Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ini Kado Manis di Momen Hari Bhayangkara untuk Polresta Samarinda dari MURI, Upaya Penyembuhan yang Terus Dijalankan

Eko Pralistio • Selasa, 1 Juli 2025 | 17:23 WIB
UNTUK MASYARAKAT: Perayaan Hari Bhayangkara ke-79 terasa istimewa bagi jajaran Polresta Samarinda. (RAMA SIHOTANG/KP)
UNTUK MASYARAKAT: Perayaan Hari Bhayangkara ke-79 terasa istimewa bagi jajaran Polresta Samarinda. (RAMA SIHOTANG/KP)

Hari jadi ke-79 Bhayangkara terasa istimewa bagi jajaran Polresta Samarinda di tahun ini. Di tengah peringatan penuh khidmat, Polresta Samarinda memperoleh penghargaan yang sangat istimewa.

MENDAPAT penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas kiprahnya memulihkan trauma anak korban perundungan dan kekerasan di lokasi terbanyak.

Penghargaan itu diberikan kepada Polresta Samarinda karena dinilai berhasil melakukan pemulihan psikologis anak di lokasi terbanyak. Sebuah penghargaan yang tidak biasa, namun penuh makna.

“Kami bersyukur dan bangga. Di usia ke-79 tahun, kami berharap Polri terus eksis, terus berkiprah untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat, sesuai dengan tema tahun ini, yaitu Polri untuk Masyarakat," jelas Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar, Selasa (1/7).

Bukan tanpa alasan, Polresta Samarinda mendapat pengakuan nasional. Di balik penghargaan tersebut, ada kerja kemanusiaan yang dilakukan secara senyap oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta.

“Angka kekerasan terhadap anak, baik perundungan maupun kekerasan seksual, cukup tinggi di Samarinda. Maka saya perintahkan Unit PPA untuk tak hanya menangani secara hukum, tapi juga memberi ketenangan batin bagi anak-anak korban,” sambungnya.

Program trauma healing itu dijalankan secara rutin. Sedikitnya ada 35 anak yang telah mendapat pendampingan. Tak sekadar hiburan, para korban diberikan ruang untuk mengekspresikan diri, sembari dibangun kembali kepercayaan dirinya agar tetap bisa bermimpi dan menggapai masa depan.

“Alhamdulillah, hasilnya positif. Anggota kami turun langsung ke rumah, ke sekolah, terus dilakukan hingga anak-anak ini bisa kembali ceria. Itu yang dinilai MURI sebagai bentuk kepedulian,” tuturnya.

Hendri menyadari bahwa memulihkan luka psikologis anak adalah langkah penting, tapi mencegahnya jauh lebih utama. Karena itu pendekatan edukatif dan persuasif terus digencarkan ke sekolah-sekolah.

“Saya sudah instruksikan jajaran Binmas, setiap Senin saat upacara bendera, ada sesi penyuluhan ke siswa. Kami tekankan kepada anak-anak agar jangan mudah tergiur iming-iming, harus menjaga harga diri, dan tahu cara melindungi diri,” tegas perwira menengah Polri berpangkat melati tiga.

Selain ke pelajar, lanjut dia, pesan pencegahan juga disampaikan kepada para orang tua. Melalui siaran media, talkshow, dan berbagai forum warga, polisi mengajak keluarga untuk lebih peka terhadap aktivitas anak.

“Kalau sudah malam dan anak belum pulang, jangan dianggap sepele. Orang tua harus mencari tahu. Jangan biarkan mereka berkeliaran di tempat yang tidak jelas,” tambahnya.

Di sela-sela proses resmi dan pemberian penghargaan, sebuah simulasi penanganan aksi premanisme oleh petugas kepolisian diperagakan. Adegan berlangsung dramatis, namun tetap terkontrol, menggambarkan kesiapsiagaan aparat dalam merespons laporan masyarakat secara cepat melalui layanan 110.

Dalam simulasi tersebut, diceritakan dua warga yang digambarkan sebagai tokoh masyarakat kaya sedang berbincang santai bersama rekannya. Tiba-tiba, tiga orang preman datang menghampiri mereka dan mulai meminta sejumlah barang dengan nada memaksa.

Karena kedua warga itu menolak memberikan permintaan para preman, ketegangan meningkat. Cekcok berubah menjadi adu fisik. Adu fisik tak terelakkan.

Di tengah kekacauan itu, salah seorang warga yang menyaksikan kejadian langsung merasa panik dan segera menghubungi layanan darurat kepolisian di nomor 110.

Hanya berselang beberapa menit, Sat Samapta Polresta Samarinda tiba di lokasi, mengepung para pelaku, dan melumpuhkan mereka tanpa perlawanan. Penonton yang memadati Gelora Kadrie Oening riuh tepuk tangan saat "preman" diamankan. 

Editor : Dwi Restu A
#muri #kekerasan anak #Polresta Samarinda