KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Samarinda melonjak tajam seiring memburuknya kualitas udara akibat paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda mencatat sebanyak 8.609 kasus ISPA terjadi hanya dalam rentang waktu dua pekan pertama pada September 2026. Angka tersebut kian mendekati akumulasi bulanan sebelumnya, yakni 9.994 kasus pada Juni, 10.011 kasus pada Juli, dan 12.176 kasus sepanjang Agustus.
Kondisi kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino membuat titik api karhutla marak bermunculan. Dampaknya, partikel debu dan asap pekat menyelimuti wilayah Kota Tepian hingga menurunkan kualitas udara ke level membahayakan bagi kesehatan saluran pernapasan warga.
Baca Juga: Isu Nusron Wahid Mundur dari Menteri ATR/BPN Dibantah, Kementerian Tetap Berjalan
Kepala Diskes Samarinda Ismed Kusasih mengungkapkan, tren lonjakan kasus ISPA pada bulan ini menunjukkan kurva peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
"Kalau kemarin peningkatan kasus pada Agustus terhadap Juli dan Juni itu sekitar 22 persen, sekarang ini terus meningkat di atas hampir 30 persen," ujarnya, Kamis (17/9).
Ia menjelaskan, pemantauan kualitas udara terus dilakukan bersama BMKG dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda. Hasil pengukuran menunjukkan sebaran kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Selain memantau kondisi luar ruang, Diskes Samarinda turut mengerahkan tim kesehatan lingkungan di 26 puskesmas se-Samarinda. Pengukuran partikel udara menggunakan alat particle counter membuktikan paparan polusi telah menembus ruangan tertutup.
Baca Juga: Kesiagaan Karhutla Kutai Barat, 16 Kecamatan Kini Punya Armada Pemadam Sendiri
"Tim kesling di 26 puskesmas menggunakan particle counter untuk menilai kualitas udara dalam ruangan. Hampir di semua puskesmas rata-rata kualitas udara, baik PM 2,5 maupun PM 10, sudah berada di atas normal. Ini tanda-tanda yang sangat tidak baik bagi kesehatan," jelasnya.
Menyikapi situasi darurat kabut asap tersebut, Pemerintah Kota Samarinda telah menerbitkan imbauan pembatasan aktivitas luar ruangan bagi masyarakat. Anak-anak sekolah juga diarahkan beralih ke sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring guna menekan risiko penularan penyakit pernapasan.
"Kami sudah menganjurkan imbauan mengurangi aktivitas di luar, termasuk untuk anak-anak sekolah daring atau PJJ. Kami harapkan peningkatannya tidak makin signifikan karena langkah ini cara konkret mengurangi angka kesakitan," tambahnya.
Mengenai kesiapan fasilitas layanan kesehatan, Ismed menegaskan seluruh puskesmas dan rumah sakit di Samarinda siap menghadapi potensi lonjakan pasien. Ketersediaan tabung oksigen medis, obat-obatan esensial, hingga Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) dipastikan mencukupi kebutuhan penanganan darurat.
"Kesiapan pengobatan dan peralatan alat kesehatan untuk mengantisipasi ini insyaallah siap. Setiap hari kami juga berkoordinasi intensif melalui grup siaga bersama Kementerian Kesehatan di sepuluh kabupaten dan kota se-Kaltim, mulai dari pemetaan kebutuhan masker hingga obat-obatan," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo