KALTIMPOST.ID,PENAJAM - Desa Sebakung Jaya, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU) mendadak menjadi sorotan pada momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Desa ini dijuluki sebagai "Desa Miliarder" lantaran antusiasme warganya dalam beribadah kurban yang sangat tinggi. Tercatat, sebanyak 33 ekor sapi siap disembelih untuk dibagikan kepada masyarakat tahun ini.
Namun, di balik deretan angka tersebut, terselip satu kisah haru yang datang dari seorang jamaah Musala Miftahul Khoir Sebakung Jaya bernama Sholehudin. Pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai pedagang papeda keliling ini membuktikan bahwa niat ibadah tidak melulu soal kemapanan ekonomi, melainkan kekuatan iman.
Penyuluh Agama Islam setempat, Sajidin, S.Pd.I, mengungkapkan bahwa Sholehudin bukanlah sosok yang bergelimang harta. Kesehariannya penuh kesederhanaan, baik dari segi pakaian maupun tempat tinggal. Pendapatannya dari berjualan papeda pun tergolong minim, rata-rata hanya Rp 25.000 per hari jika dagangannya habis terjual.
"Bahkan terkadang beliau tidak ada pemasukan sama sekali saat anak sekolah libur. Namun, dengan niat kuat dan keikhlasan, beliau membuktikan mampu berpartisipasi dalam kurban tahun ini," ujar Sajidin, Jumat (15/5).
Meski awalnya memiliki keinginan luhur untuk berkurban satu sapi utuh, keterbatasan biaya membuat Sholehudin mengambil langkah realistis tanpa mengurangi nilai ibadahnya. Ia memutuskan ikut patungan kurban sepertujuh bagian dengan nilai Rp 2.500.000.
Sajidin menyebut, kisah Sholehudin adalah tamparan sekaligus renungan bagi masyarakat di tengah gaya hidup akhir zaman yang cenderung konsumtif.
Baca Juga: Kementrian Agama Ingatkan Penyuluh Agama: Ceramah Bisa Berujung Pidana, Ini Penyebabnya
"Banyak manusia rela menghabiskan uang jutaan dalam semalam untuk kesenangan duniawi atau hobi, namun terasa berat jika harus patungan kurban. Pak Sholehudin mengajarkan kita bahwa kurban adalah soal mengorbankan ego, hawa nafsu, dan kemalasan," tuturnya.
Kehadiran 33 ekor sapi di Desa Sebakung Jaya tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi simbol ketakwaan kolektif warga, mengikuti jejak kegigihan sosok seperti Sholehudin.
"Semoga ini menjadi motivasi bagi kita semua. Bahwa untuk berbuat baik di jalan Allah, yang paling utama adalah kemauan, bukan sekadar menunggu mampu," kata Sajidin.(*)
Editor : Dwi Puspitarini