Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Harga Minyak Dunia Turun, Mengapa Harga Pertamax Belum Bisa Langsung Ikut Turun?

Dwi Puspitarini • Kamis, 18 Juni 2026 | 05:03 WIB
Ilustrasi masyarakat membeli Pertamax. (Foto: Jawa Pos)
Ilustrasi masyarakat membeli Pertamax. (Foto: Jawa Pos)

KALTIMPOST.ID - Penurunan harga minyak dunia setelah meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) belum tentu langsung diikuti oleh penurunan harga BBM nonsubsidi di Indonesia. Para ekonom menilai harga BBM yang dibayar masyarakat di SPBU dipengaruhi banyak faktor selain harga minyak mentah global, sehingga perubahan harga tidak bisa dilakukan secara instan.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa harga BBM di Indonesia merupakan hasil perhitungan dari berbagai komponen biaya yang saling berkaitan. Karena itu, meskipun harga minyak dunia mulai melemah, harga BBM di dalam negeri belum tentu langsung ikut turun.

Menurut Josua, harga yang dibayar konsumen di SPBU tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah dunia.

"Harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung karena harga yang dibayar masyarakat di SPBU merupakan hasil gabungan dari harga produk BBM jadi di pasar regional, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, serta pajak," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, yang dilansir dari Akurat.co, Kamis (18/9).

Banyak Faktor Menentukan Harga BBM di SPBU

Josua menjelaskan bahwa seluruh komponen pembentuk harga BBM dihitung berdasarkan rata-rata dalam periode tertentu. Dengan demikian, perubahan harga minyak dunia yang terjadi dalam hitungan hari tidak langsung tercermin pada harga BBM di SPBU.

Untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, penentuan harga juga sangat bergantung pada kebijakan pemerintah. Selain mempertimbangkan harga energi global, pemerintah turut memperhatikan daya beli masyarakat dan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Ketika harga minyak dunia turun, ruang fiskal yang terbuka bisa lebih dahulu digunakan untuk mengurangi beban subsidi dan kompensasi. Tidak otomatis diteruskan menjadi penurunan harga di SPBU," ujar Josua.

Sementara itu, harga BBM nonsubsidi memang lebih dekat dengan mekanisme pasar. Namun, penyesuaian harga tetap dilakukan berdasarkan formula resmi dan berada dalam pengawasan pemerintah. Menurut Josua, transparansi mengenai komponen pembentuk harga menjadi hal penting agar masyarakat memahami alasan di balik perubahan maupun penahanan harga BBM.

Berdasarkan perhitungannya, harga keekonomian Pertamax saat ini berada di kisaran Rp16.500 per liter. Angka tersebut masih sekitar Rp250 lebih tinggi dibanding harga jual Pertamax yang berlaku saat ini, yakni Rp16.250 per liter.

Josua menilai tingginya harga keekonomian tersebut dipengaruhi oleh harga minyak mentah yang masih berada di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga meningkatkan biaya impor energi yang harus ditanggung.

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bertahap

Pakar Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, menilai membaiknya hubungan antara Iran dan AS menjadi sentimen positif bagi pasar energi global. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu ke depan.

Menurut Yayan, pelemahan harga minyak dunia pada akhirnya dapat berdampak pada penurunan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax. Namun, penurunan harga diperkirakan berlangsung secara bertahap dan tidak langsung kembali ke level yang jauh lebih rendah.

"Pasti terjadi penurunan harga dan bisa berdampak ke Pertamax. Namun untuk kembali ke Rp12.300 per liter tidak akan secepat itu," kata Yayan Satyaki, Pakar Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran.

Yayan memperkirakan harga minyak dunia masih akan mengalami koreksi secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang. Meski demikian, arah pergerakannya tetap bergantung pada situasi geopolitik global dan stabilitas pasokan energi dunia.

Ia juga melihat harga minyak Brent masih berpotensi melemah hingga awal Juli 2026 sebelum kembali menguat pada Agustus hingga September. Kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan permintaan energi setelah berakhirnya musim panas di negara-negara belahan bumi utara.

Selain itu, peningkatan produksi minyak Amerika Serikat yang diproyeksikan mencapai sekitar 14 juta barel per hari diperkirakan dapat membantu menahan lonjakan harga minyak dunia. Jika konflik geopolitik benar-benar mereda dan pasokan energi kembali stabil, harga minyak diperkirakan bergerak di kisaran US$80 hingga US$90 per barel hingga akhir tahun, sebelum berpotensi turun ke rentang US$75 hingga US$85 per barel pada awal tahun mendatang.

Dengan kondisi tersebut, peluang penurunan harga Pertamax tetap terbuka. Namun, besarnya penurunan dan waktu pelaksanaannya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta berbagai komponen biaya lain yang menjadi dasar penentuan harga BBM di Indonesia.***

Editor : Dwi Puspitarini
#Harga Minyak Dunia Turun #harga bbm #bbm #bbm nonsubsidi #harga pertamax