Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Puncak Kemarau Juli–September, BMKG Wanti-Wanti Risiko Karhutla dan ISPA di Kaltim

Ari Arief • Kamis, 9 Juli 2026 | 15:08 WIB
KARHUTLA: BMKG prediksi puncak kemarau terjadi pada Juli-September dan mewanti-wanti warga terhadap karhutla dan ISPA.(IST)
KARHUTLA: BMKG prediksi puncak kemarau terjadi pada Juli-September dan mewanti-wanti warga terhadap karhutla dan ISPA.(IST)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan. Puncak musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung bertahap mulai Juli hingga September 2026. Wilayah Kaltim, yang memiliki rekam jejak kerawanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menjadi salah satu daerah yang harus memperketat mitigasi dini.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan, puncak kemarau akan meluas secara bertahap di seluruh Indonesia. Pada Juli ini, kekeringan mulai melanda sekitar 12,26 persen wilayah daratan, lalu melonjak drastis pada Agustus hingga mencakup 48,84 persen wilayah, dan menyisakan 25,41 persen wilayah terdampak pada September nanti.

Baca Juga: Gagal Tes Akpol Akibat Kondisi Gigi, Calon Taruni Adukan ke Kapolda NTT

Di Kaltim, kondisi cuaca yang semakin kering ini berpotensi memicu lonjakan titik panas (hotspot). Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, kawasan seperti Kutai Timur, Berau, dan Penajam Paser Utara (PPU) kerap menjadi perhatian intensif akibat ancaman karhutla yang juga berisiko menurunkan kualitas udara.

"Pemerintah daerah diharapkan menyiapkan mekanisme respons cepat untuk antisipasi memburuknya kualitas udara yang berpotensi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)," ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena.

Baca Juga: Gugat UU MD3 ke MK, Mahasiswa Minta Masa Jabatan Anggota DPR dan DPRD Dibatasi

Antisipasi Sektor Pangan dan Air Bersih

Selain mengantisipasi ISPA dan karhutla, BMKG meminta sektor sumber daya air di Kaltim bergerak cepat. Perbaikan jaringan distribusi air dan optimalisasi waduk—seperti Waduk Manggar di Balikpapan atau Waduk Teritip—sangat krusial guna memastikan pasokan air bersih warga Benua Etam tidak terganggu selama periode kering.

Di sektor pertanian, para petani di sentra pangan Kaltim disarankan segera menyesuaikan jadwal tanam. Petani diimbau beralih ke varietas yang lebih tahan kekeringan atau menanam tanaman hortikultura yang membutuhkan lebih sedikit air dan memiliki siklus panen lebih pendek.

Baca Juga: Kebakaran Maut di Sungai Parit PPU, Dua Bocah Tewas Terbakar

Sebagai langkah darurat, BMKG bersama pemerintah pusat juga siap menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan secara situasional jika kondisi atmosfer di lapangan mendesak. Masyarakat Kaltim pun diimbau untuk mulai bijak dan hemat dalam menggunakan air bersih, serta menghindari aktivitas bakar-bakar lahan yang memicu kebakaran besar.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#Juli-September #kemarau #bmkg #kaltim