KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Gejolak geopolitik dan tekanan inflasi global masih menjadi bayang-bayang perekonomian dunia. Konflik Iran yang berlarut hingga belum terbukanya Selat Hormuz ikut mengganggu jalur distribusi energi dan memicu volatilitas harga minyak serta komoditas.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (OJK Kaltim-Kaltara) Misran Pasaribu mengatakan, kondisi tersebut menjadi bagian dari perkembangan yang dinilai dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK. “Sektor Jasa Keuangan (SJK) stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global,” kata Misran.
Risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah masih tinggi seiring konflik di Iran yang belum berakhir. Sementara itu, Selat Hormuz masih tertutup sehingga berdampak terhadap distribusi energi. Gangguan tersebut turut menyebabkan volatilitas harga minyak dan komoditas.
Baca Juga: Pemkab PPU Kaji Opsi Tarik Dana Mengendap Rp 4,189 Miliar di BPRS Bank Manfaat
Tekanan inflasi global pun masih tinggi. Kondisi itu diperberat El Nino yang berkepanjangan dan berdampak pada kekeringan serta kebakaran hutan di berbagai kawasan.
Dampaknya ikut merembet ke sektor pangan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko gagal panen dan kenaikan harga pangan global. Di tengah situasi itu, pertumbuhan ekonomi dunia juga mulai melambat. Mayoritas negara mencatatkan perlambatan pertumbuhan pada triwulan II-2026.
“Momentum pertumbuhan ekonomi global cenderung termoderasi, tercermin dari mayoritas negara yang mencatatkan perlambatan pertumbuhan pada triwulan II-2026,” ujar Misran. Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi turun dan berada di bawah ekspektasi. Pasar tenaga kerja juga mengalami moderasi, sedangkan inflasi masih tinggi meski menunjukkan tren menurun.
Kondisi serupa terlihat di Tiongkok. Pertumbuhan PDB pada triwulan II-2026 melambat menjadi 4,3 persen yoy. Data terkini juga mengindikasikan pelemahan yang masih berlanjut, baik pada sektor produksi maupun permintaan domestik.
Baca Juga: APBD Bontang Naik Jadi Rp 1,8 Triliun, tapi Target PAD Dipangkas Rp 9,9 Miliar
Tekanan turut terlihat di pasar keuangan global. Imbal hasil obligasi pemerintah negara maju melanjutkan kenaikan, didorong meningkatnya kebutuhan pendanaan belanja modal hyperscalers di tengah kebijakan moneter yang tetap restriktif. Aliran keluar dana nonresiden di pasar keuangan global juga masih terjadi, terutama pada beberapa negara emerging markets. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo