KALTIMPOST.ID, Saat ini Presiden Prabowo Subianto tengah jadi sorotan usai seringnya melakukan kunjungan kerja ke luar negeri di tengah melemahnya rupiah.
Salah satu pihak yang menyoroti adalah eks Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal.
Ia menuturkan, Prabowo jadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan keluar negeri. Semenjak menjabat menjadi presiden, Prabowo telah melakukan 53 agenda kunjungan luar negeri.
Dan yang terbaru, Prabowo melakukan perjalanan ke Prancis yang dalam kegiatan itu disebut bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Dino menyebut, kunjungan ke luar negeri pasti mengeluarkan biaya yang besar.
“Kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang besar dan bahkan sangat besar. Ini termasuk biaya rombongan tim pendahulu, biaya pesawat, biaya hotel, biaya logistik, biaya konsumsi, biaya protokoler dan pengamanan, biaya uang harian untuk seluruh delegasi dan perangkat pendamping, dan berbagai biaya lainnya. Satu perjalanan keluar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar,” kata Dino.
Terkait hal itu, Dino pun menyampaikan pesan apa adanya sebagai sahabat lama Prabowo.
"Saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia, mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini," ujar Dino.
Ia pun memberikan lima saran kepada Prabowo untuk menjalin hubungan antara negara. Pertama adalah mengandalkan video call atau zoom call atau telepon dalam komunikasi.
Kata Dino, kunjungan bilateral biasanya hanya berpusat pada satu pembicaraan yang berlangsung selama satu jam atau paling banter dua jam. Selebihnya basa-basi, jamuan dan seremonial yang biasanya tidak perlu.
“Jadi dengan satu video call yang bernilai 0 rupiah, negara praktis dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan ke luar negeri dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih sama,” ucap Dino.
Kedua, memanfaatkan kunjungan ke suatu forum internasional untuk bertemu kepala negara lain yang juga hadir. Langkah ini dinilai bisa menghemat anggaran.
Ketiga, ketika melakukan kunjungan internasional harusnya dilakukan secara profesional dan direncanakan dengan baik.
Keempat, ia menganjurkan untuk satu tahun ke depan Presiden Prabowo lebih banyak menerima tamu negara di tanah air ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri.
Hal ini seperti yang dilakukan dilakukan Presiden China Xi Jinping yang jauh lebih banyak menerima tamu negara di Beijing ketimbang bepergian ke luar negeri.
“Kelima, saya juga mengusulkan agar ke depan sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat dioper ke Menlu Sugiono,” bebernya.
Menurut Dino, dengan dioper, akan lebih menghemat biaya. Biaya perjalanan Menlu mungkin hanya didampingi oleh tiga staf tentu akan jauh lebih hemat dari biaya perjalanan presiden dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih akan sama.
“Namun di sini Menlu Sugiono harus melepaskan diri sebagai bagian dari rombongan pengiring presiden yang harus selalu berada di samping Presiden,” ujarnya.
Kata Dino, saran tersebut disampaikan sebagai bentuk dari suara rakyat yang murni dari nurani mereka.
“Silahkan cek. Dalam suasana yang serba prihatin dan was-was akibat gejolak dunia, rakyat Indonesia tidak lagi terpukau dengan kemegahan protokoler dalam dunia diplomasi. Saya yakin sekali ini,” tukasnya.
"Rakyat mengharapkan pemimpin mereka bisa menunjukkan kepekaan dan kepatutan dalam melakukan perjalanan ke luar negeri," sambungnya.
Editor : Hernawati