KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Pondok Modern Asy-Syifa Balikpapan mengembangkan model pendidikan yang menggabungkan kurikulum nasional dengan sistem pendidikan pesantren modern.
Melalui konsep tersebut, para santri tidak hanya memperoleh ijazah formal dari pemerintah, tetapi juga ijazah kepesantrenan yang menjadi ciri khas pendidikan pondok.
Pada pagi hingga siang hari, proses pembelajaran berlangsung dengan memadukan mata pelajaran formal sesuai kurikulum pemerintah bersama materi kepesantrenan yang menjadi ciri khas pendidikan Gontor. Saat lulus, santri memperoleh dua ijazah, yakni ijazah Madrasah Aliyah dari pemerintah dan ijazah pondok.
Baca Juga: Asy-Syifa Andalkan Alumni untuk Jaga Kualitas Pendidikan Pesantren
Drs. H. Alfi Taufik, MM yang merupakan salah satu pendiri Pondok Modern Asy-Syifa Balikpapan menjelaskan bahwa Asy-Syifa mengusung tipologi pesantren modern yang berbeda dengan pesantren salafiyah.
"Kami memakai dua kurikulum sekaligus. Kurikulum Kementerian Agama seratus persen dan kurikulum Pondok Modern Gontor juga seratus persen. Keduanya kami integrasikan dalam kegiatan belajar sehari-hari," ujarnya.
Menurut Alfi, sistem tersebut memungkinkan santri memperoleh keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu umum. "Anak-anak kami tidak hanya belajar ilmu agama. Mereka juga mendapatkan ilmu pengetahuan umum sehingga memiliki bekal yang lengkap ketika melanjutkan pendidikan," katanya.
Model pendidikan tersebut mulai menunjukkan hasil dalam satu dekade terakhir. Banyak alumni Asy-Syifa berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi luar negeri, seperti Universitas Al-Azhar Mesir, perguruan tinggi di Yaman, hingga Universitas Islam Madinah.
Baca Juga: Asy-Syifa Kehilangan 25 Persen Target Santri Baru, Sekolah Swasta Ikut Terdampak
Sebagian memperoleh beasiswa, sementara lainnya melanjutkan studi menggunakan biaya mandiri. "Alhamdulillah dalam sepuluh tahun terakhir semakin banyak alumni kami yang diterima kuliah di luar negeri. Banyak juga yang melanjutkan sampai jenjang magister bahkan doktor," kata Alfi.
Ia menilai keberhasilan alumni menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren modern mampu bersaing dengan sekolah umum.
Selain penguasaan ilmu agama, lulusan pesantren juga dibekali kemampuan bahasa asing, kepemimpinan, serta karakter mandiri yang menjadi nilai tambah ketika memasuki dunia pendidikan tinggi maupun dunia kerja.
"Kami ingin melahirkan lulusan yang mampu bersaing secara akademik tetapi tetap memiliki akhlak dan karakter yang kuat," ujarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo