Self-Diagnosis dari Media Sosial: Ketika TikTok Menjadi ‘Dokter’ Baru Generasi Muda

Redaksi KP • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 18:11 WIB

 

Prima Trisna Aji
Prima Trisna Aji

Oleh:

Prima Trisna Aji

Dosen Program Studi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

SEORANG mahasiswa datang ke klinik dengan keyakinan yang nyaris tak tergoyahkan. Ia menyebut dirinya mengalami gangguan kecemasan, bahkan menunjukkan gejala yang menurutnya identik dengan ADHD. Ketika ditanya sejak kapan ia merasakan hal itu, jawabannya sederhana: sejak sering menonton video edukasi kesehatan mental di media sosial. Ia tidak pernah menjalani pemeriksaan klinis, tetapi merasa sudah “cukup tahu” tentang kondisi dirinya.

Fenomena ini kian jamak. Di tengah derasnya arus informasi digital, media sosial, terutama TikTok, berubah menjadi ruang konsultasi alternatif bagi generasi muda. Video singkat yang menjelaskan gejala penyakit, gangguan mental, hingga tips kesehatan dengan cepat menarik perhatian. Dalam hitungan detik, seseorang bisa merasa “terwakili” oleh daftar gejala yang ditampilkan, lalu menarik kesimpulan: ini saya.

Di satu sisi, kehadiran konten kesehatan di media sosial patut diapresiasi. Ia membuka akses informasi yang sebelumnya terbatas, meningkatkan kesadaran, dan mendorong orang untuk lebih peduli terhadap kondisi tubuh dan mentalnya. Namun, di sisi lain, kemudahan ini membawa risiko besar: lahirnya praktik self-diagnosis yang tidak berbasis evaluasi medis yang tepat.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menekankan bahwa diagnosis kesehatan, terutama kesehatan mental, memerlukan proses komprehensif, melibatkan wawancara klinis, observasi, serta alat ukur yang tervalidasi. Diagnosis bukan sekadar mencocokkan gejala dari daftar yang beredar di internet. Tanpa proses tersebut, kesimpulan yang diambil berisiko bias, bahkan keliru.

Masalahnya, algoritma media sosial bekerja dengan cara yang memperkuat keyakinan pengguna. Ketika seseorang mulai tertarik pada satu jenis konten kesehatan, platform akan terus menyajikan video serupa. Lama-kelamaan, individu tersebut terjebak dalam “ruang gema” yang membuatnya semakin yakin bahwa ia mengalami kondisi tertentu. Apa yang awalnya sekadar rasa penasaran berubah menjadi keyakinan yang sulit digoyahkan.

Dampak self-diagnosis tidak bisa dianggap sepele. Pertama, ia dapat menimbulkan kecemasan berlebih. Seseorang yang sebenarnya tidak memiliki gangguan serius bisa merasa dirinya “sakit”, sehingga mengalami stres yang justru memperburuk kondisi psikologisnya. Kedua, self-diagnosis dapat menghambat individu untuk mencari bantuan profesional. Merasa sudah mengetahui kondisi diri, sebagian orang memilih mengatasi sendiri—bahkan dengan cara yang tidak tepat.

Lebih jauh lagi, fenomena ini berpotensi mengaburkan batas antara edukasi dan misinformasi. Tidak semua konten kesehatan di media sosial dibuat oleh tenaga profesional. Banyak di antaranya bersifat simplifikasi berlebihan, bahkan tidak jarang mengandung kesalahan interpretasi. Dalam konteks kesehatan mental, penyederhanaan ini sangat berbahaya karena setiap individu memiliki kompleksitas yang berbeda.

Di sinilah dilema era digital muncul. Generasi muda memiliki akses informasi yang luas, tetapi tidak selalu dibekali kemampuan untuk memfilter dan memverifikasi informasi tersebut. Literasi kesehatan digital menjadi kunci yang belum sepenuhnya dimiliki. Tanpa kemampuan ini, informasi yang seharusnya memberdayakan justru dapat menyesatkan.

Solusi terhadap fenomena ini tidak bisa hanya dibebankan pada individu. Perlu ada upaya kolektif dari berbagai pihak.

Pertama, peningkatan literasi kesehatan digital harus menjadi agenda penting, baik di lingkungan pendidikan maupun masyarakat luas. Generasi muda perlu diajarkan untuk memahami perbedaan antara informasi umum dan diagnosis medis.

Kedua, tenaga kesehatan perlu lebih aktif hadir di ruang digital. Konten edukasi yang akurat, berbasis bukti, dan disampaikan dengan cara yang menarik dapat menjadi penyeimbang terhadap arus informasi yang tidak terverifikasi. Kehadiran profesional di media sosial bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan.

Ketiga, platform media sosial memiliki tanggung jawab etis untuk mengelola konten kesehatan. Algoritma yang lebih sensitif terhadap isu kesehatan serta mekanisme verifikasi konten dapat membantu meminimalkan penyebaran informasi yang menyesatkan.

Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa media sosial bukanlah pengganti tenaga kesehatan. Ia bisa menjadi pintu masuk untuk mengenali gejala, tetapi bukan tempat untuk menetapkan diagnosis. Ada jarak yang tidak bisa dijembatani oleh video berdurasi satu menit: kompleksitas manusia.

Self-diagnosis dari media sosial adalah cermin dari kebutuhan manusia untuk memahami dirinya. Namun, tanpa bimbingan yang tepat, cermin itu bisa memantulkan bayangan yang keliru. Di tengah kemudahan akses informasi, kebijaksanaan dalam menggunakannya menjadi hal yang jauh lebih penting.

TikTok boleh saja menjadi sumber informasi, tetapi ia tidak pernah dan tidak akan pernah menggantikan peran dokter. (***/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
Organisasi Kesehatan Dunia ADHD video edukasi kesehatan Self-diagnosis tik tok