KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda terus menjadi perhatian di tengah kondisi cuaca kering. Hingga Senin (7/9) sore, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mencatat 152 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai 275,21 hektare.
Baca Juga: Karhutla Pampang Bakar 7.500 Meter Persegi, Api Padam dalam Empat Jam
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, karhutla tersebar di sejumlah wilayah. Frekuensi kejadian tertinggi tercatat di Bantuas sebanyak 16 kali, disusul Simpang Pasir, Pulau Atas dan Makroman.
"Sampai dengan sore ini berdasarkan data yang dihimpun oleh Pusdalops BPBD Kota Samarinda itu total kejadian karhutla di Kota Samarinda 152 kejadian dan dengan total luasan 275,21 hektare," ujarnya, Senin (7/9).
Baca Juga: Wali Kota Minta Dana Pro-RT Tidak Dialokasikan untuk Pembangunan Kandang Ayam di Perkotaan
Menurutnya, Samarinda Utara dan Sambutan juga menjadi wilayah yang cukup sering terjadi karhutla. Makroman dan Pulau Atas turut menjadi perhatian karena tingginya frekuensi kejadian.
Kondisi tersebut mendorong BPBD memperkuat upaya pencegahan bersama pemerintah di tingkat RT hingga kelurahan. Edukasi kepada masyarakat dinilai penting untuk mencegah kebakaran lahan kembali terjadi.
"Dari awal kita Pak Wali Kota Samarinda sudah menyampaikan peran penting daripada ketua RT, lurah dan camat untuk melakukan upaya-upaya edukasi, penyampaian baik di sekolah, di tempat ibadah, dimanapun supaya ini tidak dilakukan lagi atau minimal ikut mencegah kebakaran lahan," jelasnya.
Baca Juga: Dayak Basap Karangan Jatuhkan Sanksi Adat kepada Pembalak Liar di Kawasan Hutan
Di sisi lain, memburuknya kualitas udara akibat asap karhutla juga menjadi perhatian. BPBD berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Diskes) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk melihat dampak kebakaran terhadap kesehatan masyarakat, khususnya potensi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Suwarso mengatakan, BPBD telah menyiapkan strategi pencegahan di wilayah dengan kualitas udara yang kurang baik, terutama untuk mengantisipasi dampaknya terhadap peningkatan ISPA.
"Dengan Dinas Kesehatan ini berkaitan dengan dampak kebakaran terhadap meningkatnya ISPA. Kita sudah menyusun strategi untuk melakukan upaya pencegahan penyebaran ISPA melalui wilayah-wilayah yang kualitas udaranya tidak baik," katanya.
Baca Juga: Sembilan IPA Tirta Kencana Kurangi Operasional akibat Intrusi Air Laut
Ia menyebut, kualitas udara pada pagi hari masih tergolong sedang, tetapi memburuk pada siang hingga sore hari. Karena itu, kelompok rentan, termasuk anak sekolah, diminta menggunakan masker saat beraktivitas pada jam tersebut.
"Kalau sekolah pagi rata-rata kualitas udara kita masih sedang, cuma di siang hari sampai sore itu tidak baik. Anak sekolah atau kelompok rentan sekitar jam 1 siang sampai sore kalau harus melaksanakan sekolah berarti harus pakai masker, tetap sekolah tapi pakai masker," pungkasnya.(*)
Editor : Sukri Sikki