SENDAWAR – Keresahan menyelimuti warga di Kecamatan Bongan, Kabupaten Kutai Barat, menyusul maraknya aksi pencurian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit atau yang populer dijuluki "ninja sawit". Aksi para pencuri ini menyasar lahan-lahan perkebunan milik warga maupun perusahaan, hingga mengakibatkan kerugian yang tak sedikit.
Pihak Kecamatan Bongan tidak tinggal diam melihat situasi ini. Laporan mengenai kehilangan buah sawit di kebun-kebun warga terus mengalir, menandakan bahwa aksi kriminalitas ini sudah pada tahap yang mengganggu stabilitas ekonomi masyarakat setempat.
Kasi Trantib Kecamatan Bongan, I Putu Budiasa membenarkan adanya peningkatan laporan terkait aksi pencurian tersebut. Ia menyatakan bahwa pihak kecamatan telah mengambil langkah-langkah preventif untuk menekan ruang gerak para pelaku.
"Kami banyak menerima laporan dari masyarakat yang mengeluhkan kehilangan buah sawit. Kondisi ini memang cukup meresahkan warga pemilik kebun," ujar I Putu Budiasa kepada awak media, Kamis (7/5/2026).
Baca Juga: Halal Bihalal Jadi Momentum Perkuat Persatuan dan Pembangunan Mahulu
Sebagai langkah respons cepat, pihak kecamatan kini memperketat pengawasan di wilayah-wilayah rawan. Salah satu strategi utama yang dilakukan adalah berkoordinasi dengan aparat keamanan serta perangkat kampung untuk memperketat penjagaan.
Selain peningkatan intensitas patroli, pihaknya juga mendorong warga untuk kembali menghidupkan kearifan lokal dalam menjaga keamanan, yakni melalui Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling).
"Menyikapi persoalan tersebut, kami kerap melakukan patroli rutin. Kami juga meminta agar Siskamling di beberapa kampung yang ada di Kecamatan Bongan diaktifkan kembali untuk meminimalisir peluang pelaku beraksi," tegasnya.
Baca Juga: Progres Jembatan Busui Sudah 30 Persen, Target Rampung Desember 2026
Diharapkan dengan sinergi antara pemerintah kecamatan, aparat, dan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungannya masing-masing, aksi "ninja sawit" ini dapat segera diredam sehingga produktivitas perkebunan di Bongan kembali berjalan normal tanpa dihantui rasa waswas. (*)
Editor : Sukri Sikki