KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Megah dari luar, modern di dalam, sayangnya wajah baru Pasar Pagi Samarinda yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp 468,5 miliar masih menghadapi pekerjaan rumah besar.
Aktivitas jual beli belum seramai yang diharapkan. Sejumlah pedagang mengeluhkan minimnya pengunjung yang datang berbelanja ke pasar tradisional terbesar di Kota Tepian itu.
Pemkot mulai mengevaluasi sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab sepinya pasar, mulai sistem parkir hingga tingkat keterisian lapak pedagang.
Baca Juga: Perlinsos Digital Balikpapan 2026 Diluncurkan, Warga Kini Bisa Daftar Mandiri
Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda Marnabas Patiroy mengatakan, evaluasi terus dilakukan untuk mencari solusi agar aktivitas perdagangan di Pasar Pagi kembali bergairah.
"Ini sedang kami evaluasi terus. Salah satunya sistem parkirnya juga akan kami evaluasi. Karena sekarang menggunakan parkir progresif. Kemudian masih ada sebagian pedagang yang belum masuk dan menempati lapaknya," ujarnya, Senin (1/6).
Menurutnya, kondisi sepi tidak hanya terjadi di Pasar Pagi. Hampir seluruh pasar tradisional di Samarinda mengalami situasi serupa akibat melemahnya daya beli masyarakat dan semakin ketatnya persaingan dengan platform belanja daring.
Baca Juga: Hore! Gaji ke-13 Pensiunan Juni 2026 Cair Full 100 Persen, Ini Penyebab Jika Belum Masuk Rekening
"Pasar Segiri mengeluh, Pasar Sungai Dama juga, Pasar Merdeka juga sama. Jadi memang ada beberapa faktor. Salah satunya daya beli masyarakat yang menurun dan persaingan dengan pasar online yang sekarang sangat masif," jelasnya.
Marnabas menilai perkembangan perdagangan digital menjadi tantangan yang harus dihadapi para pedagang pasar tradisional. Karena itu, pemerintah tidak hanya fokus pada penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga mendorong peningkatan kemampuan pedagang dalam menarik minat pembeli.
Menurutnya, pelaku usaha harus mampu beradaptasi dengan perubahan pola belanja masyarakat yang kini semakin mengutamakan kemudahan dan kenyamanan.
"Dalam dunia bisnis kita tidak bisa hanya mengeluh. Yang harus dicari adalah bagaimana caranya supaya pembeli tertarik datang. Kalau pihak lain bisa menarik konsumen, kenapa kita tidak bisa," tegasnya.
Instansi terkait akan terus memberikan edukasi dan pendampingan kepada pedagang agar mampu meningkatkan daya saing, baik dari sisi pelayanan, penataan produk, maupun strategi pemasaran. "Bagaimana pasar tradisional ini kembali hidup dan ramai. Pemerintah harus hadir untuk membantu, tetapi pedagang juga perlu berinovasi agar bisa bersaing dengan perkembangan zaman," pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A