Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal, mengingatkan bahwa hoaks bukan fenomena baru, tetapi kini menyebar jauh lebih cepat karena kemajuan teknologi.
“Hoaks sudah ada sejak dulu, hanya saja kini penyebarannya tak butuh waktu lama. Sekali klik, informasi bisa menjangkau dunia,” ujarnya.
Faisal menegaskan, dampak kabar palsu bisa berujung serius—mulai dari perpecahan sosial hingga konflik antarnegara. Karena itu, ia menilai literasi digital bukan hanya soal bisa menggunakan gawai, tetapi kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan menahan diri untuk tidak menyebarkan kabar tanpa dasar.
“Jangan jadi bagian dari masalah. Jadilah bagian dari solusi—generasi yang menyebarkan kebenaran dan kebaikan di dunia maya,” pesan Faisal.
Sesi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para siswa. Para peserta diajak berdiskusi soal cara mengenali hoaks dan menghindari jebakan konten negatif.
Kepala SMAN 5 Samarinda, Budiono, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia berpesan agar siswa memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar.
“Anggap setiap orang sebagai guru, setiap tempat sebagai kelas, dan setiap waktu sebagai waktu belajar. Gunakan ponsel dengan bijak, karena alat itu bisa menolong atau menjerumuskan tergantung penggunanya,” katanya.
Editor : Uways Alqadrie