KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Hanya sekitar 15 negara di dunia yang memiliki kemampuan merancang dan memproduksi jet tempur sendiri. Di tengah hampir 200 negara yang ada, kemampuan tersebut masih menjadi teknologi strategis yang dikuasai segelintir negara.
Pembuatan jet tempur membutuhkan penguasaan teknologi tinggi, mulai dari desain aerodinamika, material komposit, radar Active Electronically Scanned Array (AESA), sistem avionik, peperangan elektronik, integrasi persenjataan, hingga mesin turbofan berperforma tinggi.
Meski disebut memproduksi sendiri, tidak semua negara membuat seluruh komponennya secara mandiri. Sebagian masih mengandalkan mesin, avionik, atau perangkat lain dari luar negeri. Ada pula jet tempur yang dikembangkan melalui kerja sama multinasional, seperti Eurofighter Typhoon.
Baca Juga: Resmi! Jose Mourinho Kembali Latih Real Madrid, Kontrak hingga 2029 Usai Ditebus Rp311 Miliar
Indonesia sendiri telah memiliki kemampuan memproduksi pesawat melalui PT Dirgantara Indonesia, yang berkembang sejak era BJ Habibie. Sejumlah pesawat seperti N-250 Gatotkaca, CN-235, NC-212, dan N-219 berhasil dikembangkan. Namun hingga kini Indonesia belum mampu memproduksi jet tempur.
Berikut lima negara dengan industri jet tempur paling maju:
1. Amerika Serikat
AS menjadi pemimpin industri pesawat tempur dunia dengan kemampuan memproduksi hampir seluruh komponen utama secara mandiri, termasuk teknologi siluman (stealth). Produk andalannya antara lain F-35 Lightning II, F-22 Raptor, F-15EX Eagle II, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18 Super Hornet.
2. Rusia
Rusia mewarisi teknologi penerbangan militer Uni Soviet dan menghasilkan berbagai jet tempur modern seperti Su-57 Felon, Su-35S, Su-30SM, serta MiG-35.
3. China
Dalam dua dekade terakhir, China berkembang pesat dengan menghadirkan J-20 Mighty Dragon, J-35, J-16, dan J-10C. Negara ini juga terus memperkuat produksi mesin jet serta teknologi siluman.
4. Prancis
Prancis dikenal mandiri dalam pengembangan pesawat tempur melalui Dassault Rafale yang telah digunakan sejumlah negara, termasuk Indonesia.
5. Swedia
Swedia mengembangkan JAS 39 Gripen melalui Saab. Jet tempur ini dikenal efisien dalam biaya operasional, namun tetap memiliki kemampuan tempur modern.
6. Inggris
Inggris menjadi salah satu motor utama dalam pengembangan Eurofighter Typhoon bersama negara-negara Eropa. Selain itu, London kini memimpin proyek jet tempur generasi berikutnya, Tempest, yang masih dalam tahap pengembangan.
7. Jerman
Jerman turut berperan besar dalam konsorsium Eurofighter Typhoon. Tidak hanya terlibat dalam produksi pesawat, industri pertahanan negara ini juga menyuplai berbagai teknologi penting, termasuk sistem avionik dan komponen pendukung lainnya.
8. Italia
Melalui perusahaan Leonardo, Italia menjadi salah satu pilar utama dalam proyek Eurofighter Typhoon. Negara ini juga aktif mengembangkan berbagai teknologi pesawat tempur untuk kebutuhan masa depan.
9. Spanyol
Spanyol merupakan salah satu anggota konsorsium Eurofighter yang berkontribusi pada proses desain hingga produksi pesawat tempur tersebut. Negara ini juga terlibat dalam sejumlah program penguatan pertahanan udara Eropa.
10. India
India mengembangkan industri pesawat tempurnya melalui Hindustan Aeronautics Limited (HAL). Produk andalannya adalah HAL Tejas Mk1 dan Tejas Mk1A, sementara pengembangan Tejas Mk2 serta Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA) masih terus berlanjut.
11. Korea Selatan
Korea Selatan berhasil menempatkan diri sebagai produsen jet tempur modern melalui KF-21 Boramae. Indonesia sempat terlibat dalam proyek tersebut sebagai mitra pengembangan, meski porsi kontribusinya terbatas. Pemerintah Korea Selatan menetapkan KF-21 sebagai produk nasional mereka.
12. Jepang
Jepang memiliki pengalaman panjang dalam industri dirgantara militer. Negara ini terus mengembangkan kemampuan produksi produk jet tempur unggulan: Mitsubishi F-2 untuk memperkuat pertahanan sekaligus mengikuti perkembangan teknologi penerbangan modern.
13. Taiwan
Taiwan mengembangkan pesawat tempur Indigenous Defense Fighter (IDF) F-CK-1 Ching-kuo sebagai bagian dari strategi memperkuat pertahanan dalam negeri. Program tersebut menjadi bukti kemampuan industri pertahanan Taiwan dalam merancang dan memproduksi pesawat tempur modern.
14. Pakistan
Pakistan memproduksi JF-17 Thunder melalui kolaborasi dengan China. Meski merupakan proyek bersama, proses produksi dan perakitan pesawat dilakukan di dalam negeri melalui Pakistan Aeronautical Complex, sehingga negara tersebut memiliki kemampuan manufaktur sendiri.
15. Turki
Turki menjadi anggota terbaru dalam kelompok negara pembuat jet tempur melalui proyek KAAN. Pesawat tempur generasi kelima itu telah menjalani uji terbang perdana dan diproyeksikan menjadi tulang punggung Angkatan Udara Turki pada masa mendatang.
Indonesia Masih Bertahap
Hingga kini Indonesia belum mampu memproduksi jet tempur secara mandiri. Meski demikian, Indonesia telah memiliki fondasi industri dirgantara yang cukup kuat.
Kemampuan yang dimiliki saat ini mencakup perancangan pesawat angkut ringan, pembuatan struktur dan komponen pesawat, integrasi sistem, proses perakitan akhir, hingga sertifikasi sejumlah pesawat sipil maupun militer.
Dengan modal tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan jet tempur buatan sendiri di masa depan. Namun, realisasinya membutuhkan investasi yang sangat besar, penguasaan teknologi strategis, ekosistem industri yang lengkap, serta komitmen pengembangan dalam jangka panjang.
Untuk saat ini, langkah yang dinilai paling realistis adalah memperluas kerja sama dengan negara lain, memperkuat kemampuan riset dan manufaktur dalam negeri, serta memanfaatkan transfer teknologi agar industri dirgantara nasional berkembang secara bertahap menuju kemandirian.
Editor : Uways Alqadrie