KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Beberapa hari terakhir, kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) mengalami hujan lebat yang dipengaruhi oleh fenomena Madden Julian Oscillation (MJO).
Fenomena ini adalah dinamika atmosfer yang terjadi di wilayah tropis, dengan pergerakan sistem awan hujan sepanjang khatulistiwa, dari Samudra Hindia sebelah timur Afrika hingga Samudra Pasifik, termasuk wilayah Indonesia.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menjelaskan tingginya curah hujan di IKN ini kepada Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, Jumat (12/7).
Dwikorita menjelaskan bahwa fenomena di IKN ini bersifat temporal dan biasanya terulang setiap 30 hingga 60 hari.
“Pada 7 Juli 2024, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini tentang fenomena MJO ini, yang sayangnya tidak bisa ditanggulangi karena intensitas anomali yang sangat kuat,” jelasnya.
BMKG mencatat sejak 1 Juni hingga 12 Juni 2024, sebelum Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) diterapkan, hujan terus terjadi di IKN. Setelah penerapan TMC, dari 14 Juni hingga 16 Juni 2024, hujan praktis tidak ada.
Oleh karena itu, BMKG akan mengintensifkan operasi TMC untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur IKN. Dwikorita juga melakukan kunjungan lapangan ke proyek pembangunan Bandara Nusantara dan Jalan Tol menuju kawasan IKN pada Sabtu (13/7).
Meskipun sebagian wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau, fenomena MJO di Samudra Hindia mempengaruhi pembentukan awan hujan di Indonesia bagian barat.
“Operasi TMC kali ini menargetkan 22 hari tanpa hujan agar pembangunan infrastruktur bisa optimal,” kata Dwikorita dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/7).
Berdasarkan laporan BMKG dan pekerja di pembangunan Bandara Nusantara, hanya 8 hari dari total 30 hari yang memiliki cuaca cerah di kawasan IKN.
Hal ini menjadikan operasi TMC sangat mendesak demi melancarkan pembangunan fasilitas bandara di IKN. Dwikorita juga menugaskan prakirawan BMKG untuk berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait pembangunan fasilitas IKN agar operasi TMC bisa dioptimalkan.
“Harapannya, seluruh infrastruktur tersebut bisa segera selesai dan fungsional sebelum pelaksanaan upacara HUT ke-79 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang,” tambahnya.
Operasi TMC sebelumnya terbukti efektif dalam memecah awan untuk meminimalisir hujan. Terdapat 10 sorti penerbangan penyemaian awan dengan total waktu terbang 21 jam 25 menit, menggunakan pesawat Casa 212-400 milik Skadron 4 TNI AU.
Total bahan semai yang digunakan adalah 8 ton bubuk natrium klorida (NaCl) dari 16 ton yang telah disiapkan. Penyemaian awan dilakukan di daerah berpotensi hujan di area pembangunan infrastruktur IKN, termasuk Bandara VVIP IKN dan Jalan Tol, dengan fokus pada daerah upwind untuk mencegah awan hujan masuk ke area pembangunan. Daerah penyemaian meliputi Selat Makasar, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dan Kabupaten Paser. (kip)
Editor : Thomas Priyandoko