KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kolesterol tinggi dalam darah merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit serius, seperti serangan jantung dan stroke. Meski kerap tak menunjukkan gejala, kondisi ini tetap perlu diwaspadai.
Kolesterol tinggi atau hiperkolesterolemia umumnya tidak menimbulkan gejala khusus. Karena itu, banyak orang baru menyadari kadar kolesterolnya tinggi setelah menjalani pemeriksaan rutin, atau bahkan setelah mengalami gangguan kesehatan serius.
Satu-satunya cara untuk memastikan kadar kolesterol dalam darah adalah melalui pemeriksaan laboratorium. Tes darah dapat mengukur kolesterol total, kolesterol LDL (jahat), HDL (baik), dan kadar trigliserida.
Gejala yang Mungkin Muncul pada Kasus Genetik
Pada sebagian kecil kasus, terutama yang berkaitan dengan hiperkolesterolemia familial — suatu kondisi genetik yang menyebabkan kadar kolesterol sangat tinggi sejak usia muda — gejala dapat muncul lebih dini. Tanda-tanda tersebut meliputi:
- Xanthomata: Benjolan kekuningan pada persendian atau tendon, terutama di tangan, kaki, atau pergelangan kaki.
- Xanthelasma: Endapan kekuningan di sekitar kelopak mata.
- Arkus kornea: Cincin putih atau abu-abu di sekitar iris mata.
Diagnosis Melalui Tes Darah
Tes kolesterol biasanya dilakukan dengan mengambil sampel darah dari vena pasien. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat, kadar kolesterol yang dianggap ideal adalah:
- LDL: < 100 mg/dL
- HDL: ≥ 40 mg/dL
- Kolesterol total: < 200 mg/dL
- Trigliserida: < 150 mg/dL
Biasanya, pasien diminta berpuasa selama 9–12 jam sebelum pengambilan darah dilakukan untuk hasil yang akurat.
Mengapa Tes Kolesterol Penting?
Kolesterol berlebih dapat menumpuk dalam pembuluh darah dan membentuk plak yang menyumbat aliran darah. Jika plak tersebut pecah, bisa terjadi penggumpalan darah yang menyebabkan serangan jantung atau stroke.
Karena tidak menimbulkan gejala, tes kolesterol rutin menjadi penting untuk deteksi dini. Pemeriksaan berkala dapat membantu mencegah komplikasi serius yang bisa mengancam nyawa.
Frekuensi Tes Kolesterol yang Disarankan
Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), anak-anak sebaiknya melakukan pemeriksaan kolesterol pertama kali pada usia 9–11 tahun, dan diulang setiap lima tahun.
Untuk orang dewasa, berikut panduan pemeriksaan yang disarankan:
- Usia 45–65 tahun (pria) dan 55–65 tahun (wanita): setiap dua tahun.
- Di atas 65 tahun: setiap tahun.
- Pemeriksaan lebih sering dianjurkan bagi mereka yang memiliki faktor risiko, seperti:
- Riwayat keluarga dengan penyakit jantung atau kolesterol tinggi.
- Tekanan darah tinggi.
- Perokok aktif.
- Kelebihan berat badan atau obesitas.
Kesimpulan
Kolesterol tinggi sering kali tidak terdeteksi tanpa pemeriksaan medis. Oleh karena itu, deteksi dini melalui tes darah sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang memiliki gaya hidup tidak sehat atau riwayat keluarga dengan penyakit jantung. Langkah ini penting guna mencegah komplikasi kesehatan serius di kemudian hari.
Editor : Uways Alqadrie