Mahligai Nusantara Fasilitasi UMKM Naik Kelas

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 21:06 WIB
SAATNYA NAIK KELAS: Deretan stan kain batik Kaltim memenuhi area Dome Balikpapan dalam ajang Mahligai Nusantara 2026. Salah satu yang menarik adalah Batik Zahro. PANDU/KP
SAATNYA NAIK KELAS: Deretan stan kain batik Kaltim memenuhi area Dome Balikpapan dalam ajang Mahligai Nusantara 2026. Salah satu yang menarik adalah Batik Zahro. PANDU/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kain batik dan wastra yang memenuhi area Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome Balikpapan bukan sekadar memamerkan motif khas Kalimantan.

Di balik setiap lembar kain, terdapat rantai usaha yang melibatkan pembatik, penjahit, perajin kriya hingga kelompok perempuan yang ikut menopang ekonomi daerah. Gambaran tersebut menjadi salah satu wajah Mahligai Nusantara 2026 yang digelar pada 11–13 September 2026.

Agenda yang diinisiasi Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Balikpapan ini dirancang tidak hanya sebagai ruang promosi produk lokal, tetapi juga mempertemukan pelaku UMKM dengan berbagai layanan pengembangan usaha.

Di dalam Dome, pengunjung dapat menemukan stan wastra dan batik khas Kalimantan, fashion, kriya, kuliner oleh-oleh Kaltim, pojok baca, pelatihan membatik, hingga berbagai stan edukasi dan layanan konsultasi.

Baca Juga: Pasar Murah Digelar Puluhan Kali di Balikpapan, Harga Komoditas Ini Masih Rawan Naik

Deretan pelaku wastra dan batik yang berpartisipasi antara lain Batik Shaho, Batik Poyung, Batik Zahro, Sekar Buen, Harum, Rumah Ampiek, Kurnia WP, Iwatik, Buen Were, Arnesta Batik, Batik Bulau Sayang, Batik Tunjung Langit, Batik Semoi Nusantara dan Batik Kuleng. Sementara dari sektor fashion dan kriya hadir GoThirty Handmade, Suraa Arts, Bleu by Astrid dan Nurm Collection.

Tiga UMKM sektor wastra dan ready-to-wear, yakni Batik Poyung dan Batik Zahro dari Balikpapan serta Batik Sekar Buen dari Penajam Paser Utara (PPU), sebelumnya berhasil menembus Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta setelah melalui proses kurasi. Ketiganya membukukan transaksi lebih dari Rp 80 juta selama mengikuti KKI 2026.

Batik Zahro yang didirikan Iin Endah Prianti, menjadi salah satu contoh bagaimana pembinaan UMKM dapat berkembang menjadi ekosistem usaha. Produk yang dikembangkan tidak hanya mengandalkan motif, tetapi juga inovasi pewarna alami dari limbah kayu bangkirai.

Baca Juga: Puluhan Tenant Ramaikan Pasar Murah Mahligai Nusantara, Perumda Pangkas Harga Beras dan Telur

Ia berharap, kegiatan Mahligai Nusantara dapat terus digelar dan menjadi ruang penting bagi pelaku usaha untuk bertemu, belajar dan memperluas jangkauan pasar. “Yang pertama, saya bersyukur dan berterima kasih sekali sama BI. Dengan semua pelatihan dan workshop, itu betul-betul membuat kita scale up, baik secara usaha bisnis maupun mindset,” ungkap Iin.

Bagi Iin, pendampingan tidak seharusnya membuat pelaku UMKM hanya berpikir tentang berjualan. Ada persoalan lebih besar yang perlu dipikirkan, yakni bagaimana sebuah inovasi dapat terus dikembangkan dan memberi manfaat setelah produk tersebut dipasarkan.

Dari sisi ekonomi, aktivitas Batik Zahro juga tidak berhenti pada pemilik usaha. Produksi melibatkan sejumlah pihak lain. Iin memberdayakan perempuan kepala keluarga melalui binaan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana. Selain itu, terdapat pula pekerja dengan disabilitas yang ikut dilibatkan.

“Batik Zahro ini jangan hanya untuk saya saja. Dia harus ada untuk masyarakat juga,” tegasnya. Rantai tersebut semakin panjang ketika kebutuhan produksi meningkat. Untuk pekerjaan membatik, Iin berkolaborasi dengan pembatik lokal Balikpapan. Ketika kain selesai diproduksi dan harus diolah menjadi pakaian, penjahit ikut mendapatkan pekerjaan.

Begitu pula ketika kain dikembangkan menjadi tas atau produk kriya. Perajin kriya dan pelaku UMKM lain ikut bergerak. “Kalau Batik Zahro sudah produksi, yang empat orang ini bekerja, pembatik mitra juga bekerja. Kalau mau jahit baju kain-kain saya, penjahitnya juga bekerja. Kalau mau bikin tas, perajin kerajinannya juga bekerja,” jelasnya.

Menurut Iin, pola tersebut menunjukkan bahwa satu UMKM dapat menjadi penggerak bagi pelaku usaha lain. “Jadi mereka semua dapat. Saya rasa teman-teman juga pasti sama. Kita memberdayakan banyak teman-teman perempuan, komunitas atau kader-kader di sekitar. Kita tidak mungkin berjalan sendirian,” katanya.

Baca Juga: Jadwal Pasar Murah BSCC Dome Balikpapan: Sedia Beras Murah hingga Tukar Elpiji

Digitalisasi menjadi bagian lain yang menurut Iin semakin sulit dipisahkan dari perkembangan bisnis wastra. Ia mencontohkan pengalaman pelaku wastra yang sebelumnya mengandalkan transaksi offline, tetapi mulai mendapatkan peluang lebih besar setelah berani masuk ke live streaming.

Menurutnya, peningkatan kemampuan digital yang diberikan melalui pelatihan BI sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan. “Kalau BI memberikan kita pelatihan-pelatihan tentang digital, itu memang sudah waktunya. Kita tidak bisa ketinggalan,” ujarnya.

Mahligai Nusantara 2026 pun akhirnya memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM tidak berhenti pada mempertemukan penjual dan pembeli. Di satu sisi terdapat produk lokal dan transaksi. Di sisi lain ada pelatihan, teknologi, pembiayaan, perlindungan merek, sertifikasi, digitalisasi hingga akses ekspor.

Di tengahnya, pelaku usaha seperti Batik Zahro menjadi contoh bahwa ketika UMKM tumbuh, manfaat ekonominya dapat menyebar ke pembatik, penjahit, perajin kriya dan kelompok masyarakat yang berada dalam rantai produksinya.

Baca Juga: Menggeris Bawa Kayu Kaltim ke Rekor MURI, Buat Jam Tangan Kayu Terkecil, Dibanderol Mulai Rp 4 Juta

Dengan pendekatan tersebut, wastra tidak hanya diposisikan sebagai produk budaya yang dipamerkan, tetapi sebagai komoditas ekonomi kreatif yang dapat menciptakan pekerjaan, memperluas pasar dan menggerakkan pelaku usaha lain di sekitarnya.

BERANI INVESTASI

Bagi Renny Katrina Manurung, digitalisasi bukan sekadar perkara mengunggah foto produk ke media sosial. Di balik layar, ada keberanian pemilik usaha untuk berinvestasi, membangun tim, menyusun strategi, dan memanfaatkan teknologi agar bisnis tidak berhenti pada skala yang sama.

Pesan itu dibawa Renny, Owner Dame Ulos saat pertama kali hadir sebagai narasumber dalam rangkaian Mahligai Nusantara 2026 di Balikpapan. Renny menjadi pembicara dalam Workshop Digital Scale Up bertajuk “Memanfaatkan Social Commerce, Teknologi Praktis & AI Agar UMKM Naik Kelas”.

Forum tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman bagi pelaku UMKM untuk melihat teknologi bukan sekadar alat promosi, tetapi bagian dari strategi memperbesar bisnis. Renny memiliki pengalaman panjang dalam proses tersebut. Sekitar 2019, Dame Ulos mendapatkan pendampingan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sibolga.

Salah satu persoalan yang dihadapi ketika itu adalah keterbatasan ruang untuk memperkenalkan produk. BI kemudian membantu dengan menyediakan galeri dan etalase untuk memajang produk ulos yang dikembangkan Dame Ulos.

Baca Juga: Grab dan OVO Finansial Perkuat Literasi Bisnis 1.400 Merchant lewat Teras Perwira 2026 

Pendampingan tersebut kemudian berkembang ke akses promosi yang lebih luas. Produk Dame Ulos beberapa kali dibawa BI mengikuti pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI), hingga eksibisi di luar negeri.

Dari sana, bisnis yang berangkat dari kerajinan tenun tradisional Batak itu terus berkembang. Dame Ulos kini memberdayakan sekitar 200 perempuan penenun. Kapasitas produksinya mencapai sekitar 1.400 ulos per bulan, baik dalam bentuk kain maupun pakaian siap pakai. Sementara rata-rata penjualan berada di kisaran 1.200 ulos setiap bulan.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM berbasis budaya dapat menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas ketika akses pasar, pendampingan dan strategi bisnis berjalan beriringan.

Karena itu, saat berbicara di Mahligai Nusantara 2026, Renny tidak hanya menyampaikan teori digital marketing. Ia membagikan pengalaman yang menurutnya relevan dengan persoalan yang sedang dihadapi banyak pelaku UMKM.

Baca Juga: Mulai Oktober 2026, Warga 17 Tahun ke Atas Akan Dapat Rekening BRI

“Saya excited karena mayoritas banyak wastra di sini batik, kemudian sudah ada dari tenunnya. Ini memang dibuat untuk menaikkan scale up-nya, khususnya digital marketing,” ucap Renny.

Menurutnya, pelaku UMKM perlu mulai berani menggunakan teknologi seperti artificial intelligence (AI), live shopping dan berbagai kanal social commerce untuk memperluas jangkauan konsumen. Teknologi tersebut, kata dia, dapat menjadi alat untuk mencegah penjualan berhenti pada angka yang sama. Namun, teknologi saja tidak cukup apabila pemilik usaha tidak bersedia melakukan investasi.

“Tadi sudah saya sampaikan juga kepada beberapa UMKM agar mereka bisa menggunakan teknologi AI, kemudian live shopping, agar peningkatan penjualan mereka tidak stuck di situ-situ saja,” ujarnya.

Persoalan berikutnya justru berada di internal bisnis. Renny menilai banyak founder UMKM masih berusaha mengerjakan seluruh pekerjaan sendiri, termasuk membuat konten, mengelola pemasaran dan menjalankan operasional. Padahal, ketika usaha mulai berkembang, pola tersebut justru dapat menjadi hambatan.

“Kalau founder-foundernya tidak bisa kerja untuk buat konten, ya sudah, dicari saja orang-orang yang bisa buat itu, yang sesuai dengan mereka, tapi punya job list yang jelas,” tegasnya.

Menurut Renny, keberanian membangun tim merupakan bagian penting dari proses scale up. Founder tidak harus menjadi orang yang bisa mengerjakan seluruh hal, tetapi harus mampu menentukan orang yang tepat untuk menjalankan fungsi tertentu.

Baca Juga: Stok Beras Bulog Kaltim-Kaltara 15.100 Ton, Aman hingga 2027

Ia menyebut sedikitnya ada tiga fondasi yang perlu diperhatikan pelaku usaha ketika ingin naik kelas, yakni people, strategy dan keberanian melakukan investasi. Investasi tersebut tidak selalu berarti membeli peralatan mahal. Dalam konteks digitalisasi, investasi bisa berbentuk biaya untuk membangun tim, produksi konten, pengelolaan media sosial, pengembangan pemasaran hingga pemanfaatan teknologi.

“Seorang founder itu juga harus punya strategi. Jadi ada tiga tadi yang saya sampaikan, harus ada people dan harus ada strateginya,” katanya. Renny juga mengingatkan agar pelaku UMKM tidak terjebak dalam pola pikir bahwa kondisi internal yang belum ideal menjadi alasan untuk tidak berkembang.

Keraguan seperti merasa tim belum sesuai ekspektasi atau kemampuan produksi masih terbatas, menurutnya, harus diubah menjadi persoalan yang dicari solusinya.

Pasalnya, target scale up tidak berhenti pada mempertahankan omzet yang sudah ada. Tantangannya adalah bagaimana sebuah bisnis mampu mengubah skala penjualan dari puluhan atau ratusan juta menjadi jauh lebih besar dengan sistem yang lebih kuat.

Baca Juga: Toyota Siapkan Mobil Terbaru Seharga Rp 100 Jutaan dengan Konsumsi BBM Tembus 24 Km Per Liter

Dalam konteks Mahligai Nusantara 2026, Renny melihat, ajang ini memberikan ruang yang cukup luas bagi pelaku UMKM untuk memperoleh insight secara langsung. Ia bahkan tidak hanya mengandalkan sesi workshop. Saat berkeliling area kegiatan, Renny berupaya melihat langsung produk dan persoalan yang dihadapi peserta.

“Untuk Mahligai menurut saya cukup banyak insight yang mereka terima. Tadi saya jalan-jalan, setiap yang menjawab masalah mereka saya kasih tahu. Saya sharing, bukan berarti semua yang saya bisa harus saya ajarkan,” tuturnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Mahligai Nusantara 2026 yang menggabungkan pameran produk dengan berbagai layanan pengembangan UMKM. Selain ruang promosi, terdapat konsultasi desain kemasan, layanan perbankan, edukasi keuangan dan investasi, konsultasi merek dan kekayaan intelektual, perizinan usaha, sertifikasi halal, edukasi ekspor hingga pengembangan produk dan inovasi teknologi.

Bagi Renny, penguatan digital juga harus berjalan bersama penguatan produk lokal. Wastra dan kerajinan tradisional tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai cendera mata atau produk budaya. Potensi ekonominya justru dapat diperbesar apabila pelaku usaha mampu mengemas cerita, kualitas dan identitas produk menjadi sesuatu yang relevan dengan konsumen masa kini.

Pengalaman Dame Ulos menjadi salah satu gambaran. Dari pendampingan awal berupa akses galeri dan etalase, produk kemudian memperoleh kesempatan tampil di pameran nasional hingga luar negeri. Pertumbuhan tersebut kemudian berdampak pada ratusan perempuan penenun yang terlibat dalam rantai produksinya.

Renny berharap pengembangan produk berbasis budaya Indonesia tidak berhenti sebagai simbol atau sekadar oleh-oleh. “Semoga karya rakyat Indonesia tetap dikedepankan. Bukan menjadi sebuah oleh-oleh saja, bukan cuma cendera mata,” ujarnya. Ia juga menilai kemitraan dan kolaborasi menjadi penting untuk memastikan pelaku UMKM tidak berjalan sendiri dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen.

Baca Juga: Perkuat Pembinaan Atlet, ICF Kaltim Serahkan SK Kepengurusan 5 Daerah di Rapimprov

Sementara itu, kehadiran Renny di Mahligai Nusantara 2026 memperlihatkan satu hal penting dalam pengembangan ekonomi kreatif: produk tradisional tidak harus kehilangan identitas untuk masuk ke era digital.

Justru dengan mempertahankan akar budaya, kemudian memperkuat manajemen, SDM, strategi pemasaran dan teknologi, produk lokal memiliki peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas.

Dame Ulos menjadi salah satu contohnya. Ulos yang dahulu sangat lekat dengan tradisi Batak kini dikembangkan menjadi kain dan ready-to-wear, dipasarkan melalui berbagai kanal, dan melibatkan sekitar 200 perempuan penenun dalam proses produksinya.

Bagi Renny, naik kelas bukan sekadar mengejar angka penjualan. Scale up berarti membangun bisnis yang mampu tumbuh tanpa membuat seluruh beban tetap berada di tangan founder. “Kalau UMKM seperti itu, tidak pernah naik kelas. Karena bagaimana caranya yang seratusan juta bisa menjadi lebih besar, itu yang namanya scale up,” pungkasnya.

Baca Juga: Sopir Kadis dan Pengacara Terlibat Narkoba Malaysia, Kapolda Kaltim Pastikan Tak Ada Kebal Hukum

Yang membuat konsep Mahligai Nusantara berbeda adalah produk yang dipamerkan berdampingan dengan ekosistem layanan yang dibutuhkan pelaku usaha untuk berkembang.

Pengunjung maupun UMKM dapat mengakses konsultasi Sobat UMKM, desain kemasan, layanan perbankan, edukasi keuangan dan investasi, konsultasi merek dan kekayaan intelektual, perizinan usaha, edukasi ekspor, akses ekspor, sertifikasi halal, sertifikasi pengolahan produk, hingga pengembangan produk dan inovasi teknologi.

Bank Indonesia juga menghadirkan edukasi sistem pembayaran, literasi BI, Gerakan Pangan Murah, digitalisasi sistem pembayaran dan penukaran uang. Adapun Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, rangkaian kegiatan tersebut disusun untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha sekaligus membuka peluang agar produk lokal tidak berhenti di pasar daerah.

Pada hari pertama, Jumat (11/9), fokus kegiatan diarahkan pada digitalisasi dan penguatan kapasitas generasi muda. Salah satunya melalui workshop “Digital Scale Up” yang membekali UMKM dengan pemanfaatan social commerce, marketplace, content marketing, live commerce hingga artificial intelligence (AI) untuk riset dan perluasan pasar.

Digitalisasi juga dibahas melalui talkshow inovasi pembayaran untuk mendorong usaha dan ekonomi daerah. Materi mencakup perkembangan QRIS TAP, KKI dan QRIS Cross Border.

Di sisi lain, generasi muda mendapatkan ruang melalui Akademi Kreatif Muda Nusantara (AKMN) 2026. Fashion Show Competition AKMN 2026 dan Kompetisi Tari Kreasi Nusantara menjadi bagian dari upaya mempertemukan kreativitas anak muda dengan potensi ekonomi kreatif.

Baca Juga: Wajib Garang di Laga Tandang, Borneo Siap Bermain Lebih Efektif di Kandang Persijap

Dari sektor kuliner, kompetisi “Ngaduk Rasa Produk Lokal” menjadi ruang bagi peserta untuk mengolah bahan pangan lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Memasuki Sabtu (12/9), perhatian bergeser pada kualitas produk. Workshop inovasi kemasan diarahkan agar UMKM tidak hanya menghasilkan kemasan yang menarik secara visual, tetapi juga fungsional dan mampu meningkatkan nilai jual.

Aspek kekayaan intelektual turut masuk dalam pembahasan tersebut. Dengan begitu, produk lokal tidak berhenti pada persoalan tampilan, tetapi memiliki identitas dan perlindungan yang lebih kuat.

"Besok (hari ini) ada pula workshop wastra dan ready-to-wear yang diarahkan untuk membawa kekayaan desain lokal ke bentuk produk yang lebih mudah digunakan dan mengikuti perkembangan tren," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Mahligai Nusantara 2026 ekonomi kreatif UMKM Balikpapan batik kaltim Bank Indonesia Balikpapan