KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Aktivitas perizinan dan investasi di Samarinda sepanjang 2025 menunjukkan geliat yang kuat. Rekapitulasi data Online Single Submission (OSS) selama Triwulan I hingga IV 2025 mencatat ribuan izin usaha diterbitkan, dengan nilai rencana investasi menembus Rp 13,8 triliun.
Berdasarkan akumulasi data OSS, sepanjang 2025 tercatat lebih dari 10 ribu proyek usaha yang masuk dan diproses di Samarinda. Total rencana nilai investasi dari seluruh proyek tersebut mencapai sekitar Rp 13,84 triliun, mencerminkan tingginya aktivitas ekonomi yang bergerak dari berbagai sektor.
Dari sisi perizinan, ribuan izin usaha diterbitkan selama satu tahun penuh. Mayoritas izin berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN), sementara kontribusi penanaman modal asing (PMA) masih relatif kecil. Kondisi ini menunjukkan bahwa penggerak utama investasi di Samarinda masih bertumpu pada kekuatan ekonomi lokal.
Jika dilihat dari klasifikasi pelaku usaha, data OSS menunjukkan dominasi yang sangat kuat dari sektor usaha mikro dan kecil (UMK). Sepanjang 2025, sekitar 99,5-99,6 persen pemohon izin berasal dari kategori UMK. Selain itu, lebih dari 80 persen NIB diterbitkan untuk pemohon perorangan, menandakan besarnya peran pelaku usaha mandiri dalam perekonomian kota.
Plt Kepala DPMPTSP Samarinda, Riduansah, menilai tingginya jumlah izin dan proyek menjadi bukti bahwa sistem OSS semakin diterima masyarakat. Legalitas usaha kini tidak lagi dianggap rumit, sehingga pelaku usaha terdorong masuk ke sistem formal. “Masyarakat sudah menyadari pentingnya legalitas usaha. Prosesnya pun dimudahkan,” terangnya.
Dia menjelaskan, data OSS tidak hanya mencerminkan jumlah izin, tetapi juga menjadi peta ekonomi daerah. Dengan basis data yang kuat, pemerintah dapat mengetahui sektor dominan, sebaran usaha per kecamatan, hingga potensi investasi yang perlu dikembangkan.
Selain itu, akumulasi data perizinan juga menunjukkan bahwa aktivitas usaha di Samarinda tidak terkonsentrasi di satu wilayah saja. Permohonan izin tersebar di berbagai kecamatan, menandakan geliat ekonomi yang relatif merata. (*)
Editor : Sukri Sikki