KALTIMPOST.ID, PENAJAM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah ini dilakukan seiring prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut fenomena El Nino berpotensi melanda wilayah PPU pada periode semester II 2026, yakni Juni hingga September.
Selain menyambut Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) pada 26 April mendatang, BPBD PPU juga memperkuat berbagai upaya mitigasi dan koordinasi lintas sektor.
Baca Juga: CPNS PPU Berpotensi Ditunda, BKPSDM Fokus Bereskan Status PPPK Paruh Waktu
Kepala Pelaksana BPBD PPU, Nurlaila, menegaskan bahwa penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara sektoral, melainkan harus melalui kolaborasi seluruh pihak.
“Bencana tidak bisa ditangani sendiri. Sesuai tagline Bupati PPU, Mudyat Noor, kolaborasi adalah kunci di semua sektor. Kami memperkuat kembali kerja sama dengan seluruh stakeholder,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, langkah kesiapsiagaan saat ini difokuskan pada pengecekan peralatan vital agar siap digunakan ketika kondisi darurat terjadi. Selain itu, BPBD juga akan menggelar latihan bersama instansi teknis untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan koordinasi di lapangan.
Wilayah dengan lahan gambut menjadi prioritas utama dalam pemetaan potensi kebakaran. BPBD juga melakukan pembaruan data lapangan, termasuk kondisi sumber air dan perubahan fungsi lahan.
“Dulu masih hutan, sekarang sebagian sudah berubah menjadi perkebunan sawit dan tanaman lainnya,” jelasnya.
Baca Juga: PPU Genjot Perlindungan Anak di Dunia Digital, Libatkan Media hingga Forum Anak
Berdasarkan data historis, sejumlah titik rawan karhutla berada di Kecamatan Penajam, seperti Desa Giripurwa, Kelurahan Petung, Pinang Jatus, Labu Burok, hingga sebagian Gunung Steleng. Selain itu, Kecamatan Waru juga masuk dalam zona rawan, terutama pada area lahan gambut.
Sementara itu, di Kecamatan Sepaku yang didominasi tanah mineral, BPBD tetap melakukan sosialisasi kepada Masyarakat Peduli Api (MPA), Destana, hingga tingkat RT untuk mencegah praktik pembakaran lahan.
Ia menegaskan, risiko kebakaran pada lahan gambut sangat tinggi karena api dapat menyebar di bawah permukaan tanah, terutama saat cuaca panas ekstrem.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar,” tegasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi