KALTIMPOST.ID, Indonesia kehilangan salah satu pemikir ekonomi paling jujur dan berani, Kwik Kian Gie. Ia wafat pada Senin, 28 Juli 2025 pukul 22.00 WIB di usia 90 tahun.
Bagi banyak orang, nama Kwik bukan hanya dikenal sebagai ekonom senior atau mantan menteri di era Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri, melainkan sebagai suara yang tak pernah diam terhadap kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.
Kwik bukan tipe politikus yang takut kehilangan jabatan. Ia dikenal vokal bahkan saat berada di dalam lingkar kekuasaan. Dari kritiknya terhadap utang luar negeri, intervensi asing, hingga pemborosan APBN, Kwik selalu berdiri di sisi rakyat kecil.
Di tengah dominasi suara partai, Kwik berani mendukung Prabowo–Sandi pada Pilpres 2019, meski dikenal sebagai tokoh senior PDIP. Bagi Kwik, prinsip lebih penting dari loyalitas politik.
“Kalau saya hidup, saya ingin berguna bagi banyak orang.” — salah satu kutipan hidup Kwik yang menggambarkan kejujurannya sebagai intelektual.
Baca Juga: Logo dan Tema Resmi Hari Bakti TNI AU 2025 yang Bikin Bangga Bangsa
Lahir di Juwana, Pati, Jawa Tengah, pada 11 Januari 1935, Kwik menempuh studi ekonomi di Belanda dan kembali ke tanah air untuk mengabdi.
Ia mendirikan Institut Manajemen Prasetiya Mulya dan Kwik Kian Gie School of Business, yang kini jadi salah satu pusat pendidikan ekonomi ternama di Indonesia.
Ia juga pernah menjadi dosen Fakultas Ekonomi UI dan aktif menulis artikel ekonomi di media seperti Kompas, yang membuatnya dikenal luas sebagai ekonom pembela rakyat.
Sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1999–2000) serta Kepala Bappenas (2001–2004), Kwik memperjuangkan sistem ekonomi yang berpijak pada konstitusi dan keadilan sosial.
Tak lama setelah keluar dari pemerintahan, ia justru semakin lantang mengkritik sistem yang menurutnya semakin liberal dan jauh dari semangat UUD 1945.
Baca Juga: 42 Ucapan Hari Bakti TNI AU 2025 yang Menginspirasi untuk Menghormati Pahlawan Langit Indonesia
Kwik Kian Gie tidak meninggalkan kekayaan politik, tapi meninggalkan integritas, keberanian, dan warisan pemikiran.
Ia membuktikan bahwa berpikir merdeka adalah bentuk tertinggi dari kecintaan pada bangsa.
Untuk pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana. Tapi lebih dari itu, ia mendapat tempat khusus di hati rakyat sebagai pengingat bahwa kekuasaan seharusnya selalu berpihak kepada yang lemah.
Selamat jalan, Pak Kwik. Suaramu mungkin telah senyap, tapi ide dan keberanianmu akan terus menginspirasi generasi Indonesia. ***
Editor : Dwi Puspitarini