Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menelisik Kompetensi Sarjana Kita

Muhammad Aufal Fresky • Jumat, 1 Mei 2026 | 07:11 WIB
Muhammad Aufal Fresky, Pelaku UMKM Batik Tulis Madura, Esais.
Muhammad Aufal Fresky, Pelaku UMKM Batik Tulis Madura, Esais.

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais dan Penulis Buku

KALTIMPOST.ID, Pembangunan nasional di segala sektornya membutuhkan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Semakin banyak jumlah SDM yang berkualitas, besar harapan bagi bangsa dan negara ini untuk bukan hanya mengejar ketertinggalan, tapi juga untuk menjadi bangsa yang maju. Terkait hal itu, menyeruaklah sebuah pertanyaan: sudahkah kita mempersiapkan semuanya? Termasuk sarjana kita hari ini, apakah sudah menjadi sarjana yang kompeten?

Sebab, tidak sedikit dari kita yang begitu mengkhawatirkan membeludaknya kuantitas sarjana di negeri ini tidak disertai dengan jaminan mutunya. Padahal, kita sedang berupaya mengambil manfaat dari bonus demografi. Berharap penuh pemuda-pemuda kita menjadi problem solver dan sekaligus akselerator pembangunan nasional.

Rasanya kita sukar menutup mata bahwa sebagian lulusan perguruan tinggi belum sepenuhnya kompeten, yakni belum memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk menyelesaikan tugas/pekerjaan tertentu, khususnya yang dibutuhkan di dunia industri.

Inkompetensi sarjana kita juga ditandai dengan bidang keilmuan yang dipelajarinya semasa kuliah yang tidak dipahami atau dikuasai betul. Hal ini menjadikan sebagian sarjana kita sukar diserap di dunia industri. Mungkin hanya sampai tahapan seleksi administrasi, setelahnya berguguran satu per satu.

Baca Juga: Wajah Baru Industrialisasi Perguruan Tinggi

Sebab, perusahaan pun tidak mau asal merekrut calon karyawan yang tidak memenuhi kualifikasi. Dalam hal ini, inkompetensi lulusan perguruan tinggi menjadi salah satu penyebab pengangguran terdidik semakin menjamur. Belum lagi persoalan kesenjangan antara dunia industri dan perguruan tinggi.

Artinya, apa yang dipelajari di kampus kadang berseberangan atau bahkan tidak relevan dengan kebutuhan industri. Output yang dihasilkan kampus nyatanya masih dianggap mentah, alias belum matang atau belum siap pakai. Ditambah lapangan pekerjaan yang memang terbatas tidak sebanding dengan lulusan kampus yang menurut BPS sampai menyentuh angka 1,9 juta setiap tahunnya.

Maka tidak heran jika setiap acara job fair, jumlah pengunjungnya membeludak. Mereka berdesak-desakan berharap adanya titik terang terkait nasib dan masa depannya. Tidak sedikit yang banting setir alias memilih bekerja tidak sesuai dengan bidang keilmuan atau keahliannya. Bisa jadi karena sudah terlalu lama, bosan, dan lelah menunggu kepastian akan dibukanya lowongan pekerjaan yang sesuai bidangnya.

Sementara esok ia harus makan atau menghidupi keluarganya. Sebab, pastinya ada sarjana-sarjana kita yang telah menjadi tulang punggung keluarga, entah itu karena keadaan atau kemauannya sendiri. Di lain sisi, tagihan listrik harus dibayar, paket data harus diisi, tabung gas LPG harus terisi, BBM motor tidak boleh habis, lalu sampai kapan harus menunggu pekerjaan yang sesuai selera?

Membahas pengangguran terdidik, memang tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang. Bisa jadi lapangan pekerjaannya sudah ada, hanya saja sarjana kita tidak memenuhi kualifikasi. Apalagi sekarang era digital, di mana kadang tidak sedikit perusahaan yang menuntut calon karyawannya memiliki sejumlah kemampuan khusus seperti halnya teknologi digital.

Dalam hal ini, kampus perlu cepat merespons agar lebih adaptif terhadap keadaan dunia industri yang begitu cepat berubah. Pastinya agar kompetensi lulusan dan kebutuhan industri itu tidak semakin melebar.

Pramesti et al. (2004) mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan kesenjangan tersebut yaitu: (a) kurikulum perguruan tinggi yang belum sepenuhnya relevan dengan dunia kerja; (b) kurangnya kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman kerja praktik; (c) keterampilan soft skill yang belum memadai pada lulusan; (d) perubahan yang cepat dalam dunia kerja yang tidak selalu diimbangi dengan perubahan kurikulum.

Perguruan tinggi memang bukan sekadar lembaga penyalur tenaga kerja profesional. Tapi, bagaimanapun juga kampus bertanggung jawab melahirkan sarjana yang berkualitas yang salah satu tandanya yaitu memiliki kompetensi. Mengasah kompetensi mahasiswa sebelum terjun ke dunia profesional, bisa dilakukan dengan meningkatkan jam terbang mahasiswa berkiprah di dunia kerja profesional lewat proyek magang.

Menurut Jackson (2016), pengalaman praktis yang didapat melalui magang proyek industri mampu membantu mahasiswa mengembangkan identitas profesional yang lebih kuat, yang pada gilirannya meningkatkan kepercayaan diri dan kesiapan mereka dalam memasuki dunia kerja. Selain itu, Andrews dan Higson (2018) juga menekankan pentingnya pengalaman praktis dalam meningkatkan employability graduate, di mana kolaborasi antara universitas dan industri membawa manfaat yang signifikan.

Pemerintah kita pun sudah menstimulus perguruan tinggi untuk menjalankan proyek magang dengan berbagai macam skema. Hanya saja, mungkin perlu dioptimalkan saja, terutama terkait keterlibatan perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan kampus harus diperbanyak.

Baca Juga: Membenahi Ritme dan Saluran Kaderisasi Parpol

Karena, sepengetahuan saya, tidak semua mahasiswa berkesempatan magang. Mengingat kebutuhan perusahaan juga terbatas. Ini perlu dicarikan solusinya juga agar semakin banyak mahasiswa yang terlibat proyek magang.

Selain itu, untuk mencetak sarjana kompeten, kurikulum di perguruan tinggi memang semestinya dievaluasi dan dibenahi sebab jangan-jangan sudah tidak lagi relevan dengan masifnya perkembangan dunia industri. Selain itu, perguruan tinggi, saya pikir mesti mendorong mahasiswanya agar senantiasa meningkatkan soft skill alias kemampuan interpersonal selama di kampus dengan cara aktif di organisasi intra atau ekstra kampus. Sebab, dalam dunia kerja, hard skill atau kemampuan teknis saja tidak cukup. Keduanya harus berjalan beriringan.

Penguasaan dalam aspek kognitif saja tidak cukup. Mahasiswa mesti dibangun kepribadiannya selama kuliah. Sebab, dalam dunia kerja kelak, pengetahuan dan kemampuan teknis saja masih kurang. Harus ditambah dengan attitude atau sikap yang baik.

Selain itu, penting juga untuk mahasiswa kita hari ini, terutama yang sebentar lagi akan diwisuda, untuk mempunyai kemampuan manajemen waktu, kepemimpinan, kemampuan memecahkan masalah, inisiatif, kemampuan bekerja sama, kemampuan berkomunikasi, menjalin relasi, mengambil keputusan, kemampuan bernegosiasi, adaptabilitas, kreativitas, dan kolaborasi.

Dan semua kemampuan itu bisa didapatkan justru di luar ruang kelas. Artinya, mahasiswa hari ini mesti didorong untuk memperbanyak pengalamannya selama kuliah. Itu tentu saja sebagai modal atau bekal untuk mengarungi dunia yang lebih luas lagi nantinya. Dengan begitu, setidaknya barangkali bisa menekan angka sarjana yang inkompeten.

Jadi selama proses menimba ilmu di kampus, mahasiswa harus selalu mengasah kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritualnya untuk menjadi pribadi yang bernilai. Kalau sudah bernilai, insya Allah banyak pihak/perusahaan yang berminat untuk merekrut, atau bahkan mampu membuat perusahaan sendiri.

Intinya, mengatasi inkompetensi sarjana bukan hanya memerlukan kerja sama antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah, tapi juga memerlukan kesadaran, kemauan, dan konsistensi untuk berproses selama kuliah—berproses menjadi pribadi yang berkualitas tinggi tentunya. (*)

Editor : Almasrifah
#pengangguran #dunia industri #sdm #kompetensi #sarjana