kampung Merapun.

LATIHAN: Para penjaga api dari perusahaan Triputra Agro Persada (TAP) Grup di Kecamatan Kelay melakukan simulasi pemadaman api di hadapan para Muspika.
LATIHAN: Para penjaga api dari perusahaan Triputra Agro Persada (TAP) Grup di Kecamatan Kelay melakukan simulasi pemadaman api di hadapan para Muspika.

Upaya kolaboratif lewat Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) dan program Desa Makmur Peduli Api terus diperkuat. TAP Group bahkan menyiapkan penghargaan dana pembinaan sebesar Rp 50 juta untuk desa lahan mineral dan Rp 100 juta bagi kawasan gambut yang berhasil mempertahankan wilayahnya bebas dari amukan api sepanjang tahun. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
karhutla berau Kecamatan Kelay TAP Grup PT Yudha Wahana Abadi kebakaran berau