Waspada Kerusakan Ginjal Diam-Diam, Gejala Baru Muncul Setelah Fungsi Anjlok 80 Persen

Ari Arief • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 17:11 WIB
Ilustrasi ginjal
Ilustrasi ginjal

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap kesehatan ginjal. Sebagai organ yang bekerja ekstra keras menyaring hampir 180 liter darah setiap hari, ginjal rupanya rentan mengalami kerusakan secara "diam-diam" tanpa menimbulkan rasa nyeri atau gejala di fase awal.

Kondisi ini dikenal sebagai penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD). Karena sifatnya yang terselubung, jutaan orang di dunia kerap baru menyadari mengidap penyakit ini setelah memasuki stadium lanjut.

Baca Juga: Usai Nobar Final Piala Dunia, Ruang Kerja Bupati Lombok Barat dan Kadis PUPR Disegel KPK

Konsultan Nefrologis dari Rumah Sakit Apollo India, dr. Srivatsa A, menjelaskan bahwa ginjal memiliki cadangan fungsional yang luar biasa. Unit penyaring yang sehat akan otomatis bekerja lebih keras untuk menggantikan peran unit yang rusak.

"Karena kompensasi ini, pasien secara rutin kehilangan hingga 80 persen fungsi ginjal sebelum mengalami satu pun tanda penyakit yang terlihat," ujar dr. Srivatsa, seperti dilansir dari Times of India.

Baca Juga: Praperadilan Kedua Ditolak Lagi, Status Tersangka Roy Suryo dalam Kasus Ijazah Jokowi Tetap Sah

Ketika fungsi organ ini merosot tajam dan limbah beracun menumpuk di darah, barulah tubuh mengalami kegagalan sistemik. Gejala akhir yang biasa muncul meliputi kelelahan ekstrem, mual, kehilangan nafsu makan, gatal parah pada kulit, serta pembengkakan di kaki dan wajah akibat penumpukan cairan. Selain itu, rusaknya ginjal menurunkan hormon pemicu sel darah merah, sehingga memicu anemia dan sesak napas.

Secara umum, ada 9 gejala fisik yang wajib diwaspadai jika muncul bersamaan: pembengkakan tubuh, kelelahan kronis, nafsu makan memburuk, mual/muntah, kram otot, sulit konsentrasi, perubahan pola buang air kecil, kulit gatal parah, dan hipertensi yang sulit dikendalikan.

Baca Juga: Bupati Lombok Barat dan 18 Orang Lainnya Terjaring OTT KPK

Terkait pemicu utama, dr. Srivatsa menyebut diabetes dan tekanan darah tinggi (hipertensi) sebagai biang kerok terbesar, bukan masalah dari organ ginjal itu sendiri. Gula darah tinggi kronis merusak pembuluh darah kecil yang berfungsi sebagai filter, sementara hipertensi mempersempit pembuluh darah halus penyokong ginjal hingga menjadi jaringan parut. Faktor lain seperti autoimun, infeksi, obesitas, merokok, dan konsumsi obat pereda nyeri jangka panjang secara sembarangan juga turut andil.

Untuk mengantisipasi kerusakan permanen, warga yang memiliki faktor risiko di atas sangat disarankan melakukan deteksi dini secara berkala melalui tes darah sederhana (eGFR) dan tes urin.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
ginjal kesehatan hormon feminim