Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Bukan Hanya Tujuh Jenderal! Siapa Korban Lain di Malam Mencekam G30S/PKI yang Terlupakan Sejarah?

Dwi Puspitarini • Senin, 29 September 2025 | 11:41 WIB
Ilustrasi peristiwa G30S/PKI di Monumen Pancasila Sakti.
Ilustrasi peristiwa G30S/PKI di Monumen Pancasila Sakti.

KALTIMPOST.ID, Setiap tanggal 30 September, memori kolektif bangsa Indonesia kembali ditarik mundur ke tahun 1965, mengenang sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Gerakan 30 September atau G30S/PKI.

Peristiwa ini bukan sekadar babak sejarah, melainkan tragedi kemanusiaan yang meninggalkan luka menganga.

Di malam pergantian hari yang mencekam itu, pasukan yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) bergerak.

Dipimpin oleh Komandan Batalyon I Tjakrabirawa, Letnan Kolonel Untung Syamsuri, di bawah kendali tokoh sentral Dipa Nusantara (DN) Aidit, gerakan ini menargetkan penculikan sejumlah perwira tinggi TNI Angkatan Darat.

Yang awalnya disebut-sebut hanya aksi penculikan, berujung pada pembunuhan yang sangat mengerikan.

Para perwira yang diculik ditemukan gugur dan jasadnya disembunyikan dalam satu lubang besar di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, pada 3 Oktober 1965. Merekalah para Pahlawan Revolusi yang kita kenal:

Misteri di Balik Pemicu: Isu Dewan Jenderal dan Peran DN Aidit

Apa yang memicu kegilaan di malam itu? Menurut narasi yang beredar luas, pemicu utamanya adalah isu Dewan Jenderal.

Isu ini menyebutkan bahwa sekelompok jenderal TNI AD berencana menggulingkan Presiden Soekarno—momennya diduga saat peringatan HUT ABRI pada 5 Oktober 1965.

PKI, yang merupakan kekuatan politik besar saat itu, memanfaatkan isu ini untuk melancarkan gerakan mereka.

Rezim Orde Baru lantas menetapkan DN Aidit sebagai dalang utama yang bertujuan mengubah ideologi negara menjadi komunis.

Gerakan maut ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di Yogyakarta, menewaskan Kolonel Katamso Darmokusumo dan Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto.

Korban Tak Berdosa yang Terlupakan: Ade Irma Suryani

Namun, di tengah fokus pada para jenderal, ada satu nama korban sipil, yaitu Ade Irma Suryani Nasution.

Putri dari Jenderal AH Nasution ini adalah korban tak berdosa yang tewas tertembak di kediaman ayahnya.

Tragedi Ade Irma menjadi pengingat yang menyakitkan bahwa kekejaman politik di malam itu tidak mengenal batas, bahkan merenggut nyawa seorang anak kecil.

Selain itu, Brigadir Polisi Kepala Karel Satsuit Tubun juga tewas di rumahnya.

 Baca Juga: Prompt AI Foto Jadul, Cara Pulihkan Potret Buram Jadi Jernih seperti Baru

Dampak Dahsyat: Dari Kekuatan Politik Besar Menuju Pembubaran Total

Peristiwa G30S/PKI tidak hanya menorehkan luka, tetapi juga secara drastis mengubah arah sejarah Indonesia.

Tragedi berdarah ini memicu gelombang tuntutan yang sangat kuat dari masyarakat.

Hasilnya, Partai Komunis Indonesia (PKI), yang sebelumnya menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di era Presiden Soekarno, akhirnya dibubarkan.

Momen krusial terjadi ketika Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret 1966 atau yang dikenal dengan Supersemar.

Dokumen sakti ini secara efektif memberikan mandat kepada Mayor Jenderal Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu dalam memulihkan keamanan.

Inilah titik balik yang membuka jalan bagi Orde Baru dan mengubah peta politik Indonesia selama puluhan tahun.

Mengenang 30 September adalah pelajaran penting bahwa sejarah kelam ini harus diingat, agar bangsa Indonesia terus menjaga persatuan dan kewaspadaan terhadap ancaman ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#G30S/PKI #Ade Irma Suryani #30 september #monumen pancasila sakti #tragedi 1965 #Pahlawan revolusi #presiden soekarno #g30s pki #orde baru #pki #lubang buaya #gerakan 30 september