KALTIMPOST.ID, Rencana Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) untuk menjual sebagian saham operasional Piala Dunia menuai penolakan keras dari berbagai asosiasi sepak bola dunia. FIFA berniat membentuk anak perusahaan swasta bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Meskipun mengklaim akan tetap memegang porsi saham mayoritas, FIFA menargetkan dana segar hingga 4,2 miliar Dolar AS (sekitar Rp75,94 triliun) pada akhir tahun ini dari skema tersebut.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, dilaporkan telah menyebarkan surat kepada asosiasi anggota. Dalam surat tersebut, ia menjanjikan dana hibah sebesar 40 juta Dolar AS (sekitar Rp723,3 miliar) bagi setiap asosiasi yang bersedia mendukung rencana ini, dengan syarat dokumen dukungan ditandatangani paling lambat 19 September.
Penolakan Keras dari Berbagai Konfederasi
Langkah sepihak yang diambil FIFA ini memicu gelombang kritik dari konfederasi sepak bola di berbagai belahan dunia:
- Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC): AFC mengungkapkan kekecewaannya lantaran keputusan strategis yang berdampak besar pada masa depan finansial dan komersial sepak bola ini diumumkan tanpa konsultasi terlebih dahulu. AFC menegaskan bahwa inisiatif semacam ini wajib mengedepankan prinsip transparansi, tata kelola yang bersih, serta memberi waktu yang cukup bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengkaji implikasi hukum, komersial, dan strategisnya.
- Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) & Uni Eropa: UEFA menilai kebijakan FIFA ini sama saja dengan "menjual jiwa" sepak bola. Merespons situasi tersebut, UEFA langsung menggelar pertemuan darurat secara virtual. Keprihatinan senada disampaikan Komisaris Olahraga Uni Eropa, Glenn Micallef. Ia menyoroti potensi benturan kepentingan dan terancamnya independensi FIFA jika kewenangan regulasi olahraga diselaraskan dengan kepentingan investor swasta.
- Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF): CONCACAF mengaku terkejut karena baru mengetahui kabar ini melalui pemberitaan media. Mereka menyayangkan minimnya proses hukum dan diskusi formal dengan badan pengatur daerah. CONCACAF mengingatkan bahwa FIFA dan seluruh konfederasi memiliki tanggung jawab moral sebagai pengawal olahraga ini, sehingga setiap keputusan besar harus berpijak pada tata kelola yang baik dan keberlanjutan jangka panjang.