KALTIMPOST.ID - Dugaan keracunan MBG menjadi perhatian setelah 80 siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), harus mendapat perawatan di rumah sakit pada Kamis (3/9). Para siswa mengalami keluhan kesehatan setelah sebelumnya menerima makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dugaan keracunan MBG tersebut muncul setelah sejumlah siswa mulai mengalami gangguan kesehatan pada Rabu (2/9) malam, atau beberapa jam setelah menyantap makanan yang dibagikan di sekolah. Kondisi itu kemudian diketahui terjadi pada banyak siswa lainnya ketika mereka kembali ke sekolah.
Salah satu orang tua siswa, Jum (49), mengatakan anaknya mulai mengalami keluhan pada malam hari. Menurutnya, kondisi serupa juga dialami sejumlah siswa lain sehingga para siswa kemudian dibawa untuk mendapatkan penanganan medis.
"Mulai sakit tadi malam, ketika ke sekolah ternyata banyak siswa lain sakit," kata salah satu orang tua siswa, Jum (49), dilansir dari CNN, Kamis (3/9)
Baca Juga: Seragam Tim Indonesia Asian Games 2026 Resmi Diluncurkan, Ada Unsur Budaya yang Tak Biasa
80 Siswa Dirawat di Tiga Rumah Sakit
Dalam kasus dugaan keracunan MBG ini, sebanyak 80 siswa disebut menjalani perawatan di tiga rumah sakit. Pemerintah Kabupaten Tana Toraja memastikan kondisi tersebut sedang ditangani, tetapi belum menetapkan bahwa keluhan para siswa disebabkan oleh makanan MBG.
Sekretaris Daerah Tana Toraja sekaligus Ketua Satgas MBG, Rudy Andi Lolo, mengatakan pihaknya masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti kondisi kesehatan yang dialami para siswa.
"Yang berdampak sekarang ini ada 80 (siswa), dirawat di tiga rumah sakit. Tapi ini belum kita katakan bahwa ini adalah keracunan," kata Rudy.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dugaan keracunan MBG masih sebatas dugaan. Satgas belum ingin mengaitkan kondisi siswa secara langsung dengan makanan yang dibagikan melalui program tersebut sebelum hasil pemeriksaan keluar.
Menu MBG Sehari Sebelumnya Ikut Ditelusuri
Dugaan keracunan MBG turut dikaitkan dengan makanan yang dibagikan kepada siswa pada Rabu (2/9). Berdasarkan keterangan salah satu orang tua siswa, menu yang diterima terdiri atas nasi, ayam, sayur, tempe, dan melon.
Namun, Rudy mengatakan makanan MBG yang seharusnya dibagikan pada Kamis (3/9) belum sempat dikonsumsi siswa ketika keluhan kesehatan mulai muncul. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Satgas tidak langsung menyimpulkan bahwa makanan MBG merupakan penyebabnya.
"Artinya makanan belum dibagi. Hari ini mereka belum makan," ujarnya.
Baca Juga: Bansos Lansia Dicoret karena Terindikasi Judol, Kemensos Turun Tangan
Karena itu, penyelidikan terhadap dugaan keracunan MBG tidak hanya diarahkan pada makanan program MBG. Satgas juga mempertimbangkan berbagai kemungkinan lain yang dapat menyebabkan siswa mengalami gangguan kesehatan.
Sisa Makanan dan Muntahan Siswa Diperiksa
Untuk mencari penyebab dugaan keracunan MBG, Satgas telah meminta petugas mengamankan sejumlah bahan yang dapat diperiksa. Sisa makanan yang masih tersedia serta muntahan siswa dikumpulkan untuk diteliti lebih lanjut.
Langkah tersebut dilakukan agar penyebab gangguan kesehatan tidak hanya ditentukan berdasarkan waktu munculnya keluhan. Hasil pemeriksaan diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai apa yang sebenarnya menyebabkan puluhan siswa harus mendapatkan perawatan.
"Semua ini masih praduga. Makanya saya sudah perintahkan untuk mengambil sisa-sisa makanan dan muntah itu untuk kita pelajari selanjutnya," kata Rudy.
Selain makanan MBG, Satgas juga mendalami makanan lain yang mungkin dikonsumsi siswa sebelum berangkat ke sekolah. Air yang diminum siswa juga menjadi salah satu faktor yang ikut diperiksa dalam kasus dugaan keracunan MBG tersebut.
Rudy menegaskan bahwa munculnya keluhan kesehatan secara bersamaan belum cukup untuk memastikan bahwa siswa mengalami keracunan akibat makanan MBG. Pemeriksaan tetap diperlukan untuk mengetahui sumber masalah secara lebih jelas.
"Jadi artinya, kita belum mengatakan bahwa ini namanya keracunan itu yang bersifat segera. Artinya bisa saja dia makan makanan lain atau di rumah," jelasnya.
Rudy juga menyoroti jeda waktu antara konsumsi makanan MBG pada Rabu dan munculnya keluhan kesehatan pada malam hari hingga Kamis pagi. Menurutnya, rentang waktu tersebut perlu menjadi bagian dari pemeriksaan sebelum dugaan keracunan MBG dapat dipastikan.
"Jadi mau dibilang keracunan, sudah lebih dari 12 jam," pungkasnya.***
Editor : Dwi Puspitarini