KALTIMPOST.ID-Pertumbuhan ekonomi Kutai Timur (Kutim) sepanjang 2024 menembus angka 9,82 persen.
Angka itu jauh melampaui rata-rata nasional yang berada di kisaran 5 persen. Namun, capaian itu justru dibayangi oleh penurunan kesejahteraan per individu.
Produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita Kutim turun 6,75 persen. Seiring lonjakan jumlah penduduk yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kutim Widiyanto menjelaskan meski angka PDRB mengalami kenaikan, itu tak otomatis berdampak langsung pada taraf hidup masyarakat.
“PDRB per kapita dihitung dari PDRB atas dasar harga berlaku dibagi jumlah penduduk. Meski PDRB meningkat, tapi jika penduduknya naik lebih besar, maka per kapitanya turun,” jelasnya, Rabu (23/7).
Data BPS mengungkap struktur ekonomi Kutim masih bergantung pada sektor tambang. Kontribusinya mendominasi PDRB hingga 75,53 persen.
Ironisnya, sektor itu menyerap tenaga kerja yang jauh lebih kecil dibanding sektor lain seperti pertanian.
“Tapi jumlah pekerjanya di sektor pertanian paling banyak. Tapi kalau pertambangan itu share terbesar terhadap PDRB-nya masih dominasi,” ujarnya.
Ketergantungan tinggi terhadap batu bara dinilai tidak menjamin stabilitas jangka panjang. Risiko fluktuasi harga global menjadi ancaman nyata.
Widiyanto menilai itu sebagai alarm penting bagi pemerintah daerah agar mulai serius membangun sektor alternatif yang berkelanjutan.
“Perlu ada hilirisasi dan penguatan sektor seperti pertanian dan industri pengolahan,” imbuhnya.
Salah satu sektor yang mulai menunjukkan geliat positif adalah industri pengolahan. Pertumbuhannya bahkan tercatat 21,77 persen.
Itu terdongkrak oleh beroperasinya pabrik semen lokal sejak akhir 2023. Namun, kontribusinya terhadap total PDRB masih minim, hanya 4,34 persen.
“Tahun 2023 baru mulai produksi, terus tahun 2024 sudah full produksi. Itu mendongkrak pertumbuhan dari industri pengelolaan itu sendiri,” jelasnya.
Lonjakan ekonomi Kutim juga ditopang oleh ekspor bersih yang menyumbang lebih dari 66 persen terhadap pertumbuhan. Tapi lagi-lagi, ketergantungan terhadap pasar luar menjadi titik lemah.
“Ya net ekspor dominan karena memang kalau dari yang PDRB untuk lapangan usaha itu 75 persen pertambangan sendiri. Itu ‘kan enggak dikonsumsi di sini. Iya makanya diekspor ‘kan keluar daerah,” ujarnya.
Penurunan harga batu bara global turut menyeret indeks implisit Kutim dari 160,81 menjadi 138,76. Indeks itu mencerminkan perubahan harga di tingkat produsen.
“Karena batu bara mendominasi dan harganya turun, maka indeks ikut menurun. Sektor lain mungkin naik, tapi tertutup oleh dominasi tambang,” katanya.
Melihat kondisi tersebut, BPS menilai ketahanan ekonomi Kutim terhadap guncangan eksternal masih lemah. Maka, diversifikasi ekonomi menjadi agenda penting yang tak bisa ditunda.
“Maka penting untuk diversifikasi ekonomi agar ada penyangga ketika harga batu bara turun,” ujar Widiyanto.
Menjawab tantangan itu, pemerintah pusat melalui Kemendagri mendorong strategi pertumbuhan ekonomi daerah lewat evaluasi mingguan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Tak hanya inflasi, isu-isu struktural juga dibahas, termasuk percepatan realisasi APBD, pembangunan infrastruktur, dan penguatan sektor padat karya.
“Kalau output sektor-sektor ini bisa dinaikkan dan biaya produksinya ditekan, maka nilai tambahnya akan naik. Itulah yang akan memperbesar PDRB dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” tegas Widiyanto.
Ia menekankan pentingnya sinergi antarlembaga dan pemetaan potensi daerah secara spesifik untuk menghadirkan intervensi yang tepat sasaran. (rd)
JUFRIADI
Editor : Romdani.