Belum banyak yang mengenal country line dance di Indonesia. Namun, muncul sosok muda yang telah mengharumkan nama Kalimantan Timur bahkan Indonesia di kancah internasional lewat jenis olahraga seni.
ALIEF Faza Rizqi Adi Jaya (20), mahasiswa semester IV Teknik Informatika di Universitas Muhammadiya Kalimantan Timur (UMKT). Anak dari pasangan Suparno dan Indriani Kusuma.
Dia telah mencintai dunia tari sejak usianya masih 10 tahun, dan bergabung dalam Universal Line Dance (ULD) serta KORMI Kalimantan Timur sejak 2013. Ajang pertamanya adalah Komnas 2013 di Jogjakarta, di mana ia langsung mencetak prestasi Juara I kategori grup.
Namun, minat khususnya terhadap country line dance baru dimulai pada 2022. Genre yang unik itu kemudian menjadi jalan prestasinya menembus level dunia. “Awalnya belajar secara otodidak. Baru setelah ikut pelatihan dan kompetisi saya sadar bahwa bisa berkembang di genre itu,” kata Alief saat diwawancarai di sela latihan.
Langkah besarnya dimulai di Bali pada medio 2023 lalu. Dia membawa pulang dua emas (kategori grup dan couple), satu perak (kategori solo).
Setelah itu, Alief memutuskan fokus di kategori solo, terutama di bawah Federasi United Country Western Dance Council (UCWDC). Deretan prestasinya makin mencengangkan. Di Jakarta, November 2023, meraih dua emas (solo) dan satu emas (grup).
Di Bali, Mei 2024, raihan dua emas, 1 emas (couple). Di Korea, raihan dua emas (solo). Malaysia, dia menyumbangkan satu emas (solo), 1 emas (couple). Di Orlando, AS, pada 29 Desember 2024–5 Januari 2025 UCWDC World Championship, dia mampu meraih satu emas kategori Male Superstars
“Semua kompetisi itu bisa saya ikuti berkat dukungan penuh dari KORMI Kalimantan Timur, termasuk biaya dan fasilitas,” ungkapnya.
Perjalanan itu tidak semudah gerakan tari yang terlihat luwes. Tantangan besar adalah minimnya informasi dan sumber daya pelatih di Indonesia, khususnya di genre country line dance. Alief harus giat belajar lewat pelatihan, workshop, hingga pengalaman langsung di panggung internasional.
Kini, Alief mengikuti program fundamental class untuk mendapatkan sertifikasi juri dan pelatih, dan sudah berada di level 3 dari total 6 level. Tahun ini, dia juga berencana magang sebagai juri profesional di ajang internasional.
Motivasinya sederhana tapi punya tekad kuat. Menjadikan kegiatan positif sebagai jalan prestasi. "Dengan menari, saya bisa mengembangkan diri, berkarya, dan sekaligus menginspirasi," katanya.
Dukungan penuh orang tuanya, menjadi faktor penting. “Mulai pemilihan kostum, latihan, hingga keberangkatan lomba, mereka selalu hadir dan mendukung secara terbuka,” ungkap Alief penuh syukur.
Ke depan, Alief menargetkan mempertahankan gelar juara dunia di kategori World Champion Male Superstars, sekaligus memperluas eksistensi line dance di Indonesia, khususnya Kalimantan Timur.
“Saya ingin country line dance lebih dikenal luas, dan semoga kehadiran saya bisa menjadi inspirasi bagi anak muda lainnya untuk tidak ragu menekuni hobi yang positif,” harapnya.
Editor : Dwi Restu A