KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Dunia kedokteran tanah air mengukir sejarah baru. Siloam Hospitals Asri bekerja sama dengan rumah sakit ternama asal Korea Selatan, Asan Medical Center, sukses melaksanakan operasi transplantasi ginjal dengan bantuan teknologi bedah robotik untuk pertama kalinya di Indonesia.
Keberhasilan ini menjadi tonggak sejarah (milestone) baru dalam pemanfaatan teknologi kedokteran mutakhir di Indonesia, yang menawarkan tingkat presisi jauh lebih tinggi serta hasil klinis yang lebih optimal bagi pasien.
Baca Juga: Lulusan SMA-SMK Bakal Bisa Ikut Magang Nasional? Ini Penjelasan Menaker
"Pelaksanaan transplantasi ginjal robotik ini merupakan bagian dari komitmen Siloam Hospitals Asri bersama Asan Medical Center dalam menghadirkan inovasi teknologi kesehatan guna meningkatkan kualitas layanan di Indonesia," tulis Siloam Hospitals Asri dalam keterangan resminya, Selasa (7/7).
Prosedur pembedahan canggih ini sejatinya telah sukses dilaksanakan pada 5 Juni 2026 lalu. Operasi dipimpin langsung oleh spesialis urologi terkemuka, Prof. DR. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), bersama tim dokter spesialis multidisiplin Siloam Hospitals Asri, serta mendapat supervisi ketat dari tim ahli transplantasi dan bedah robotik Asan Medical Center Korsel.
Baca Juga: Dinkes Balikpapan Ajak Orang Tua Perkuat Komunikasi Keluarga untuk Cegah HIV dan Perilaku Berisiko
Pasien yang beruntung menerima tindakan perdana ini adalah seorang pria berusia 57 tahun yang menderita penyakit ginjal stadium akhir akibat komplikasi hipertensi. Sebelum operasi, pasien tercatat harus bergantung pada mesin cuci darah (hemodialisis) rutin sebanyak dua kali seminggu sejak Juli 2025.
Tawarkan Banyak Keunggulan
Prof. Nur Rasyid menjelaskan, metode transplantasi ginjal berbantuan robot ini memiliki segudang keunggulan dibanding operasi konvensional (bedah terbuka). Di antaranya adalah visualisasi tiga dimensi (3D) yang jauh lebih jelas bagi dokter, instrumen bedah yang sangat fleksibel melebihi tangan manusia, serta sayatan luka yang minimal.
Baca Juga: Georgina Rodriguez Kirim Hadiah untuk Antonela, Bukti Hangatnya Persahabatan di Balik Rivalitas
"Dampaknya, risiko perdarahan dan nyeri pascaoperasi yang dirasakan pasien jauh lebih rendah. Teknologi ini juga sangat direkomendasikan dan memberi manfaat besar bagi pasien dengan kondisi khusus seperti obesitas atau penyandang diabetes melitus," urai Prof. Nur Rasyid.
Dalam ruang operasi, dokter mengendalikan instrumen robotik dengan akurasi sangat tinggi melalui konsol khusus, memastikan setiap detail pembuluh darah tersambung dengan sempurna sesuai standar internasional.
Baca Juga: Awas, Gusi Berdarah Bisa Jadi Tanda Awal Penyakit Ginjal Kronis
Pascaoperasi, kondisi pasien dilaporkan sangat baik dan stabil. Evaluasi klinis terkini menunjukkan fungsi ginjal barunya meningkat pesat sesuai harapan, yang ditandai dengan produksi urine yang normal sebagai indikator utama keberhasilan transplantasi.
"Pencapaian ini mencerminkan kuatnya kolaborasi internasional serta komitmen kami dalam menghadirkan layanan yang lebih aman dan presisi bagi pasien. Kami berharap ini menjadi langkah awal bagi pengembangan layanan transplantasi ginjal robotik secara lebih luas di Indonesia," katanya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko