KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pengawasan lalu lintas hewan kurban menuju Kalimantan Timur diperketat menjelang Iduladha 1447 Hijriah guna mencegah masuknya penyakit hewan menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), antraks hingga brucellosis.
Dokter Hewan Karantina Ahli Muda Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BBKHIT) Kaltim Yuke Novia Hardiyanti mengatakan setiap hewan ternak yang masuk wajib melalui pemeriksaan dokumen dan fisik di pintu pemasukan resmi. “Kami mengecek kelengkapan pemeriksaan dokumen dan fisik dari ternak tersebut,” katanya.
Dokumen yang diperiksa meliputi sertifikat kesehatan hewan, dokumen vaksin PMK dan LSD, hasil uji laboratorium, hingga sertifikat peternakan. Selain pemeriksaan administrasi, petugas juga memastikan kondisi fisik ternak bebas gejala klinis penyakit.
“Jika dilihat dari pemeriksaan fisiknya tidak ditemukan gejala klinis, maka sapi tersebut bisa langsung kami bebaskan,” ujarnya.
Baca Juga: MA Putuskan Tolak Kasasi Dua Terdakwa Pengadaan Lahan Labkesda Bontang
Yuke menyebut sedikitnya ada 15 penyakit hewan yang menjadi perhatian pengawasan jelang Iduladha tahun ini. "Yang mungkin sering dijumpai sekarang PMK, kemudian ada LSD kemudian ada antraks, brucellosis, kemudian ada juga parasit darah,” katanya.
Jika ditemukan ternak yang menunjukkan gejala penyakit di daerah asal, hewan tidak diperbolehkan diberangkatkan ke Kaltim.
Sementara itu, Pengamat Peternakan Universitas Mulawarman Ari Wibowo menilai pengawasan penyakit hewan harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari daerah asal hingga tingkat peternak.
Baca Juga: Dinilai Punya Dedikasi Pelestarian Budaya, Ismail Thomas Dianugerahi Penghargaan Naga Sasra
Dia menyoroti tantangan pengawasan PMK dari daerah pemasok ternak yang telah mendeklarasikan bebas PMK. “Di NTT itu mereka sudah declare bahwa mereka bebas PMK sehingga tidak ada vaksinasi PMK,” katanya.
Menurut Ari, penyebaran penyakit hewan bisa berlangsung cepat jika pengawasan biosecurity lemah. “Misalnya ada satu peternakan sudah terinfeksi, datang teman-temannya ngobrol kemudian pindah,” ujarnya.
Di sisi lain, Plt Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim Fadli Sufiani mengatakan pemerintah telah menyiapkan vaksinasi PMK dan LSD untuk mengantisipasi penyebaran penyakit. “Kami sudah menyiapkan vaksinasi juga untuk PMK kurang lebih 10.000, kemudian LSD itu ada 5.000,” katanya.
Meski demikian, pengawasan masih menghadapi tantangan berupa masuknya ternak melalui jalur ilegal di sejumlah wilayah perairan. “Karena banyaknya tempat pintu pemasukan yang ilegal itu ya dan di Samarinda ini kan, sungainya panjang,” kata Yuke.
Dia memastikan ternak yang tidak memenuhi syarat dokumen maupun kesehatan dapat ditahan hingga ditolak masuk ke Bumi Etam. (*)
Editor : Sukri Sikki