Menjaga Nalar Mahasiswa di Era AI

Muhammad Aufal Fresky • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 18:47 WIB
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi

KALTIMPOST.ID, Hidup di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memberikan peluang dan sekaligus tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Tugas-tugas kampus, seperti halnya pembuatan makalah hingga artikel ilmiah, seolah bukan hal yang terlalu sukar dikerjakan mengingat AI mampu menjadi alat bantu. Lewat prompt atau instruksi yang jitu dan terarah, AI bisa membantu mengerjakannya. Mulai dari menawarkan pilihan ide-ide lewat brainstorming, pembuatan outline, hingga editing. Terkait hal itu, penggunaan perangkat AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, atau Claude saat ini bukan lagi barang aneh, melainkan sudah menjadi andalan utama mahasiswa ketika bergelut dengan tugas-tugasnya.

Hanya saja, kemudahan yang ditawarkan mesin pintar ini ternyata pelan-pelan membuat mahasiswa terlena. Banyak yang akhirnya menjadikan AI sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas tanpa perlu susah payah membaca buku atau berpikir keras. Ketergantungan pada kecerdasan buatan berisiko mencetak pemikir instan yang kehilangan daya kritis. Otak menjadi tidak terlatih dan semakin dangkal pemikirannya. Sebab, AI selalu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mahasiswa. Sebab, AI mampu menjadi problem solver lewat prompt yang diketikkan oleh kita.

Sejalan dengan itu, Nugroho et al. (2023) mengungkapkan terjadinya perubahan kebiasaan belajar yang memotong jalan atau bypass kognitif. Dalam kondisi normal, ketika mahasiswa kesulitan memahami teori yang rumit, mereka akan mengalami fase bingung. Fase bingung ini sebenarnya bagus karena memaksa otak untuk berpikir lebih keras mencari benang merah. Masalahnya, algoritma AI dirancang untuk selalu memberikan jawaban yang rapi, meyakinkan, dan seolah-olah tanpa cacat. Alhasil, banyak mahasiswa di berbagai kampus dilaporkan mulai terbiasa menelan mentah-mentah jawaban AI tanpa merasa perlu melakukan verifikasi ulang ke jurnal aslinya.

Baca Juga: Ujian Legitimasi Dekarbonisasi di Tengah Bencana Karhutla

Adalah suatu hal yang ironi ketika makalah yang dihasilkan oleh AI dengan tata bahasa dan kepenulisan yang sangat rapi justru berbanding terbalik dengan pemahaman mahasiswa tersebut yang begitu rendah. Sebab, dari awal hanya menggantungkan semua proses pembuatan makalah kepada AI. Menyuruh AI berpikir dan merampungkan semuanya dari A ke Z, dari pembuatan judul hingga daftar pustaka, misalnya. Simsalabim, abrakadabra, jadilah makalah tersebut tanpa harus berusaha payah. Tanpa harus dibaca dan dicek ulang, tanpa melalui proses verifikasi, tanpa merujuk pada literatur primer, tanpa membandingkan dengan rujukan ilmiah lainnya, tanpa dikritisi terlebih dahulu, sebagian mahasiswa menerima saja makalah pemberian AI tersebut. Sekali memasukkan prompt, jadilah makalah, lalu di-copy-paste, dan tinggal dikasih nama, kemudian diklaim hasil karyanya. Padahal, AI yang menuliskannya semua.

Mengenai hal itu, Putra et al. (2022) berpandangan bahwa pemikir yang baik adalah mereka yang selalu curiga, selalu ingin mencari referensi tandingan, dan tidak gampang percaya pada satu sumber jawaban. Sayangnya, sikap skeptis ini mulai luntur. Mahasiswa sekarang lebih gampang percaya pada ketikan mesin ketimbang membaca buku asli dari ahlinya. Mereka perlahan berubah fungsi dari pencipta gagasan yang mandiri menjadi sekadar tukang edit yang merapikan paragraf buatan mesin supaya lolos alat pendeteksi plagiasi.

Mewaspadai Efek Candu dan Pendangkalan Pikiran

Kemampuan berpikir logis, kreatif, sistematis, dan konstruktif menjadi semakin menurun secara perlahan apabila penggunaan AI semakin tanpa batas, arah, dan kontrol. Alih-alih menjadikan AI sebagai partner belajar, yang terjadi sebaliknya, justru membiarkan AI mengambil alih sepenuhnya seluruh tugas dan pekerjaan mereka. Ketergantungan yang begitu akut terhadap kecerdasan buatan tidak hanya mendangkalkan pikiran. Lebih dari itu semua, mahasiswa cenderung akan lebih pragmatis, maunya serba instan. Lebih mengutamakan hasil daripada proses. Hal itu, sekali lagi, akan menghambat proses pengembangan intelektual mahasiswa sebab akan menjadi malas untuk membaca banyak literatur dan malas memverifikasi semua informasi, data, teori, dan semacamnya yang diberikan oleh AI. Rasanya akan menjadi sulit dilakukan ketika sedari awal beranggapan serta menjadikan AI bukan sebagai mitra berpikir, melainkan sebagai pengganti dalam proses berpikir.

Baca Juga: Digitalisasi SPBU Jadi Opsi Hentikan Kongkalikong Pembelian Pertalite

Pertanyaan mendasar yang kemudian menyeruak adalah ketika AI semakin mampu menyajikan jawaban, apakah mahasiswa hari ini masih bersungguh-sungguh dalam menjalani proses belajar? Mungkin pertanyaan semacam itu akan dibalas pertanyaan pula oleh sebagian mahasiswa, yaitu: jika ada jalur cepat, kenapa harus yang lambat? Jika yang ada instan, kenapa harus memilih yang sukar?

Begitulah mungkin pertanyaan sanggahan yang diberikan oleh mahasiswa yang telah terlanjur “menikmati” atau bahkan kecanduan dalam menggunakan AI. Padahal, tanpa memiliki kemampuan memilah dan memilih mana informasi yang valid dan mana yang tidak; tanpa disertai skill menyaring segala data, fakta, dan teori, apakah mengacu pada rujukan yang kredibel atau tidak, tulisan yang dihasilkan oleh AI berpotensi mengandung hoaks dan plagiarisme. Dalam hal ini, otak mahasiswa mestinya diaktifkan untuk lebih kritis memakai AI. Termasuk dengan mempertanyakan segala hal yang diberikan oleh AI. Bukan hanya sekadar mengangguk-angguk dan mengamini begitu saja.

Dalam konteks tersebut, hemat saya, memang otak mahasiswa mestinya senantiasa dilatih menyusun argumen. Dilatih untuk memeriksa dan mempertanyakan argumen-argumen yang dihidangkan oleh AI. Karena menurut Wijaya dan Putri (2024), otak yang tidak pernah dilatih untuk menyusun argumen yang rumit, sel-sel saraf yang bertugas menyimpan memori jangka panjang jadi tidak bekerja optimal. Begitulah semestinya daya kritis mahasiswa ditumbuhkembangkan oleh mesin kecerdasan buatan. Sebab, mereka sejatinya adalah pengendalinya. Jangan biarkan AI mengambil alih semuanya dan kita menjadi penonton pasif yang menerima begitu saja. Sebab, jika demikian adanya, nalar tidak terasah dan pada akhirnya bisa saja semakin tumpul.

Lebih lanjut, di era AI sekarang, kemampuan mengajukan pertanyaan ini sangat dibutuhkan oleh mahasiswa. Seperti halnya: Dari manakah informasi ini berasal? Apakah sumbernya bisa diperiksa? Apakah sumbernya kredibel? Apakah ada konteks yang hilang dalam informasi tersebut? Apakah logis dan bisa dipertanggungjawabkan? Dan pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya bisa dilontarkan untuk “menguliti” habis-habisan segala yang diberikan AI. Apalagi jika dirasa ada yang aneh atau janggal, perlu ditelusuri hingga ke akar-akarnya.

Baca Juga: Jebakan Akses Finansial Cepat di Tengah Rendahnya Literasi Keuangan

Tidak hanya itu, mahasiswa dituntut untuk mewaspadai efek candu dan pendangkalan pikiran dari penggunaan AI yang kurang bijaksana. Bagaimanapun juga, AI adalah mitra atau partner kreatif dalam proses belajar dan menyelesaikan tugas-tugas akademik. Kendatipun AI mampu menawarkan jawaban atau kesimpulan dalam sekejap mata, mahasiswa mestinya tetap berupaya mencari dan menemukan sumber primernya. Meskipun AI mampu meringkas isi buku hingga jurnal ilmiah, mahasiswa mestinya tetap berikhtiar membaca secara mendalam lewat rujukan utamanya. Meskipun AI bisa mempermudah dan mempercepat proses pengerjaan tugas-tugas akademik, mahasiswa mestinya wajib memahami sendiri tugas-tugas yang telah disusun serta mengkritisinya. Bahkan, sebisa mungkin disusun ulang dengan bahasa sendiri untuk memperkuat pemahaman akan tugas yang dikerjakannya tersebut.

Dengan begitu, mahasiswa dalam mengerjakan tugas kuliahnya, jangan hanya bisanya bertanya kepada AI, menyalin, lalu mengumpulkan ke dosen. Melainkan mesti bisa membaca secara kritis, memahami dengan lebih mendalam, membandingkan dengan sumber lainnya, menganalisis dengan tajam, memverifikasi dan menarik kesimpulan berdasarkan pemahaman sendiri. Pada intinya, AI memang bisa menghasilkan jawaban, tapi bagaimanapun juga, mahasiswa harus menjadi penentu apakah jawaban tersebut benar, relevan, etis, dan layak dipercaya.

Baca Juga: Menakar Negosiasi Iran–Oman dan Dampaknya bagi Indonesia

Menutup catatan ini, selaku penulis, saya menyimpulkan bahwa salah satu tantangan terbesar mahasiswa di era AI yaitu bukan hanya pada bagaimana mengerjakan tugas-tugas kampus dengan cepat. Melainkan juga pada bagaimana mempertanyakan atau mengkritisi kembali jawaban tersebut. Terutama perihal ketepatan atau kebenaran data, informasi, dan rujukannya. Sehingga, ketika AI mempunyai kemampuan berpikir yang semakin cepat, mahasiswa justru dituntut untuk berpikir lebih mendalam, kritis, objektif, dan kreatif. Sehingga, nalar berpikir mahasiswa tetap terjaga. Alias tidak mudah diombang-ambingkan oleh mesin kecerdasan buatan. (*)

Editor : Almasrifah
era AI kritis kecerdasan buatan mahasiswa ai