Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mengenal Vitiligo: Penyakit Kulit Bercak Putih yang Sering Disalahpahami, Benarkah Tidak Bisa Disembuhkan?

Dwi Puspitarini • Senin, 2 Desember 2024 | 06:35 WIB
Vitiligo tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga kepercayaan diri.
Vitiligo tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga kepercayaan diri.

 

 

KALTIMPOST.ID, Pernahkah kamu melihat bercak putih di kulit seseorang atau bahkan di kulitmu sendiri?

Kondisi ini dikenal sebagai vitiligo, yaitu hilangnya warna kulit pada area tertentu yang menyebabkan bercak putih mencolok.

Meski tidak menular atau berbahaya secara fisik, vitiligo sering kali memengaruhi kepercayaan diri penderitanya. Tapi, apa sebenarnya yang menyebabkan vitiligo, dan bagaimana cara menyikapinya?

 Baca Juga: HIV/AIDS: Saat Stigma Lebih Menyakitkan dari Penyakit

Vitiligo terjadi karena melanosit, sel-sel penghasil pigmen yang memberi warna pada kulit, mati atau berhenti berfungsi.

Akibatnya, kulit kehilangan warna alami pada area tertentu, seperti wajah, tangan, kaki, hingga lipatan tubuh seperti ketiak atau selangkangan. Kondisi ini bisa menyerang siapa saja, tanpa memandang usia atau jenis kelamin.

Menurut dokter kulit, vitiligo sering dikaitkan dengan gangguan autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat.

Vitiligo juga dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan lain, seperti tiroiditis Hashimoto atau diabetes tipe 1.

 Baca Juga: Terbang di Udara dengan Aerial Yoga: Kunci Tubuh Langsing dan Fleksibel ala Idol K-Pop

Gejala utama vitiligo ditandai dengan munculnya bercak putih mencolok pada kulit. Area tubuh yang sering terdampak meliputi tangan dan wajah, yang biasanya terpapar sinar matahari.

Selain itu, lipatan kulit seperti ketiak dan selangkangan juga rentan terkena. Gejala lainnya dapat terlihat di sekitar lubang tubuh, seperti mulut, hidung, atau mata.

Dalam beberapa kasus, rambut di area yang terdampak bisa berubah putih, bahkan warna dalam mulut atau retina mata juga dapat terpengaruh, meskipun lebih jarang terjadi.

 Baca Juga: Silent Walking: Tren Sederhana yang Mengubah Cara Kita Menikmati Hidup

Penyebab vitiligo hingga kini belum dapat dipastikan secara pasti. Namun, ada beberapa faktor risiko yang telah diidentifikasi.

Faktor genetik menjadi salah satunya, terutama jika ada riwayat keluarga yang menderita vitiligo.

Selain itu, vitiligo kerap terjadi bersamaan dengan penyakit autoimun. Stres emosional atau fisik juga diketahui dapat memicu gejala.

Paparan sinar matahari berlebihan yang merusak sel kulit juga berkontribusi pada kondisi ini.

 Baca Juga: Fenomena Generasi Strawberry: Salah Siapa? Orang Tua, Sekolah, atau Lingkungan?

Vitiligo tidak dapat disembuhkan, tetapi ada sejumlah cara untuk mengelola dan mengurangi dampaknya.

Salah satu metode adalah menggunakan krim kortikosteroid, yang dapat membantu memulihkan warna kulit pada beberapa pasien.

Selain itu, terapi fototerapi UVB menjadi opsi untuk merangsang produksi melanin agar warna kulit kembali normal. Pada kasus yang lebih parah, tato medis digunakan untuk menutupi bercak putih.

 Baca Juga: Mau Menaklukkan Hati Gen Z? Simak Kriteria Pasangan Idealnya!

Pilihan pengobatan lainnya adalah prosedur cangkok kulit, yang diterapkan pada pasien dengan kondisi vitiligo berat.

Prosedur ini melibatkan pemindahan kulit dari bagian tubuh yang tidak terdampak ke area yang terkena.

Semua metode ini bertujuan untuk membantu pasien menghadapi vitiligo dengan lebih percaya diri, meskipun hingga kini belum ada solusi untuk menghilangkan kondisi ini sepenuhnya.

 Baca Juga: Kale: Superfood Terbaik dengan Manfaat Luar Biasa yang Jarang Diketahui

Bagi penderita vitiligo, menjaga kesehatan kulit menjadi prioritas utama. Salah satu langkah yang disarankan adalah menggunakan tabir surya untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV yang berbahaya.

Selain itu, memilih pakaian pelindung seperti baju berlengan panjang dan topi juga dapat memberikan perlindungan tambahan.

Mengelola stres juga penting, karena teknik relaksasi seperti yoga dapat membantu menjaga keseimbangan tubuh dan mental.

 Baca Juga: Cuaca Ekstrem, Sakit Tenggorokan? Ini Cara Mencegah dan Mengatasinya

Terdapat beberapa mitos yang keliru mengenai vitiligo, yang perlu diluruskan. Salah satunya adalah anggapan bahwa vitiligo menular, padahal kondisi ini sama sekali tidak bisa menyebar melalui kontak fisik.

Mitos lainnya adalah bahwa vitiligo hanya terjadi pada individu dengan kulit gelap. Faktanya, vitiligo dapat dialami oleh siapa saja, meskipun memang lebih terlihat pada kulit yang lebih gelap.

Banyak dari mereka merasa terisolasi akibat stigma yang melekat pada kondisi ini. Terapi konseling atau bergabung dengan komunitas pendukung dapat memberikan rasa nyaman dan membantu mereka membangun rasa percaya diri untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.(*)

 

 Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel 

Editor : Dwi Puspitarini
#vitiligo menular #penyakit kulit #self-love #melanosit #tato medis #Gejala utama vitiligo #kesehatan kulit #kesehatan #vitiligo #kulit #perawatan kulit #penyakit langka #cangkok kulit #penyakit autoimun