Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

BI-Rate Naik Lagi: Mengapa Ini Justru Kabar Baik bagi UMKM?

Redaksi KP • Minggu, 12 Juli 2026 | 20:21 WIB

 

Atik Purmiyati.
Atik Purmiyati.

 

Oleh:

Atik Purmiyati
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Departemen Ilmu Ekonomi, Divisi Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan (LPEP FEB UNAIR).

KENAIKAN suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) hampir selalu disambut dengan kekhawatiran. Dunia usaha umumnya mengaitkannya dengan biaya pinjaman yang lebih mahal, perlambatan investasi, hingga menurunnya aktivitas ekonomi. Namun, apakah kenaikan BI-Rate selalu menjadi kabar buruk bagi pelaku usaha, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)?

Jawabannya belum tentu.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global sepanjang Juni 2026, Bank Indonesia mengambil langkah menaikkan BI-Rate dua kali berturut-turut hingga mencapai 5,75 persen. Kebijakan tersebut ditempuh untuk memperkuat nilai tukar rupiah, menjaga inflasi tetap terkendali, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan nasional.

Sekilas, keputusan ini memang terlihat membebani dunia usaha. Akan tetapi, jika dilihat lebih dalam, stabilitas nilai tukar yang dihasilkan justru memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi sebagian besar pelaku UMKM.

Kurs Lebih Menentukan daripada Bunga Kredit

Bagi banyak UMKM, persoalan terbesar bukanlah kenaikan bunga pinjaman, melainkan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Pelaku usaha di sektor makanan dan minuman, konveksi, furnitur, kerajinan, hingga industri kecil masih bergantung pada bahan baku, mesin, maupun komponen impor. Ketika rupiah melemah, harga seluruh kebutuhan tersebut otomatis meningkat. Biaya produksi melonjak, sementara harga jual tidak selalu bisa dinaikkan karena daya beli masyarakat terbatas.

Akibatnya, keuntungan menyusut dan ruang untuk mengembangkan usaha semakin sempit.

Sebaliknya, ketika rupiah menguat dan bergerak lebih stabil, pelaku usaha memperoleh kepastian dalam menghitung biaya produksi. Mereka dapat menyusun perencanaan usaha dengan lebih baik, menentukan harga jual secara lebih akurat, serta mengurangi risiko kerugian akibat gejolak kurs.

Bagi UMKM, kepastian sering kali jauh lebih berharga dibandingkan biaya modal yang sedikit lebih tinggi.

Dampak Nyata bagi Jawa Timur

Manfaat stabilitas rupiah terasa lebih besar di Jawa Timur, salah satu pusat aktivitas UMKM terbesar di Indonesia.

Ribuan pelaku usaha di provinsi ini bergerak pada industri makanan olahan, alas kaki, konveksi, furnitur, serta kerajinan yang masih menggunakan bahan baku atau komponen dari luar negeri. Ketika rupiah melemah, biaya produksi ikut meningkat dan daya saing produk menurun.

Sebaliknya, penguatan rupiah memberi ruang bagi UMKM untuk menekan biaya, menjaga harga tetap kompetitif, sekaligus memperluas peluang di pasar ekspor.

Sebagai salah satu motor industri pengolahan nasional, stabilitas nilai tukar menjadi modal penting bagi Jawa Timur untuk mempertahankan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Momentum Mengurangi Ketergantungan Impor

Gejolak nilai tukar dalam beberapa tahun terakhir juga menyampaikan pesan penting bahwa UMKM tidak bisa selamanya bergantung pada bahan baku impor.

Kondisi ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat rantai pasok domestik. Pelaku usaha perlu mulai mencari alternatif bahan baku lokal, membangun kemitraan dengan produsen dalam negeri, serta meningkatkan inovasi agar mampu menghasilkan produk yang tetap berkualitas dengan kandungan lokal yang lebih besar.

Strategi tersebut bukan hanya mengurangi risiko akibat fluktuasi kurs, tetapi juga meningkatkan daya saing usaha dalam jangka panjang.

Tidak Semua UMKM Terdampak Kenaikan Bunga

Kekhawatiran mengenai meningkatnya biaya pinjaman juga perlu ditempatkan secara proporsional.

Sebagian besar UMKM produktif saat ini memperoleh akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang bunganya masih disubsidi pemerintah. Dengan skema tersebut, dampak langsung kenaikan BI-Rate terhadap biaya pembiayaan relatif terbatas dibandingkan perusahaan besar yang bergantung pada kredit komersial.

Artinya, manfaat yang diperoleh dari stabilitas makroekonomi berpotensi lebih besar dibandingkan tambahan biaya pinjaman yang harus ditanggung sebagian pelaku usaha.

Inflasi Terkendali Menjaga Pasar UMKM

Tujuan lain dari kenaikan BI-Rate adalah menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran.

Inflasi yang rendah berarti harga kebutuhan pokok lebih terkendali sehingga daya beli masyarakat dapat dipertahankan. Hal ini sangat penting karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama perekonomian Indonesia.

Ketika masyarakat tetap memiliki kemampuan berbelanja, pasar bagi jutaan UMKM juga tetap terjaga. Dengan kata lain, stabilitas harga bukan hanya menguntungkan konsumen, tetapi juga memberikan kepastian permintaan bagi pelaku usaha.

Stabilitas Adalah Modal Terbesar

Pada akhirnya, dunia usaha tidak hanya membutuhkan suku bunga yang rendah. Yang jauh lebih penting adalah kepastian dalam menjalankan bisnis.

Kepastian terhadap nilai tukar, harga bahan baku, inflasi, serta daya beli masyarakat menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan usaha.

Dalam konteks itu, kebijakan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate hingga 5,75 persen dapat dipahami sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang masih tinggi.

Memang, kenaikan suku bunga terasa seperti pil pahit dalam jangka pendek. Namun bagi UMKM yang mampu beradaptasi melalui efisiensi, digitalisasi, inovasi, dan diversifikasi pasar, manfaat dari rupiah yang lebih kuat dan inflasi yang terkendali akan jauh lebih besar daripada tambahan biaya pembiayaan yang muncul.

Pengalaman sepanjang Juni 2026 menunjukkan bahwa stabilitas makroekonomi tetap menjadi prasyarat utama agar UMKM dapat tumbuh secara berkelanjutan. Bagi Jawa Timur sebagai salah satu pusat UMKM nasional, penguatan rupiah bukan sekadar kabar baik bagi pasar keuangan, melainkan fondasi penting untuk meningkatkan daya saing, memperluas lapangan kerja, dan mendorong ekonomi daerah tumbuh lebih kuat di masa depan. (***/rdh)

 

Editor : Muhammad Ridhuan
#suku bungan acuan #bank indonesia #bi rate #ekonomi global #umkm