KALTIMPOST.ID, Hantavirus mendadak menjadi perhatian dunia setelah wabah mematikan terjadi di kapal ekspedisi Belanda, MV Hondius.
Kapal ekspedisi MV Hondius diketahui melakukan perjalanan dari Argentina menuju kawasan Atlantik Selatan dan Antartika.
Pada awal April 2026, sejumlah penumpang mulai mengalami demam dan gangguan pernapasan.
Kondisi itu mulanya diduga karena kelelahan perjalanan, namun situasi berubah ketika beberapa penumpang mengalami pneumonia berat hingga gagal napas dalam waktu singkat.
Berdasarkan laporan Disease Outbreak News WHO, kasus pertama dilaporkan pada 2 Mei 2026.
WHO melaporkan sedikitnya delapan kasus ditemukan dalam klaster tersebut dengan tiga korban meninggal dunia.
Baca Juga: Masa Inkubasi Hingga 45 Hari, Panduan Lengkap Menghadapi Ancaman Virus Nipah
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan beberapa pasien terkonfirmasi terinfeksi Andes hantavirus atau Andes virus (ANDV).
Di tengah kekhawatiran global tersebut, media sosial juga ramai membahas isu bahwa hantavirus merupakan efek samping vaksin Covid-19 Pfizer. Benarkah?
Berikut ini ulasan mengenai penyakit hantavirus, cara penularannya, hingga fakta tentang isu efek vaksin Covid-19 dan ada atau tidak di Indonesia.
Apa Itu Hantavirus?
Dilansir dari Halodoc.com, hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan terutama melalui tikus dan hewan pengerat lainnya. Virus ini dapat menyerang paru-paru, ginjal, pembuluh darah, hingga jantung.
Hantavirus termasuk penyakit zoonosis emerging, yakni penyakit dari hewan yang berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.
Laman Kemenkes BKPK menulis, virus ini bukan ditularkan oleh nyamuk atau makanan secara langsung. Penularannya paling sering terjadi melalui udara yang terkontaminasi kotoran tikus.
Baca Juga: Waspada RSV! Virus Perusak Saluran Napas Ini Sangat Menular, Jaga Kebersihan Jadi Kunci Utama!
Partikel urin, feses, atau air liur tikus yang mengering dapat bercampur dengan debu dan terhirup manusia.
Virus juga bisa masuk melalui luka terbuka atau kontak dengan permukaan yang tercemar. Karena itu, seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular hantavirus.
Laman ini juga mengatakan, Hantavirus sudah lama ada di Indonesia. Sejumlah studi menyebut, virus ini telah terdeteksi sejak tahun 1980-an.
Penelitian di berbagai kota besar menemukan, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar hantavirus meskipun tidak pernah terdiagnosis.
Cara Penularan Hantavirus
Penularan hantavirus paling umum terjadi melalui paparan kotoran tikus yang tercampur di udara.
Beberapa cara penularannya antara lain:
• Menghirup debu yang terkontaminasi urin atau feses tikus.
• Menyentuh permukaan tercemar lalu menyentuh mulut atau hidung.
• Kontak langsung dengan hewan pengerat.
• Paparan melalui luka terbuka.
• Gigitan tikus, meski lebih jarang.
Gejala Hantavirus yang Harus Diwaspadai
Baca Juga: Waspada! Virus Nipah Mewabah di India, Belum Ada Vaksin dan Mulai Ancam Gerbang Internasional
Gejala hantavirus biasanya muncul dalam waktu 1 hingga 8 minggu setelah seseorang terinfeksi.
Pada tahap awal, gejalanya mirip flu biasa, seperti: Demam dan menggigil, nyeri otot, sakit kepala, mual, sakit perut, diare, muntah.
Namun ketika penyakit berkembang, kondisi dapat memburuk dengan cepat dan menyerang paru-paru serta jantung.
Gejala berat hantavirus meliputi: Batuk, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, tekanan darah rendah, dan detak jantung tidak teratur.
Dalam kondisi parah, hantavirus dapat menyebabkan gagal napas hingga kematian.
Benarkah Hantavirus Efek Samping Vaksin Covid-19?
Media sosial ramai membahas klaim bahwa hantavirus merupakan efek samping vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech.
Isu tersebut muncul setelah beredarnya dokumen pengajuan lisensi vaksin Pfizer ke regulator Amerika Serikat tahun 2021 yang mencantumkan istilah “hantavirus pulmonary infection”. Namun, klaim tersebut tidak benar.
Mengutip laporan Reuters dari cnbcindonesia.com, daftar tersebut hanyalah kumpulan laporan seluruh kondisi medis yang muncul setelah seseorang menerima vaksin, tanpa membuktikan vaksin sebagai penyebabnya.
Pfizer juga menegaskan tidak ada bukti vaksin Covid-19 menyebabkan infeksi hantavirus. (*)
Editor : Almasrifah